spanduk LBH ApikAda yang unik hari ini, yakni ketika saya meliput acara peresmian LBH APIK Bali yang berlangsung di Hotel Grand Shanti, Jalan Patih Jelantik, Denpasar, Selasa (25/5) pagi.

Acara dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 pagi, namun saya baru tiba di lokasi kira kira pukul 11.10 WITA. Keterlambatan ini bukan karena saya bangun kesiangan, melainkan karena saya harus mengendarai motor bebek butut saya dengan pelan-pelan, karena rantainya sudah mulai longgar sementara saya sedang malas untuk membawanya ke bengkel… (***alesan.com hehehe :p)

Motor saya parkir di ruang parkir lantai dasar, saya masuk ke lobi dan langsung naik ke tangga menuju ruang acara. Di tempat ini saya berjumpa dengan kawan2 wartawan yang ternyata lebih memilih duduk di luar ruangan sambil berbagi berita dan informasi seperti biasa.

Hari ini, Kapolda Bali, Irjen Sutisna  menerima penghargaan dari organisasi perempuan dan anak, serta orang tua yang anaknya menjadi korban perkosaan berantai yang dilakukan tersangka pelaku Moh. Davis Suharto alias Codet.

Codet bukanlah panggilan sehari hari tersangka pemerkosa 6 (enam) siswi Sekolah Dasar di Denpasar periode Januari – awal April 2010 ini.  Nama Codet adalah nama “baptis” yang diberikan wartawan dan media di dalam mempermudah penulisan berita, mengingat saat itu tersangka masih dalam pengejaran petugas dan identitasnya belum diketahui.

Dalam acara deklarasi LBH APIK Bali ini, hadir pula sejumlah tokoh Bali dan nasional, selain Kapolda Bali, Irjen Sutisna, ada juga Nyoman Parta, anggota DPRD Bali dari PDIP, dan Nursyahbani Katjasungkana, Koordinator Federasi Nasional LBH APIK yang juga anggota DPR RI dari PKB.

Namun saya tidak akan membahas tentang anak dibawah umur yang menjadi korban perkosaan si Codet ini atau siapa saja yang datang dan apa materi yang didiskusikan mulai pagi hingga siang hari tersebut. Saya hanya ingin membahas tentang tulisan yang ada di dalam spanduk utama kegiatan tersebut, yang cukup menggelitik saya untuk mengomentarinya.

Spanduk dalam foto ini adalah spanduk utama dalam acara resmi tersebut, dan letaknya persis di depan dan langsung menghadap ke semua tamu dan undangan yang hadir.

spanduk LBH Apik

Sepintas, memang terkesan tidak ada yang salah dalam spanduk tersebut bahkan mungkin sebagian besar orang melihat dan membaca spanduk itu dengan ekspresi yang biasa-biasa saja. Tetapi bagi saya tulisan dalam spanduk itu cukup mengganggu mata saya.

Kata Workshop misalnya, lebih tepat kalau penulisannya menggunakan kata Lokakarya. Demikian pula dengan kata We Can, sebaiknya jika memungkinan lebih tepat jika diganti dengan kata “..Kita Bisa..,” dalam bahasa Indonesia.

Saya tidak mengerti kenapa Federasi Nasional LBH APIK lebih memilih kalimat “WE CAN” di dalam menamai program anti kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak yang kian marak terjadi di berbagai tempat dan kota di Indonesia.

Penggunaan kalimat “WE CAN” ini mengingatkan saya pada masa-masa kampanye pemilihan calon presiden Amerika Serikat Barack Obama dan Partai Demoratnya. Saat itu Obama dan tim kampanyenya selalu mengucapkan janji-janji perubahan sistem politik pemerintahan serta ekonomi Amerika Serikat yang tengah dilanda krisis moneter, dan semua itu selalu diamini dengan motto “..Yes, We Can..!!! “

Kalimat dalam spanduk ini menurut saya benar-benar kacau, tidak beraturan dan cenderung ngawur!!! Kawan-kawan tentu bertanya-tanya kenapa saya sebut ngawur? Jawabannya sudah jelas, karena perancang spanduk ini mencampur-adukkan penggunaan kata-kata dalam bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Parahnya lagi bahasa Inggris yang digunakan pun salah..!!! coba kawan-kawan perhatikan kata “LOUNCHING yang digunakan dalam spanduk tersebut.

Setelah saya buka-buka kamus bahasa Inggris ternyata saya tidak menemukan kata “LOUNCHING” didalamnya. Kata yang paling mendekati LOUNCHING dalam bahasa Inggris tersebut adalah “LAUNCHING“. Pertanyaannya kenapa harus menggunakan kata “LAUNCHING” dan bukan menggunakan kata “Peresmian” ?

***

Berbicara tentang bahasa, saya jadi teringat pada teori “Dasar-Dasar Antropologi” yang membahas “7 (tujuh)  Unsur Kebudayaan Universal”, yakni unsur-unsur dalam kebudayaan manusia dari berbagai macam peradaban dan jaman di seluruh dunia.

Dalam bukunya yang berjudul Universal Categories of Culture, antropolog C. Kluckhohn mengemukakan bahwa Ke-tujuh unsur kebudayaan universal ini masing-masing terdiri atas:  sistem religi (sistem kepercayaan),  sistem teknologi dan peralatan, sistem organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian hidup termasuk didalamnya sistem ekonomi, sistem kesenian dan sistem bahasa.

Dari teori 7 Unsur Kebudayaan Universal tersebut,  sistem bahasa menjadi penting dalam sebuah peradaban kebudayaan. Bahasa baik lisan, tulisan dan gambar tidak hanya menjadi alat komunikasi antar individu satu dengan yang lainnya, atau antara kelompok satu dengan kelompok lainnya, tetapi juga menjadi alat diplomasi antara individu, kelompok hingga antara bangsa.

Bahasa adalah jendela dunia, menguasai lebih dari satu bahasa adalah sebuah kewajiban bagi setiap anak muda bangsa ini demi mengejar ketertinggalan dalam segi apapun dari negara-negara maju.

Menurut hemat saya, bahasa menjadi begitu penting karena siapa yang menguasai bahasa maka dia akan menguasai teknologi, dan siapa yang menguasai teknologi, maka dia akan menguasai dunia.

***

Bahasa menjadi penting dan sangat penting untuk digunakan serta dijaga dengan baik karena bahasa adalah benteng budaya bangsa ini. Jika bahasa Indonesia digunakan dengan baik dan benar sesuai dengan yang dicita-citakan para pendiri bangsa, maka kita sebagai bangsa maritim yang dipisahkan oleh 17.000 pulau besar dan kecil ini akan terikat erat dalam satu tali persatuan, dan tali persatuan itu adalah Bahasa Indonesia!!!

Tetapi jika kita tidak menggunakan dan menjaga benteng budaya kita tersebut dengan baik, maka jangan pernah berharap bahwa negara ini akan tetap dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan nasional, dan itu tertuang tegas dalam deklarasi pemuda nusantara yang kemudian dikenal sebagai SOEMPAH PEMOEDA 28 Oktober 1928. Selain bertanah air satu dan berbangsa satu, para perintis pergerakan kemerdekaan negeri ini memilih berbahasa satu, yang kemudian disebut sebagai Bahasa Indonesia.

***

Kembali membaca tulisan dalam spanduk ini, membuat saya berpikir dan bertanya kembali, “Sudah seburuk inikah Bangsa Indonesia menggunakan bahasanya sendiri?”

Bukankah bahasa adalah bagian dari budaya bangsa? Lantas dimana letak tanggungjawab budaya kita jika membiarkan tulisan-tulisan seperti dalam spanduk LBH APIK Bali ini terus menerus terjadi.

Tulisan pada spanduk diatas semakin meyakinkan saya bahwa budaya sudah benar-benar sudah hancur. Ibarat sebuah kapal, kita sedang menaiki kapal yang keropos dan berlubang disana sini akibat infiltrasi bahasa (budaya) asing yang begitu hebatnya dalam setiap aspek kehidupan kita. Parahnya lagi,.. kita dengan sengaja membiarkan hantaman dan gerogotan budaya asing itu tetap terus terjadi sepanjang waktu tanpa berusaha dihentikan sama sekali.

Solusi satu-satunya adalah mari kita jaga “benteng budaya” kita dengan baik, mari kita berjanji dan bersumpah pada diri kita sendiri untuk selalu memperkenalkan Bahasa Indonesia kita hingga ke manca negara, sehingga semua bangsa di dunia ini mengenal benteng budaya kita dengan baik.

Dalam catatan saya, Barack Obama (Presiden Amerika Serikat 2009 – sekarang), Dato’ Seri Mohd Najib Abdul Razak (Perdana Menteri Malaysia 2009 – sekarang) dan Lee Myung-bak (Presiden Korea Selatan 2008 – sekarang) adalah tiga pemimpin dunia yang dapat berbahasa Indonesia dengan lancar. Barack Obama dapat berbahasa Indonesia karena pernah tinggal dan bersekolah di Jakarta. Dato’ Seri Mohd Najib Abdul Razak, karena merupakan anak keturunan imigran bugis di Malaysia dan Lee Myung-bak pernah menetap beberapa tahun di Jakarta saat dirinya menjabat sebagai pucuk pimpinan perusahaan Korea di kawasan Bekasi.(G)


4 thoughts on “Makin Buruknya Cara Kita Berbahasa Indonesia”
  1. Bahasa dan budaya adalah cermin sebuah bangsa. Bangsa kita yang menafikan sejarah dan acuh tak acuh dalam pelestarian budaya, puluhan tahun ke depan akan menuai generasi yang tidak punya identitas kebangsaan.

    Aku prihatin padamu, Indonesia.

  2. wahhh…
    sedih dan mau liatnya.

    sementara orang2 sibuk untuk fasih berbahasa asing, bahasa sendiri justru kacau.

  3. Mata kritis yg “melihat sesuatu” itu biasa, namun mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan dan kemudian berbagi, itu sungguh lebih dari biasa….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *