Calon DPD dan Caleg Partai di Bali Tidak Ramah Lingkungan!!!!

Komisi Pemilihan Umum

Menyambung tulisan saya sebelumnya, tentang caleg “Mohon Doa Restu dan Dukungannya” yang beberapa hari lalu saya posting. Kini jari saya kembali “gatal” untuk menulis kegelian saya melihat, kebodohan para calon anggota legislatif kita. Anggap saja tulisan ini sebagai surat terbuka bagi para calon DPD dan caleg  parpol agar segera menyadari kekeliruan yang menyebabkan dia tidak terpilih jadi wakil rakyat hehehe…

Kebodohan kali ini, adalah soal berlomba-lombanya para kontestan pemilu 2009 ini memasang baliho dan spanduk kampanye yang sama sekali tidak ramah lingkungan.

Ada dua macam kebodohan para caleg kita, pertama, mereka (calon DPD dan caleg parpol) memasang dan menggunakan baliho atau spanduk kampanye mereka, dengan cara memaku materi kampanye mereka ke batang serta dahan pohon di pinggir-pinggir jalan. Kebodohan Kedua, para kontestan pemilu 2009 ini menggunakan materi printing kampanye yang tidak bisa diurai dan sangat tidak ramah lingkungan, seperti PLASTIK!!!

Caleg Tanpa Program

Seharusnya mereka “berpikir” bahwa spanduk dan baliho mereka  berbahan dasar plastik itu akan menambah penggunaan plastik dan sudah pasti limbahnya akan berdampak pada semakin rusaknya lingkungan di sekitar kita.

Bagi saya kedua kebodohan ini saling terkait satu dengan yang lain dan sama-sama berdampak buruk terhadap lingkungan sekitar kita.

Saya tidak tahu apakah pernah terlintas didalam benak para calon DPD dan caleg parpol, hendak dibawa kemana limbah spanduk dan baliho PLASTIK sisa kampanye mereka?

Bukankah sejak Sekolah Dasar kita sudah diajarkan untuk selalu peduli pada lingkungan sekitar kita. Kita juga diajar bahwa plastik adalah material yang tidak dapat terdegradasi atau terurai secara alami, plastik menjadi menyebabkan masalah lingkungan yang semakin besar di muka bumi ini. Dengan semakin bertambah penggunaan plastik, terutama plastik komoditi seperti polietilena dan polipropilena, maka bertambah pula limbah hasil pemakaian plastik.

Kedua kebodohan ini menurut saya menunjukan bahwa ternyata caleg  dan calon DPD kita sama sekali tidak punya KEPEKAAN LINGKUNGAN yang baik. Demi sebuah ambisi menduduki kursi jabatan legislatif dan dipandang terhormat oleh masyarakat. Para caleg khususnya yang berasal dari Bali menjadi lupa diri dan lupa pada kearifan ajaran leluhur yakni Tri Hita Karana, yang merujuk pada ajaran tentang keselarasan, keseimbangan dan keharmonisan hidup antara Sanghyang Jagatkarana (Tuhan Semesta alam), Bhuana (bumi/lingkungan sekitar), dan Manusia.

Dalam pemahaman saya, keselarasan dan keharmonisan hidup manusia merupakan keselarasan dari ketiga dimensi alam (Tri Hita Karana). Manusia dengan Tuhannya, Manusia dengan alam lingkungannya, dan Manusia dengan sesamanya.

Bukankah Tri Hita Karana mengajarkan pada kita untuk saling mengasihi, menghormati dan bertanggungjawab tidak hanya kepada Sanghyang Jagatkarana dan sesama manusia semata? Tetapi juga mengasihi lingkungan sekitar kita? Termasuk tumbuh-tumbuhan (baca: pohon)

Bersih??? Hmmm..

Manusia baik individu maupun kelompok seharusnya taat dan patuh terhadap aturan dan hukum alam yang telah digariskan kepadanya melalui ajaran agama. Kata “agama” berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri atas “A” (tidak) dan “Gama” (kacau). Jadi agama adalah instrumen dalam mengatur segala segi kehidupan manusia agar tidak terjadi kekacauan dalam kehidupan dan sebaliknya keselarasan, ketentraman dan kedamaian hidup dapat dicapai.

Bagi saya saat para caleg dan calon DPD sudah melanggar norma dan aturan agama (Hindu) yang telah digariskan alam semesta. Maka salahsatu akibatnya adalah terjadinya degradasi moral manusia yang akan menjadikan manusia hanya menjalankan hawa nafsu untuk memenuhi segala hasrat hidupnya tanpa memperdulikan kaidah norma hidup.

Saya menjadi geli sendiri, belum terpilih saja para caleg dan calon DPD sudah MERUSAK LINGKUNGAN dengan kedua kebodohan tadi. Bagaimana jika nanti terpilih??? Padahal para Calon anggota DPD dan Legislatif kita ini tidak sedikit yang bergelar Sarjana, Master dan Doktor di bidang ilmu masing-masing. Merusak lingkungan dengan memaku (baca: “menyakiti”) pohon dan menambah limbah plastik adalah perbuatan mengacuhkan ajaran-ajaran budi pekerti bangsa ini.

Tidak heran jika banyak kasus-kasus pembangunan yang merusak lingkungan dan tidak bisa diselesaikan oleh DPR RI dan DPRD tingkat I maupun II. Masih ingatkan kasus alih fungsi hutan Lindung Si Api-Api yang kemudian menyeret beberapa anggota DPR RI termasuk Al-Amin Nasution, yang menerima dana suap dari eksekutif daerah setempat…!!! Sungguh melalukan…

Bagi saya, saya akan memilih calon DPD, PARTAI, CALEG, dan PRESIDEN yang RAMAH dan PEDULI pada LINGKUNGAN, agar persoalan-persoalan lingkungan kita, termasuk pengundulan hutan baik ilegal maupun untuk perkebunan sawit bisa segera terselesaikan…

Ingat Dunia ini semakin hancur karena GLOBAL WARMING yang diakibatkan oleh kebijakan kapitalisasi pembangunan yang tidak RAMAH LINGKUNGAN!!!

salam,..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *