Saya, Wahab, Om Murad & Mbak Yuyun

Oleh: Gentry Amalo

Subuh tadi, pukul 05.44 wita, saat embun masih berselimutkan dingin, saya dikejutkan sebuah pesan singkat yang masuk ke salah satu nomor telepon genggam saya. Pesan ini dikirim salah seorang kerabat dekat Om Murad yang bunyinya “Telah meninggal dunia Om Murad Aidit pagi ini jam 4.55 AM, tolong disampaikan pada teman atau kerabat yang lain.”

Saya pun terhenyak sesaat, mata yang semula hendak terlelap sontak enggan terpejam lagi. Saya pun mencoba membaca ulang pesan singkat tadi. Hanya sekedar meyakinkan bahwa kabar duka ini memang benar adanya. Saya hanya bisa menghela nafas beberapa kali, sembari mengirim pesan singkat balasan dari saya kepada “MY”: “terima kasih Mba’ atas infonya, saya turut berduka..”, kemudian pesan singkat yang lain lagi, saya kirimkan kepada keponakan Om Murad yang berinisial MI,.. “Mas, turut berduka ya,.. atas berpulangnya Om Murad..” dan tidak berapa lama kemudian pesan singkat lain terkirim ke telepon genggam saya, rupanya balasan dari MI “terima kasih, salam hangat selalu..”

Jingga fajar pun mulai merekah, rasa duka ini membuat ingatan saya kembali pada peristiwa pertemuan kami beberapa tahun silam, tepatnya pada sebuah pagi di tahun 2001. Masih segar dalam ingatan saya. Saat itu Murad Aidit, yang biasa kami panggil dengan sebutan “Om Murad”, berkunjung ke Denpasar Bali.

Kunjungan ini bukanlah sebuah hal yang istimewa, mengingat salah satu keponakan Om Murad ketika itu, memang menetap di Denpasar. Perkenalan saya dengan Om Murad-lah yang membuat kunjungan itu menjadi istimewa, selain itu ada pula rencana kehadiran Madame Danielle Mitterrand di Bali, istri mendiang mantan Presiden Prancis. Beliau berniat bertemu dengan para mantan Tapol-Napol 65 di Bali. Saat itu Madame Mitterrand memang sedang melakukan perjalanan menuju Timor-Timur, sebuah negeri Sosialis Demokratik yang baru merdeka dari “penjajahan” Indonesia.

Selama pertemuan, banyak hal yang kami diskusikan terkait persiapan rencana pertemuan dengan mantan Ibu negara Prancis. yang paling saya ingat adalah batuk Om Murad yang sesekali terdengar ditengah-tengah keseriusan pertemuan.

Mengamati sesuatu secara mendalam sudah menjadi kebiasaan saya sedari kecil dulu. Terlebih jika ada “orang baru” yang hadir dalam sebuah kelompok atau pertemuan. Saat itu, saya memang lebih banyak memperhatikan Om Murad. Memperhatikan semua gerak-geriknya, mulai dari cara bicara hingga beberapa pandangannya dalam pertemuan itu.

Pagi itu, adalah pertemuan pertama saya dengannya. Sebelumnya saya, Habsari Savitri, dan juga Nanang, tidak menyangka bahwa dalam pertemuan ini, hadir salah satu adik kandung dari Achmad Aidit atau yang lebih dikenal dengan sebutan D.N. Aidit, Ketua Central Committe Partai Komunis Indonesia (CC PKI) yang sangat legendaris itu.

Saya tidak pernah menyangka ataupun bermimpi, bahwa saya akan bertemu dengan sosok yang sangat sederhana dan bersahaja ini. Mengenakan baju batik berwarna coklat, yang dipadankan dengan celana katun berwarna coklat muda. Rambut yang telah memutih dengan janggut perak yang dibiarkan sedikit memanjang, mengingatkan saya akan sosok Ho Chi Minh, bapak bangsa Vietnam.

Sembari bersalaman-tangan dengannya, saya menyebutkan nama saya. Saya memberikan komentar, “Janggut Om Murad mengingatkan saya akan sosok Uncle Ho.” Kata saya, Dia pun tertawa lepas.

Bersama Murad Aidit dan Bu Lami

Kendati tubuh rapuh dimakan usia, tetapi semangat yang berkobar tampak jelas terlihat dari mata Om Murad. Lantas Kami pun berfoto bersama dan foto yang sama saya temukan dua pekan silam, saat saya sedang membersihkan tumpukan buku-buku di kamar saya.

Pagi tadi, saya hanya bisa berdoa serta mengangkat tangan kiri, sambil berujar dalam hati, “Selamat jalan Om Murad, selamat jalan kawan, semoga persada suci ini, menerima kembali tubuh renta nan suci-mu itu. Semoga semangat perjuangan serta rela berkorban-mu tetap merasuk pada jiwa setiap anak muda bangsa ini.”

Ameen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *