Mengenang pengarang besar Indonesia: Pramoedya Ananta Toer, wafat 2007.

oleh: Agung Putri Astrid Kartika

Pramoedya Ananta Toer adalah Batu Karang.

“Mau apa kamu?”

“Saya mau tau tentang sejarah, Pak”

“Ha ha ha…. Saya sudah tutup buku dengan Jawa.”

Percakapan itu terjadi kurang lebih 15 tahun lalu di siang hari, di rumah Pram (begitu biasa ia dipanggil) di perkampungan timur Jakarta, Jalan Multikarya II/ 26 (?). Ini kali kedua aku datang. Kedatangan pertama di akhir tahun 80an aku masih merasa was-was. Buku tetralogi karya Pulau Buru baru saja dilarang. Kawan-kawan dalam pengejaran. Bonar Tigor atau Coki, Bambang Isti dan Bono telah ditangkap. Beredar kabar bahwa mereka mengalami penyiksaan maha berat. Kedatangan kali kedua, sekitar tahun 1993, aku sudah semakin mengenal lubang-lubang bocor kekuasaan. Aku datang sebagai aktivis perburuhan, peneliti ilmu social, pengembang jaringan kebudayaan rakyat.

“Jawa sudah hancur. Dia dimakan oleh intrik dan keserakahannya sendiri….”

Aku tidak mengerti. “Arus Balik” belum lagi diterbitkan waktu itu. Namun politik kala itu cenderung memanas. Untuk pertama kalinya pemerintah mendengung-dengungkan “keterbukaan”. Ini cuma langkah awal swastanisasi, namun angin segar politik terasa. Para budayawan, seniman, wartawan yunior senior, kaum cerdik cendekia, rohaniwan sibuk membicarakan pelarangan buku Pramoedya yang namanya harum di luar negeri. Sebaliknya Pram  ketika kutemui, lebih asyik bicara tentang kebangkrutan bangsa Jawa, kebudayaan Hindhu Buddha, keagungan Syiwa dan Wisnu. Tiap kali kutanyakan perihal pelarangan buku-bukunya, Pak Pram tersenyum nyengir. Kemudian dihisapnya satu batang rokok jarum entah yang ke berapa, dalam-dalam, hingga terdengar serak hisapan dari tenggorokannya. Dengan bahasa Indonesia yang rapi dia bilang:

“Itu milik kaum muda. Tugas nasional saya adalah menulis. Keputusan membaca ada pada kalian. Kamu tau apa itu Orde Baru. Penghancur kebudayaan. Tidak beradab. Kotor. Ingat! Sukarno mempersatukan bangsa ini tanpa satu tetes darahpun. Tanpa satu tetes darahpun! Suharto? Dia perlukan kematian jutaan orang. Buku-buku dibakar. Orang-orang dibuang ke Pulau Buru. Sultan Agung juga begitu. Kekuasaan ditegakan bukan untuk membangun peradaban, tetapi menghancurkannya.”

Dari berbagai tulisannya aku tau dia tetaplah batu karang.

“Apabila sebagai pengarang harus kutangguhkan begitu banyak ketidakadilan di tanahair sendiri, penganiayaan lahir-batin, perampasan kebebasan dari penghidupan, hak dan milik, penghinaan dan tuduhan, bahkan juga perampasan hak untuk membela diri melalui mass-media mau pun pengadilan, aku hanya bisa mengangguk mengerti. Sayang sekali kekuasaan tak bisa merampas harga diri, kebanggaan diri, dan segala sesuatu yang hidup dalam batin siapa pun.” (“Maaf Atas Nama Pengalaman,” Esai Pramoedya Ananta Toer, Jakarta, 1991)

“Kamu tau ada berapa gunung di Jawa ini?” “Tidak, Pak.” “Wah gimana ini, anak muda.”

“Kamu tau gunung Lawu?” “Tau, Pak.” “Dimana itu?” “Ya, di Jawa tengah, Pak.”

“Salah.  Gunung Lawu adalah titik temu Jawa tengah dan Jawa timur. Di sana ada sungai terpenting sumber peradaban bangsa Jawa. Hasil pertanian dan barang logam dari dalam keluar dari sungai itu ke lautan lepas menuju bumi Hindia dan seterusnya.”

“Kalau mau jadi orang Indonesia harus tahu berapa gunung berapi kita punya. Berapa sungai dan anak sungai mengalir di bumi Indonesia. Bagaimana sungai itu mengalir. Sumatera itu sebenarnya berasal dari kata Samodera. Maluku dari Mameluk, sebutan orang Arab.”

Nada bicaranya mengingatkan aku pada seorang penyair Dayak Katingan, Kusni. Ketika kutanya: “Bagaimana situasi di Kalimantan Tengah?”

Dengan puitiknya ia menjawab ” begini: delapan anak sungai menjulur dari selatan ke utara. Melintasi Palangkaraya dan disitulah puak-puak kebudayaan tumbuh. Anak-anak Katingan hidup dan berpolitik dari sana…”

Begitu juga bung Hersri ketika harus berujar tentang Bung Karno. Katanya :

“Apa yang dicita-citakan dan diperjuangkan Bung Karno itu bukan untuk Indonesia, negeri dan rakyatnya saja. Seperti Kakrasana yang tidak hanya berpikir tentang Mandura. Tetapi untuk mamayu hayuning bawana seluruh rakyat sedunia, sebagaimana secara harfiah dirumuskan dalam Mukadimah UUD 45, dan belakangan secara jelas dan rinci diucapkannya dalam pidato To Build the World Anew[6], “Membangun Dunia Baru”…..(Catatan menyambut peluncuran buku “Bung Karno Menggugat”, Jakarta 11 Maret 2006)

Beginikah seniman pra Orde Baru menjalin politik kebudayaan tanah dan bumi dalam rangka menemukan peradaban baru?

Bicara dengan PAT –sebutan aku dan teman, kala itu — serasa cakrawala dan duniaku bertambah luas. Dia tidak pernah bersumpah serapah. Kediktatoran baginya adalah bagian dari budaya “kampung”.  Agama-agama… demikian juga, ketika disebarkan tanpa mengikutkan peradaban yang membentuknya, maka menjadi senjata pemusnah peradaban lain. Bila kita bicara tentang melawan pembungkaman, Pram justru bicara tentang kebangkrutan peradaban. Dia tidak tertarik bicara tentang penangkapan dan penyiksaan dia serta pengalaman Pulau Buru semata sebagai pengalaman Individual. PAT akan menyebut itu  dalam satu nafas dengan pembunuhan di berbagai tempat lain, penghancuran karya-karya, sebagai penghancuran suatu eksperimen raksasa kebudayaan nasional.

Ia melihat nasibnya diseret dalam gelombang besar yang entah hendak menghempaskan bangsa ini kemana. Pram terus menerus bertanya mengapa bangsa ini bisa berbuat sekejam ini? Moral apa?

Baru sekarang aku mengerti. UU Pornografi menunjukan apa yang Pram katakan belasan tahun lalu. Keruntuhan suatu peradaban. Peradaban-peradaban selatan telah dihancurkan oleh masuknya peradaban dari utara. Dulu Utara membeli dari selatan. Sekarang sebaliknya. Kehancuran paling menentukan adalah berkuasanya kerajaan Demak. Ini diikuti oleh masuknya armada portugis, dan seterusnya …. Dan seterusnya….

“Arus BaliK” aku bacai dengan penuh makna, kini!!!  Ketika buku ini terbit 13 tahun lalu dalam rangka menyambut 50 tahun Indonesia Merdeka, tahun 1995, aku tidak merasa terkait di dalamnya. Nama asli nenek moyangku terasa asing bagiku. Tak bisa kutemukan kenikmatannya memahami Wiranggaleng, Adipati tuban sir rajasa wilwatikta, dan sebagainya. Dongeng.

Tapi kini, arus balik sedang terjadi, di depan mata. Ini sebuah perang besar seorang Pramoedya Ananta Toer mempertahankan kebudayaan seculer, nasionalis, terbuka, hindu, Buddha, dan suatu peradaban masa lalu yang menghantarkan penemuan akan harga diri suatu bangsa.

Inilah ironi bangsa ini. Pram bicara dengan senyum pahit. Dimulai dari kehancuran para ksatria. Apalagi brahminnya. Semua berdagang.  “Maka para bupati tetangga semakin yakin, Sang Adipati memang bukan lagi seorang ksatria, telah merosot jadi sudra.” (Arus Balik, hal. 24)

Ironi histori Jawa termaktub di sini: pada waktu Belanda mengelilingi dunia mencari rempah-rempah, Surabaya suatu bandar transit rempah-rempah yang sama untuk konsumsi internasional dihancurkan oleh seorang raja pedalaman Jawa, Sultan Agung. (Maaf Atas Nama Pengalaman,)

Dan selanjutnya Jawa seolah menunggu nasibnya.

Sejak kegagalan Sultan Agung, Jawa tetap terkungkung dalam peradaban dan budaya ‘kampung’, ditelan mentah-mentah oleh Belanda selama 3 1/2 abad. Sungguh tragi-komedi yang mengibakan. Sedang Belanda datang hanya dengan kekuatan sebiji sawi, bangsa berjumlah kecil, negeri kecil, di ujung utara dunia, setelah melintasi Samudera Atlantik, Hindia, Pasifik. Juga dalam perut kekuasaan Belanda, Jawa tetap memuliakan peradaban dan budaya ‘kampung’nya dengan klimaks ‘kampung’nya: “mandi darah saudara-saudara sendiri”, sampai 1965-66. …. Dan karena sudah tidak dalam perut kekuasaan Eropa lagi, jelas pembantaian mencapai skala tanpa batas. (Maaf Atas Nama Pengalaman)

“Kenapa mau belajar sejarah?” “Banyak yang saya tidak tahu selama ini pak.”

“Belajar sejarah bukan untuk tahu banyak. Sejarah adalah tempat dimana kita pulang.”

Pemilu sudah jamak ditertawakan sebagai lakon omong kosong para pencari harta dan kuasa. Aku pun dulu tidak peduli. Kemudian aku menemukan kesungguhan, kepercayaan, keyakinan akan politik justru pada banyak manusia yang paling terhalang dari kursi kuasa. Sehingga dihadapanku justru yang kulihat bahwa yang mentertawakan pemilu pun dengan caranya sendiri sedang menghitung-hitung kuasa. Dan pada gilirannya mereka juga mempertaruhkan sejarah. Klaim demi klaim sejarah bertebaran di panggung-panggung kampanye, baliho, pertemuan maupun warung-warung kopi.

Semakin yakin aku bahwa tidak ada perubahan dimulai tanpa mengenal sejarah. Ki Hajar Dewantara berkali-kali menyatakan bahwa Bangsa yang tidak mengenal sejarah tidak akan bergerak kemana-mana. Tetapi lebih dari itu, Pramoedya menjadikan sejarah menjadi kerisnya untuk bertarung.

Tetapi aku seorang pengarang dan pendidikan minim, jadi bukan materi-materi historis yang kukaji, tetapi semangat-semangatnya, yang kumulai dengan tetralogi Bumi Manusia, khusus menggarap arus-arus yang datang dan pergi dalam periode Kebangkitan Nasional Indonesia. Dan jadilah kenyataan baru, kenyataan sastra, kenyataan hilir, yang asalnya adalah hulu yang itu juga, kenyataan historis. Kenyataan sastra yang mengandung di dalamnya reorientasi dan evaluasi perdaban dan budaya, yang justru tidak dikandung oleh kenyataan historik. Jadinya karya sastra adalah sebuah thesis, bayi yang memulai perkembangannya sendiri dalam bangunan-atas kehidupan masyarakat pembacanya. Dia sama dengan penemuan-penemuan baru di segala bidang, yang membawa masyarakat selangkah lebih maju.

Kali- kali berikutnya, aku bukan lagi tamu yang haus mencari kepintaran. Kalau tidak soal mencari informasi atau pinjam buku, memberi buku, mengantar teman, mengundang acara. Pram menjadi rekan kerja sehari-hari.  Biasanya kalau sudah begini dia mulai dengan pembicaraan ringan semisal tentang bukunya yang sedang diterjemahkan ke Bahasa Itali, atau rencana pemberian Doktor Honoris Causa dari Universitas di Amerika Serikat. Ada yang ingin memfilmkan buku tetralogi-nya. Dan tersenyum dia tanya kembali pada si pembuat film: “Berani bayar berapa?”

Setiap ulang tahunnya aku datang bersama Dolorosa, pematung, membawa Ikan Arsik untuk dimakan bersama. Habis itu ngobrol ringan. Kalau lagi sial, datang sore kita tak jumpa dengannya karena Pak Pram sibuk bakar sampah. “Kebiasaan di Buru…heheheh” Ujarnya nyengir. PEmbicaraan di hari-hari terakhirnya lebih banyak soal asam uratnya. Obatnya satu “Minum wine… whaa ha ha… Pasti sembuh.. Cap orang tua juga bagus. Dan jangan lupa makan bawang putih setiap hari. Ini sudah saya buktikan bertahun-tahun di Buru.”

Dalam obrolan agak serius, kita bicara tentang rencananya merampungkan Ensiklopedi Indonesia. Ini karya terakhirnya yang tak sempat ia rampungkan. Saat aku terakhir ke sana beliau tengah merampungkan ensiklopedi untuk huruf ” P”, khususnya kata “Perawat”: kapan perawat muncul dan apa arti perawat bagi suatu bangsa. Semua dipikirkan oleh Pram. Kalau ingin tahu apa saja itu, maka ada baiknya menyimak kumpulan klipingnya tentang dirinya sendiri. Pram menggunting berita dan apapun yang terkait dengan dirinya sejak belasan tahun lalu segera setelah ia kembali ke rumah dari pembuangan. Dan ketika aku datang, sudah sekitar 13 jilid buku kliping dia rampungkan. Kliping tentang Pramoedya Ananta Toer… dibuat sendiri oleh sang pemilik nama.

Anehnya dengan Pram aku tidak pernah bicara tentang perempuan. Padahal berpanjang-panjang kita bicarakan Kartini. Beberapa teman perempuan mengkritik cara Pram melihat perempuan sangat konvensional, tidak membebaskan. Memang perempuan sebagai katagori sosial tidak ada dalam kamusnya. Perempuan adalah Dedes, nyai ontosoroh, kartini, larasati, midah dan gadis pantai yang adalah ibunya sendiri. Perempuan adalah sosok-sosok.

Mulanya memang tampak bertentang-tentangan: seorang yang menggambarkan perempuan secara konvensional justru menempatkan sosok perempuan di tempat begitu sentral dalam banyak karyanya. Namun sejak berlakunya UU Pornografi, munculnya berbagai perda ketentuan berpakaian bagi kaum perempuan muslim, pelarangan Jaipongan di Jawa Barat, semuanya menjadi jelas. Tetap. Persoalan Pram adalah bangsa dan dalam hal ini perempuan memberi jejaknya dalam proses berbangsa.

Kehancuran perempuan adalah kehancuran suatu peradaban, suatu bangsa…. Kehancuran peradaban Hindu Jawa dan kemudian Jawa Hindu, di mata Pram, tanda-tandanya  ada pada penaklukan perempuan. “Lima tahun yang lalu sidang para pedagang Islam telah menghadap Tuanku Penghulu Negeri, memohon agar para wanita menutup buah dadanya. Sejak itu semua wanita yang keluar dari rumah diharuskan mengenakan kemban. Maka sekarang mereka tak bertelanjang dada lagi seperti halnya dengan kaum pria Pribumi.” (Arus Balik, hal. 22)

Praktek per-nyai-an di Hindia Belanda abad 19 adalah pendudukan permanen penguasa kolonial atas tanah Hindia Belanda. Praktek ini sebisa-bisanya dibelejeti oleh Pram melalui pahit hidup Nyai Ontosoroh, si Sanikem yang dijual bapaknya ke tuan besar Plikemboh dalam karyanya “Bumi Manusia”.

Tidak ada perempuan sebagai suatu katagori social selama bangsa itu sendiri merendah-rendah derajadnya di mata bangsa lain. Oleh karena itu Kartini bagi Pram bukanlah seorang ibu baik hati yang tiba-tiba tertarik mendirikan sekolah putri demi ’emansipasi wanita.’ Nyai ontosoroh bukan nyonya besar yang kagum pada seorang pemuda Jawa berbakat bernama Minke. Tapi kalaulah ada yang bisa disebut kekurangan dari karya Pram, maka itu adalah soal tendensi. Pram sebatas melihat penindasan perempuan sebagai konsekuensi keserakahan ketamakan oportunisme kaum priyayi dan kolonial. Pram kurang mengeksplorasi bagaimana kekuasaan colonial ditanamkan sedalam-dalamnya pada tubuh perempuan, dimana kendali seksualitas perempuan justru merupakan pilar kolonialisme.

Ketika suatu bangsa itu kalah, maka dalam perihal seksualitas, Pram teramat sinis. “Apa Orang Indonesia lakukan dalam kepungan kekuasaan modal? Tidak ada. Tidak mampu. Dan kita sekarang ini sibuk berkembang biak saja… he he he…  Lihat sinetron-sinetron itu. Halnya Cuma satu, berkembang biak.” Tertawanya melebar dan bahunya terguncang-guncang. Pram bukan seorang puritan. Teman-teman seangkatan dan seperjuangannya kerap bercerita padaku bahwa Pramoedya itu flamboyan. Salah satunya adalah almarhum Basuki Resobowo pelukis angkatan 45. Dalam kunjungannya ke Multikarya ia berseloroh “Hei… Pram, lu gaya sekarang. Pake pantalon, kaya Belanda aja…. Mau nyamperin siape lagi …” Ini bukan dialog di tahun 45, tetapi di tahun 95. Basuki maupun Pram ketika itu telah lebih dari 70 tahun usianya.

Pramoedya Ananta Toer adalah batu karang hingga akhir hayatnya. Walaupun Joebaar Ayoeb, SekJen LEKRA, rekan kerjanya di masa Pra Orde Baru, mengatakan “Pram itu keras kepala memang, tapi kalau di pangku, mati dia…” sambil terkikik-kikik geli. Namun ini bukan soal keras kepala atau lembek kerasnya hati. Pramoedya adalah batu karang sejarah.  Ia mengembalikan dan membangkitkan lakon sejarah yang disingkirkan dari panggung kebesaran kuasa, justru ketika ia secara fisik maupun gagasan disingkirkan dari republik ini.

Sekarang Apa

Saya baru saja membaca “Arus Balik.” Minggu lalu. Ketika membaca, saya tidak merasakan sedang membaca sebuah novel sejarah. Saya seperti sedang melihat kenyataan di depan mata. Sebuah bangsa besar yang disegani bangsa-bangsa lain, hancur berkeping-keping. Tersisa raja-raja kecil di daerah-daerah. Agama bukan untuk membangun peradaban, tetapi menghancurkannya.

Bila ini dibaca dalam kekinian Bali. Potret Pram dalam arus balik semakin terang benar. Jelas. Untuk waktu cukup lama Bali adalah primadona, anak emas segala bangsa. Kemudian semua terlena. Hidup dalam kesukaan dan keserakahan. Tanpa sadar sesungguhnya krisis menggerogoti. Berlakunya Undang-undang Pornografi menjadi tonggak penting bagi kekalahan peradaban hindu Bali.

Dalam masa kini, berpikir kritis tidak cukup. Menolak sistem tidak punya arti. Sistem tidak ada. Diperlukan keputusan oleh seluruh warga, apa tugas kita semua.

Denpasar, 12 Februari 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *