Morning Briefing

Sabtu (26/7) akhir pekan lalu, saya, Iwan Dewantama (CI), Avandy dan Marco (BIDP) berkunjung ke Villa Jineng di Ubud. Kami berempat naik pajero hitam Mas Avand.

Mata yang tinggal seperempat, rupanya rasa kantuk menyerang, ini smua karena sejak Jumat kemarin saya belum tidur dan istirahat sama sekali. Marco si bule Belanda yang duduk disebelah pun terpaksa saya acuhkan..

Setelah empat puluh lima menit perjalanan, di pukul 10.30 kami tiba di Vila Jineng, setelah sebelumnya kami melewati jalan desa yang masuk dari arah sisi kiri jalan raya Kedewatan – Ubud. Saat kami tiba, terdengar suara orang yang sedang bercengkrama dan kecipak air kolam yang saling bersahutan.

Turun dari mobil, saya pun segera menuju pintu belakang dan bebegas menurunkan dua set peralatan menyelam. Sambil membawa peralatan selam ini, kami pun berjalan menuju ke arah suara.. ahaaa… rupanya orang-orang yang bercengkrama ini sedang berada berkumpul ditepian kolam renang,..

Perkenalan pun terjadi, saya dan iwan memang orang baru bagi mereka, para penyandang cacat yang bernaung dibawah Yayasan Senang Hati – Ubud. Satu persatu dari mereka memperkenalkan diri mereka, ada Aris, Wayan, Anjeli, Dayu, dan lainnnya yang tidak saya ingat satu persatu.

Mas Avand pun membuka rencana kedatangan kami dari Kelompok Jurnalis laut dan Indosmarin.com. Kepada mereka kami mengajak mereka untuk terlibat dalam aktifitas kami pertengahan Agustus nanti.

Puji Tuhaaaan… mereka ternyata mau… Thanks God… :)

Marco memasangkan BCD pada aris

Bergegas saya mengambil kamera dari dalam tas, Iwan pun segera mendata siapa saja yang mau ikut serta dalam operasi gabungan ini. Operasi dengan nama sandi “Revolusi Agustus” (soal yang ini karangan saya sendiri :D).

Mas Avand dan Marco juga bergegas membuka celana pendek mereka… hhmmm tentunya ga “nudis” karena mereka sudah menggunakan celana renang second skin. ;)

Tidak lama kemudian, satu-persatu dari setiap mereka mulai mencoba alat selam yang kami bawa… Aris, Ketut, Anjeli adalah orang-orang yang memiliki semangat dan rasa ingin tahu yang tinggi. Tanpa malu-malu mereka langsung mengambil BCD dan masker selam. Mengenakan peralatan seperti ini tidak membuat mereka merasa canggung, padahal tidak sedikit dari mereka baru pertama kali..!!!

Saya benar-benar kehabisan kata-kata.. karena mereka … orang yang tidak sempurna justru punya semangat yang luar biasa untuk mengatasi ketidaksempurnaan mereka.

Aris misalnya, kami beri dia sarung tangan khusus yang disela-sela jarinya dirancang berbentuk sirip. Adapun sarung tangan ini berfungsi untuk membantunya mendayung dan menyeimbangkan diri selama berada di dalam air. Maklum saja karena Wayan Aris da Costa ini cacat permanen pada kedua kakinya, karena polio yang menyerangnya sejak umur 8 tahun.

Dengan telaten, kami berempat mencoba memandu mereka tentang fungsi dari setiap perlengkapan yang mereka kenakan. Marco dan Mas Avand pun masuk ke dalam kolam, mereka berdua secara bergantian memegang dan memandu para kaum cacat ini, agar mengerti cara menggunakan alat-alat selam ini dengan sempurna.

putu bersiap mencoba alat

Hebatnya mereka hanya butuh waktu tidak lebih dari satu jam untuk beradaptasi dengan alat-alat yang untuk ukuran orang awam normal saja susah. Saya pun teringat pada ayat Alkitab: “Dibalik kelemahan ada kekuatan” dalam kasus ini, saya juga belajar bahwa kendati mereka tidak normal dan terkesan lemah, tetapi mereka memiliki kekuatan hati dan pikiran untuk MAJU.

Berbeda dengan Aris yang hanya mengandalkan kedua tangan sebagai penyeimbang. Komang, mungkin “lebih beruntung”, karena Komang masih memiliki satu kaki yang dapat digunakan untuk berpijak di dasar laut dan kolam.

Aris kelahiran Viqueque, Timor Leste mengatakan bahwa menyelam adalah hal yang baru bagi mereka para penyandang cacat. Diantara tiga puluhan teman-temannya di Yayasan Senang Hati, Aris tergolong paling maju karena dia, Wayan dan komang, telah berani menyelam di laut lepas.

Kendati belum mahir namun keberanian Aris, Komang dan Wayan kemudian menjadi perhatian progam dokumenter “Sisi Lain” Trans TV. Ketiganya diambil gambarnya oleh campers Satrio dan reporter Medi saat menyelam bersama Mas Avand di Tulamben, awal pekan lalu. Mau menyaksikan aksi Aris dan dua kawannya? silahkan nonton program “Sisi Lain” Trans TV minggu ketiga Agustus mendatang…

Jika diantara anda ada yang punya saudara, kakak, adik, dan teman yang memiliki cacat fisik dan ingin mengikuti program ini silahkan menghubungi kami di Kelompok Jurnalis Laut.(G)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *