Banjir Bojonegoro, Januari 2008

PENGANTAR REDAKSI: Negeri bencana. Itulah takdir terberi yang dialami rakyat negeri ini. Bencana alam seperti banjir dan longsor seakan menjadi pemandangan biasa. Parade bencana alam ini semoga menjadi pelajaran berharga bahwa pelestarian hutan penting untuk kehidupan kita. Dan, kebijakan pemerintah soal penanganan banjir tidak perlu lagi berorientasi “bantuan pasca bencana” tapi merumuskan strategi politik ekologis mencegah bencana alam terus terulang.

LENTERA

Oleh: Roro Sawita
Jawa dipastikan hampir tenggelam! Itulah hasil penelitian team java collapse yang disampaikan Chalisah Khalid, juru kampanye Walhi Jakarta pada pertemuan KTT perubahan iklim di Nusa Dua, Bali. Pernyataan itu terbukti bukan isapan jempol belaka.

Tengoklah desa-desa di sepanjang daerah aliran sungai Bengawan Solo yang terkena banjir sejak akhir Desember 2007. Solo, Bojonegoro, Ngawi, Tuban dan Gresik mendadak menjadi waduk raksasa. Jalan masuk terputus oleh derasnya aliran air sungai.

Seluruh infrastruktur lumpuh sehingga menyulitkan bala bantuan. Enam kecamatan di Bojonegoro terisolir yaitu Kanor Utara, Baureno Utara, Kalitidu, Padangan, Trucuk, dan Malo. Kendati banjir di beberapa daerah telah surut namun kondisi warga makin memburuk.

Menurut Gentry Amalo koordinator Jaringan Relawan Kemanusiaan Bali (JRKB), banyak warga yang tidak sempat menyelamatkan harta benda sehingga mereka sulit memenuhi kebutuhan pokok.

Mereka hanya menggantungkan hidup dari bantuan yang diberikan. Sampah yang dibawa saat banjir menyebabkan penyakit diare, pernafasan akut dan gatal-gatal yang menimpa korban banjir.

JRKB bekerja sama dengan komunitas Bike to Work Chapter Bali membuka posko peduli banjir Bengawan Solo di Jl Jaya Giri 111 No 11A. Lembaga bantuan ini menerima saluran bantuan berupa obat-obatan, biskuit balita, pembalut wanita, makanan siap saji, selimut, sembako, peralatan MCK, peralatan dapur dan pakaian layak pakai.

“Kami siap menampung segala macam bantuan yang akan didistribusikan ke wilayah banjir terutama yang masih terisolir,” ungkap Gentry.

Ketua komunitas Bike to Work Chapter Bali Ibrahim mengungkapkan, bencana banjir tidak hanya dirasa para korban pada saat terjadi bencana.

Paling tidak korban merasa dampaknya hingga tiga bulan lebih. itulah yang kurang diperhatikan tim sakorlak dan masyarakat kita. Trauma yang ditimbulkan bahkan membutuhkan bantuan dari pihak psikiater.

Untuk itu komunitas Bike to Work Chapter Bali telah menyumbang 10 sepeda untuk diterjunkan bila dibutuhkan.

“Pada saat banjir kendaraan yang efekti bukan hanya perahu tapi juga sepeda karena tidak menggunakan mesin jadi tidak akan macet,” kata Ibrahim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *