Radar Bali, [ Sabtu, 16 Agustus 2008 ]

Melongok Persiapan Para Pengibar Sang Saka Bawah Laut Paskibrakanya Empat Anak Cacat, Kemarin Latihan Nyelam
HUT Kemerdekaan RI ke-63 tinggal dua hari. Beragam kegiatan digelar anak bangsa se nusantara. Namun ada yang rada nyleneh dilakukan kelompok jurnalis laut. Mereka berencana mengibarkan Sang Saka Merah Putih di bawah laut. Bagaimana persiapannya?

ALI MUSTOFA, Denpasar

————

EMPAT penyelam, semuanya anak cacat, kemarin tampak serius berlatih di Albatross, Jalan Hayam Wuruk, Denpasar. Dipandu empat pelatih pendamping dari BIDP, Conservacy International (CI) dan The Nature Conservation (TNC), keempat anak yang bernaung di bawah Yayasan Senang Hati, Tampaksiring, Gianyar, itu mondar-mandir mengelilingi kolam berukuran 10 x 5 meter. Sesekali mereka menyelam, kemudian mengambang dan muncul lagi ke permukaan.

Kendati cacat, mereka tak kenal takut. Bahkan menu latihan yang mereka lahap kemarin dengan cepat dikuasai. Keempat anak ini akan ditugaskan mengibarkan Sang Saka Merah Putih pada 17 Agustus nanti di kedalaman 13 meter di perairan Jeradi Willy Point, Sanur.

Keempat “Paskibraka laut” itu adalah Made Ari Da Costa, Ni Wayan Parwati, Wayan Sugianto dan Komang Susanta. “Sekali lagi, latihan ini kami maksudkan agar mereka siap saat menjalankan tugasnya nanti pada perayaan 17 Agustus,” ujar Ketua Panitia Pengibaran Bendera Bawah Laut, Gentry Amalo, kemarin.

Menurutnya, pihaknya tidak terlalu kesulitan melatih empat anak cacat tersebut.

“Hanya saja perlu aklimatisasi (proses adaptasi), terutama pada saat menyelam,” jelas Gentry Amalo. Mereka tidak diperkenankan meluncur dengan teknik mengapung tetapi berdiri. Bagian pemberat yang biasanya diletakkan di perut, juga ditambah di bagian kaki agar mereka tidak terjungkal. “Arus di laut sangat kuat. Jadi persiapannya harus matang,” tambahnya. Dia menambahkan bahwa rencana pengibaran bendera di bawah laut itu bakal diikuti 30 orang peserta.

Gentry Amalo yakin usaha yang mereka laksanakan akan berhasil mengingat selama dua minggu terakhir tidak ada masalah. Keempatnya berhasil mengikuti seluruh instruksi secara sempurna, baik saat latihan di kolam maupun di perairan Tulamben, Kubu, Karangasem.

Pengamatan Koran ini kemarin, keempat penyelam itu diajari teknik checking alat, terutama membersihkan masker, melatih keseimbangan tubuh dan berinteraksi dengan pelatih. “Agar pengibaran bendera nanti berjalan sempurna, kami berencana melakukan gladi resik besok (hari ini) di pantai Semawang,” papar mantan reporter televisi nasional itu. Yang menarik, kelompok jurnalis laut ini berani mengklaim aksi yang mereka lakukan adalah yang pertama sebagai pengibar bendera bawah laut oleh orang cacat.

Selain aksi gila yang dilakukan kelompok jurnalis laut, aksi Bank Swasta BPR Lestari tak kalah seru. BPR Lestari mengadakan pawai dokar merah putih melibatkan 17 dokar dengan 34 personel yang semuanya karyawan bank kemarin pagi. Uniknya, selain mengitari Kota Denpasar dengan menggunakan kendaraan dokar, rombongan juga membagi-bagikan 1945 lembar bendera merah putih kecil.

Untuk melengkapi semangat nasionalisme, mereka melewati jalan protokol kota dan berhenti pada 8 titik pemberhentian yang merupakan traffic light Kota Denpasar. “Acara ini kami gelar untuk mengingatkan arti pentingnya semangat nasionalisme anak-anak Indonesia,”ujar Annisa Era Putri, Ketua Panitia Lestari Merah Putih kemarin.

Menariknya lagi, mereka tidak hanya mengelar pawai dokar dengan symbol-simbol nasionalisme. Tetapi juga mengibarkan bendera merah putih ukuran besar yang di pasang di semua kantor Bank.”Ini kami lakukan untuk memberi ksan unik yang jarang dilakukan instansi atau perusahaan lain,”pungkasnya.(*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *