JRKB

Malam itu, Selasa 13 Oktober 2002, pukul 19.30 wita. Seorang perempuan muda dengan wajah pucat kelelahan, mendatangi bekas ruang kerja Prof. Wayan Bawa (alm.) di Fakultas Sastra Universitas Udayana. Atas seijin Dekan FS waktu itu, aula serta bekas ruang kerja guru besar yang letaknya berdampingan kami sulap menjadi ruang missing person.

Saya masih ingat ciri-ciri perempuan muda itu. Tubuh yang agak kurus, berwajah tirus dan berambut sedikit ikal, tetapi  sayangnya saya lupa namanya.

Malam itu dia mendaftarkan nama sepupunya asal Jogja yang hingga malam 13 Oktober 2002 itu belum juga kembali, dan dia khawatir karena kehilangan kontak dengan sepupunya itu.

Ketika itu saya panggil salah satu relawan mahasiswa, dan saya minta untuk membantu saya menuliskan data yang diberikan perempuan muda yang tengah panik mencari sepupunya ini.

Bom Bali 2002

Jadi saya yang mewawancari si perempuan muda ini, sementara adik kelas saya yang mencatat data identitas dan  meminta foto terakhir sepupunya yang dikhawatirkan hilang itu.

Malam itu, identitas sepupunya yang hilang ini sudah ada di data kami Jaringan Relawan Kemanusiaan Bali (JRKB). Nama inilah nama “klien” orang hilang pertama dalam data kami. Nama yang harus kami cari, dan nama itu adalah Aty Savitri (35 thn)

Dua bulan berselang, usai melakukan uji data DNA, salahsatu relawan kami yang bekerja di kamar jenasah, mengkonfirmasi pada saya, bahwa mereka sudah menemukan jasad Aty Savitri.

Saya pun kemudian langsung meminta kepada Edi Prabowo, salah seorang relawan JRKB untuk menghubungi keluarganya dan membantu segala macam keperluan mereka selama berada di Bali.

Saya berpesan kepada Bowo agar membantu mengurus jenasah ini sebaik-baiknya dan bila perlu Bowo ikut menyertai keluarga hingga ke Jogja atau kota lainnya di Jawa sana, sekalian pulang kampung, karena Bowo memang asli Jogja. Sayang Bowo tidak bisa ikut menemani keluarga Aty karena begitu padatnya pekerjaan di kamar jenasah dan korban hidup yang harus diselesaikan.

Usai disembahyangkan di Kamar Jenasah RSUP Sanglah, jenasah Aty pun diantar menuju terminal cargo bandara Ngurah Rai untuk dipulangkan ke Jogja. Enam tahun berlalu, saya kembali terusik dengan nama ini, nama yang begitu berkesan karena nama pertama yang menjadi “klien” kami untuk kami cari tahu keberadaannya.

Salam Damai…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *