Lilis Surjani

oleh: Gentry Amalo

Hujan yang turun sejak sore tadi baru saja usai. Sesaat saya melirik layar telepon genggam, hhmmm… ternyata sudah menunjukan pukul 21.30 wib,.. sudah malam rupanya. Udara dingin yang dibawa hujan petang tadi, masih terasa menusuk hingga sumsum tulang.

Saya pun memeriksa lemari dapur, karena mungkin saja masih ada sisa buka puasa tadi yang bisa mengganjal lambung yang mulai keroncongan karena dingin. Sayang makanan yang saya cari tinggal sejumput saja. Sedikit malas, saya pun beranjak keluar rumah. Otak pun diputar sambil mencari alternatif lokasi penjual makanan kaki lima di pelosok kampung yang masih buka pada malam ini.

Melawan dingin, jalanan kampung pun saya susuri. Kaki pun saya langkahkan langsung menuju pojok kampung yang tempat beberapa penjual makanan kaki lima mangkal. Ah.. betapa beruntungnya, ternyata warung penjual mie ayam dan bakso masih buka. Langsung saja saya memesan semangkuk bakso, karena mie ayam yang jadi salahsatu makanan favorit saya telah habis.

Sambil menunggu, saya duduk di kursi panjang yang berhadap-hadapan. Selintas terlihat koran pagi tadi. Langsung saja saya ambil dan baca. Halaman demi halaman saya buka dan selintas tidak ada yang menarik. Di halaman sebelas harian lokal itu, mata pun terpaku pada berita berpulangnya Lilies Surjani, penyanyi di era 60-an, karena kanker rahim. Lilies Suryani meninggal di usia 59 tahun.

Tiba-tiba saya teringat pada masa kecil dulu, sewaktu saya masih tinggal di Magetan, sebuah kota kecil dikaki Gunung Lawu, Jawa Timur. Tahun 1980-an, saat itu, Ibu yang biasa saya panggil mama, setiap pagi kerap memutar kaset-kaset Lilies Suryani. Dari semua lagu yang paling saya hafal adalah lagu “Gang Kelinci”. Lagu itu sungguh jenaka sehingga membuat saya dengan mudah mengingat pada irama dan syairnya.

Meninggalnya Lilies Surjani pada 7 Oktober kemarin, membuat saya sangat berduka. Karena tepat di hari meninggalnya ini, entah kenapa, saya sangat ingin mendengarkan lagu “Gendjer-Gendjer” dan “Oentoek Padoeka Jang Moelia Presiden Soekarno” yang saya download dari internet.

Diam-diam, lagu lawas itu saya putar berulang-ulang dengan volume suara yang tidak terlalu keras. Ini saya lakukan karena merasa sungkan jika diketahui si empunya rumah tempat menumpang beberapa hari ini.

Sambil mendengarkan lagu itu saya merenung dan bertanya dalam hati bagaimana kabar Lilies Suryani sekarang ini??? Ternyata pertanyaan saya tentang kabar Lilies Suryani minggu petang kemarin, telah dijawab Senin malam ini.

Minggu petang kemarin, kedua lagu yang dinyanyikan Lilies Suryani ini, membuat saya terhanyut pada suasana era 60-an. Saat Rakyat Indonesia dibawah Soekarno dan PKI sedang gencar-gencarnya melawan Neo-Kolonialisme dan Imperialisme.

Suara Lilies Suryani yang terdengar melalui RRI, membuat banyak anak muda Indonesia ketika itu, penuh dengan semangat revolusi. Ya.. sebuah semangat Revolusi Anti Nekolim. Mereka pun bergabung dalam satuan-satuan sukarelawan yang dikirimkan membantu Operasi Trikora di Papua Barat maupun Dwikora di Kalimantan Utara dan Semenanjung Malaka. Salah satu dari para pemuda dan pemudi itu adalah ayah dan ibu saya.

Ah.. sudahlah, semangkuk bakso yang hangat ini, nyaris tidak membuat saya bersemangat untuk menyantapnya lagi. Selamat jalan Lilis Suryani, selamat berjumpa dengan Sang Pencipta mu, selamat berjumpa dengan orang-orang yang kau kenal dan telah mendahuluimu.

Disini, di bumi ini, namamu tetap abadi, tidak hanya pada lagu-lagu jenaka seperti “Gang Kelinci” yang membuat namamu melambung, tetapi juga pada lagu-lagu seperti “Gendjer-Gendjer” dan “Oentoek Padoeka Jang Moelia Presiden Soekarno.” Sebagai penghargaan buatmu, saya pun kembali memutar kedua lagu yang kau nyanyikan di tahun 1962-an ini, yang hingga kini masih di”haram”kan untuk diputar,…itu

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler

Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer

Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih
Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar

didjejer-djejer diunting pada didasar
didjejer-djejer diunting pada didasar

emake djebeng tuku gendjer wadahi etas
gendjer-gendjer saiki arep diolah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *