Facebookers Tuntut Penyelesaian Pencemaran Laut

logo_inilahMasalah pencemaran Laut Timor akibat meledaknya sumur minyak West Atlas di ladang gas dan minyak Montara telah mendapat perhatian dan dukungan berbagai media elektronik.

Pemerhati lingkungan, pakar geologi, pakar minyak dan gas, politisi, tokoh Agama dan praktisi hukum saja akan tetapi gerakan yang dilakukan tersebut mulai mendapat dukungan luas kalangan masyarakat melalui facebook dan twitters dari dalam dan luar negeri.Sekitar 5.000 facebooker yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat.

Salah satu facebookers tercatat dengan nama Gentry Amalo ini menamakan “Gerakan Tuntut Penyelesaian Pencemaran Laut Timor”,menuntut penyelesaian pencemaran Laut Timor akibat meledaknya sumur Montara pada 21 Agustus 2009.

Gerakan facebookers ciptaan Gentry Amalo kebanyakan mengatakan,gagasan perjuangan penyelesaian pencemaran minyak mentah (crude oil) di Laut Timor lewat facebook tersebut, karena pemerintah Indonesia dinilai tidak berbuat apa-apa dalam menyikapi persoalan tersebut.

Hampir 5.000 facebookers mendukung gerakan tersebut, dan meminta pemerintah Australia dan operator ladang minyak Montara untuk segera memberi kompensasi (ganti rugi) kepada para nelayan dan petani rumput laut di Timor barat bagian NTT dan pulau-pulau sekitarnya yang terkena dampak dari pencemaran itu,” ujarnya.

Ketua YPTB yang juga pemerhati masalah Laut Timor Ferdi Tanoni mengatakan ketika dihubungi wartawan melalui telepon selulernya,mengatakan terima kasihnya kepada para face bookers dan menambahkan bahwa gerakan mendukung perjuangan penyelesaian pencemaran minyak di Laut Timor itu tidak hanya datang dari facebookers Indonesia yang diprakarsai Gentry Amalo dan teman-teman.

Dukungan juga melalui mickblog yang sedang populer saat ini, Twitters yang diprakarsai Senator Rachel Siewert dari Australia dengan judul “Komisi Penyelidikan Pencemaran Laut Timor Harus Pula Menyelidiki Perairan Indonesia”.

“Bentuk dukungan ini sangat luar biasa, karena datang juga dari Australia sendiri yang memandang masalah pencemaran tersebut sebagai salah satu bentuk pencemaran lingkungan yang bersifat universal yang harus mendapat perhatian seluruh dunia,” kata Tanoni.

Dalam pengamatannya, ujar mantan Agen Imigrasi Kedutaan Besar Australia itu, hampir semua facebookers mengecam lambannya pemerintah Indonesia dalam mengatasi masalah tersebut, dan terkesan masa bodoh dengan pencemaran minyak yang terjadi di Laut Timor.

Para facebookers di Indonesia juga mengecam pemerintah Federal Australia yang terkesan sengaja mengabaikan persoalan pencemaran minyak di Laut Timor dan menuntut pemerintahan negara itu harus bertanggungjawab.

Masih Menurut Tanoni, Jakarta dan Canberra sudah harus sadar bahwa dunia sekarang ini serba tembus pandang sehingga tidak bisa ditutup-tutupi lagi masalah yang terjadi di Laut Timor saat ini.

“Pesan dari para facebookers ini sebagai peringatan kepada penguasa bahwa bila ada hal-hal yang dirasakan masyarakat tentang adanya ketiadakadilan dan atau tindakan diskriminatif terhadap seseorang atau sekelompok masyarakat di dunia ini pasti akan disuarakan dengan berbagai cara sebagai bentuk penyaluran aspirasi yang positif,” katanya.

Sampai sejauh ini, tambahnya, Jakarta dan Canberra seolah masih saja terus menutupi bencana meledaknya sumur minyak di ladang gas dan minyak Montara yang memuntahkan minyak mentah ke dalam Laut Timor sekitar 500.000 liter setiap hari selama sekitar 80 hari saat ini.

Tanoni mengatakan, pemerintahan kedua negara harus sesegera mungkin melakukan penelitian secara intensif terhadap kerugian ekonomis dan ekologis yang ditimbulkan dengan memberikan kompensasi penuh kepada masyakarat dan melakukan pembersihan Laut Timor seperti sediakala.

Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB)

http://inilah.com/news/read/citizen-journalism/2010/02/02/320211/facebookers-tuntut-penyelesaian-pencemaran-laut/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *