kk37mq8Baru tersadar, ternyata ada yang terhilang dari setiap hari raya saat ini. Lama saya berpikir, ternyata yang terhilang itu budaya saling berkirim kartu ucapan selamat merayakan hari raya, yang dikirimkan oleh sanak saudara kita dan orang-orang terdekat kita dari tempat yang jauh atau kota yang berbeda di dalam atau di seberang pulau.

Sebuah kartu ucapan selamat dalam berbagai bentuk dan ukuran dan juga warna-warni tinta yang menghiasi permukaan kartu. Di dalam kartu, tentunya sebuah ucapan selamat yang ditulis dan ditanda tangani langsung oleh si pengirim. Setiap goresan tinta pulpen adalah penyambung silaturahmi jiwa antara si pengirim dan si penerima.

Bicara soal goresan tinta, saya teringat saat kelas tiga SD dulu, salah seorang guru Bahasa Indonesia saya mengarahkan pada saya agar mengatur soal tebal tipisnya goresan pada tulisan. Menurutnya tebal tipisnya goresan tinta menunjukan tingkat emosional kita, semakin  menekan pulpen maka semakin tebal goresan tintanya, dan ini menunjukan bahwa kita sedang melakukan sebuah penegasan, kemarahan, kejengkelan, dan sejenisnya. Tetapi jika tulisan itu dalam goresan yang normal maka standar emosi kita pun sedang dalam kondisi normal. Ibu guru ini mengajari saya menulis menggunakan pulpen miliknya yang di ujung atasnya ada tombol warna-warni (hitam, biru, merah dan hijau) sebagai penanda tinta yang akan digunakan, kalau tidak salah pulpen itu mereknya BIP.

Kembali pada kartu ucapan selamat berhari raya yang sudah nyaris hilang dari budaya bangsa ini, saya juga jadi terpikir bagaimana dengan nasib pak pos pengantar surat dan telegram yang kerap datang ke rumah menggunakan sepeda atau motor dengan helm dan jaket berwarna oranye.

Pak pos yang setia mengunjungi rumah setiap warga menjelang Natal dan Tahun Baru atau Lebaran, hhhmmm… bagaimana kabar mereka ya. Saya jadi teringat masa kecil saya, begitu mendengar suara bel sepeda atau motor yang kemudian diikuti dengan kata: “pos..pos…”. saya langsung berteriak “surat..surat..” sambil berlari berebutan dengan kakak dan adik bungsu saya.

Kami berebutan membuka pintu dan kemudian berlari secepat-cepatnya keluar untuk menjumpai pak pos. Saat kami menghampirinya pak pos juga bertanya apakah benar atau tidaknya alamat yang dituju hanya untuk memastikan apakah surat dan kartu undangannya sampai pada tangan yang benar.. Tapi kalau Pak pos itu sudah kerap mengantar surat ke rumah kami, paling-paling dia hanya bilang, ada surat nih buat bapak, atau ibu,.. atau ada surat buat Jeffry, Cherry, Nito, yang semuanya kakak-kakak saya… karena saya dan adek saya Vico belum punya „sahabat pena“ di seberang pulau.

Saya rindu dengan suasana menyambut hari raya, karena seminggu sebelum menjelang hari raya saya selalu ditugasi oleh Bapak dan ibu saya untuk membeli kartu ucapan selamat berhari raya. Kemudian bapak yang menulis dan menandatangani-nya, kakak saya Nito yang memasukannya dalam amplop dan kemudian me-lem perangkonya dengan menggunakan lem nasi, kanji atau tidak jarang menggunakan (maaf) ludah dengan cara menjilat permukaan  bagian belakang prangko itu.

Tidak jarang didalam isi kartu itu Bapak menyelipkan satu atau beberapa lembar foto keluarga terbaru kepada sanak saudara di seberang pulau, ya maklum saja, kala itu belum ada internet. Kemudian saya dan Nito mengantarkannya ke kantor pos.

Saya juga merindu suasana dimana hati bedebar menanti kartu ucapan selamat berhari raya dari sanak saudara dan teman-teman. Bahkan tidak jarang kartu ucapan itu kemudian disimpan baik dalam sebuah amplop besar.

Aaahhh,….. Mengenang dan merindu itu semua, saya jadi merasa bersalah, karena saya salah satu orang yang sudah hampir sepuluh tahun ini menjadi pecandu teknologi khususnya internet dan SMS.

Saya salah seorang yang gemar mengirimkan kartu-kartu ucapan selamat berhari raya dan selamat ulang tahun melalui internet. Atau sekedar mengirimkan ucapan selamat melalui SMS.

Saya penganut kemajuan teknologi, tapi untuk itu banyak hal yang harus saya bayar, seperti kehilangan budaya saling mengirimkan kartu pada orang-orang terdekat saya, kehilangan keramahan pak pos pengantar kartu dan surat, kehilangan suasana antrian di kantor pos saat hendak mengirimkan kartu, bahkan mungkin kehilangan gaya menulis indah saya karena sudah terbiasa menekan tombol huruf dan angka.

Dan yang terpenting dari itu semua adalah saya merasa kehilangan silaturahmi jiwa yang tergores dalam selembar kartu ucapan selamat berhari raya dari orang-orang terdekat dan orang-orang dekat saya…

Denpasar, 1 Oktober 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *