Menemukan Boeing 737-200 Adam Air

Menemukan Boeing 737-200 Adam Air

Usai mandi, saya pun bergegas berganti baju dan bersiap mencari tempat untuk makan malam ini. Waktu sudah beranjak ke pukul 18.30 petang, dan gerimis pun masih turun membungkus senja menuju malam.

Dari lobby hotel, saya keluar menuju Malioboro, tidak sampai seratus meter dari mulut gang di sebelah kanan saya ada angkringan. Sedangkan dari gang menuju Malioboro jaraknya sekitar 700 – 800 meter.

Saya pun memutuskan berjalan kaki sambil menikmati rintik-rintik gerimis. Sepanjang jalan yang basah ini, tidak sedikit daun yang tergeletak berguguran setelah dihantam angin kecang siang tadi.

Untuk mengusir dingin, saya pun memesan segelas jahe hangat. Dari gerobak sebelah angkringan saya juga memesan satu porsi sate ayam dan lima tusuk sate kambing. Sambil menunggu sate ala Madura selesai dibakar, saya mengganjal perut dengan beberapa potong tempe dan tahu bacem,.. hhmm benar-benar nikmat.

Tanpa terasa, lima potong tahu dan tempe bacem berpindah dari piring ke dalam perut saya. Sate pesanan saya pun tiba dan saya langsung menghajarnya hingga tak bersisa lagi.

Tahun ini, kali kedua saya mengunjungi kota yang hangat penuh persaudaraan ini. Pertama adalah Januari lalu, saya menghabiskan waktu 3-4 hari di kota ini, saat itu saya menghabiskan akhir pekan disini.

Usai mengisi perut, saya pun bergegas membayar makanan yang saya santap tadi dan kemudian berjalan kaki menuju Malioboro. 15 menit kemudian saya pun tiba di jalanan yang cukup mendunia ini. Kalau ke Jogja dan tidak singgah ke Malioboro maka belum genaplah kunjungan itu, sama seperti halnya jika ke Bali dan tidak berkunjung ke Pantai Kuta maka belum genaplah wisata itu.

Tiba di Malioboro, gerimis pun sudah berubah menjadi hujan lebat dan saya memutuskan untuk tetap berjalan menyusuri Malioboro ini, entah sudah berapa puluh kali saya menyusuri jalanan ini sejak pertama kali saya ke Jogja 1993 silam. Karena hampir setiap tahun atau dua tahun sekali saya selalu mengunjungi kota yang sarat dengan kreatifitas seniman jalanan yang tidak pernah membosankan ini.

Malam ini saya tidak berniat berbelanja apapun, saya hanya sekedar cuci mata melepas penat menikmati dingin malam. Tetapi niat saya gugur dengan sendirinya saat mata saya terantuk pada miniatur pesawat terbang yang dipajang dalam etalase kaca di depan sebuah toko.

Hhmmm.. benar-benar merusak mata, mengganggu iman dan tentu saja merusak kantong saya hahaha.. :), Daripada mimpi penasaran, saya pun mampir ke toko itu dan melihat-lihat siapa tahu saya sudah punya semua miniatur pesawat yang dipajang disana.

Dan ternyata dugaan saya salah, karena saya menemukan salah satu miniatur yang sama sekali belum saya punya. Hampir semua miniatur maskapai penerbangan sipil di Indonesia sudah menghiasi lemari pajang di kamar saya, dan saya belum punya yang satu ini, yakni model Boeing 737-200 milik Adam Air yang sudah tidak beroperasi lagi.

Adam Air, Model Boeing 737-200

Saya perhatikan detailnya, mulai dari hidung, badan, sayap pesawat dan saya ekor, serta dudukan miniatur itu. Kendati tidak sempurna benar, namun saya terpaksa merogoh kocek untuk membeli miniatur yang sebentar lagi akan menjadi barang langka. ;)

Harga Rp.50.ooo untuk ukuran miniatur dengan skala 1:200 cukup murah, pheew… akhirnya miniatur ini pun pindah ke tangan saya dan siap menghiasi lemari pajang di kamar saya.(G)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *