Datang, Duduk, Diem, Duit,..

Siang tadi saya menemani kawan-kawan bertandang ke kantor Badan Narkotika Kota S di Jawa Tengah. Tujuan kawan-kawan saya ke tempat ini adalah untuk bertukar pikiran tentang program kerja apa yang bisa disinergikan antara BNK “S” dengan organisasi komunitas pengguna NAPZA dimana kawan-kawan saya mengabdi.

Saya, Mbak Y dan Ira tiba lebih dahulu di gedung berlantai 7 ini, sementara Arif tiba 30 menit setelah kami bertiga dan pejabat berinisial TH tersebut bertukar pandangan tentang sinergitas program kerja antar lembaga yang menangani para pengguna NAPZA ini.

Setelah puas bertukar pandangan dan menerima masukan dari Mbak Y dan Ira, pejabat tersebut kemudian bertanya kepada saya.

“Maaf kalo mas darimana dan apa ada yang ingin disampaikan?,” ungkap pejabat tersebut.

“Oh kalau saya dari NapzaIndonesia.com pak, media yang khusus bicara tentang pengguna NAPZA dan regulasi kebijakan NAPZA di Indonesia.” papar saya.

“Oh, kalau gitu kapan-kapan saya tolong dibawakan majalahnya kemari ya, saya ingin baca,” ungkap spontan pejabat tersebut.

“hhmm.. maaf pak, majalah kami ini kami terbitkan secara online dan bukan cetak, itung-itung berhemat penggunaan kertas.” papar saya.

Pejabat itu terlihat mengangguk keheranan mencoba mencerna apa yang baru saya sampaikan, dan itu terlihat jelas dari wajahnya yang agak bulat dan dengan kaca mata bulat yang menggantung dipangkal hidungnya itu.

“Jadi media kami ini, media khusus pecandu, karena biasanya kawan-kawan pengguna NAPZA hanya dibutuhkan oleh media cetak dan elektronik secara umum saat seremonial peringatan Hari Anti Madat Internasional dan Hari AIDS Internasional, selebihnya ya hilang ditelan kesibukan berita-berita lainnya, hingga nyaris tidak tersentuh pemberitaan sama sekali, kecuali berita penangkapan atau persidangan para pengguna NAPZA, itupun dari sisi tindak kriminal yang dilakukannya dan bukan karena adiksi yang diderita para pengguna NAPZA tersebut.” terang saya panjang lebar.

Kening pejabat tersebut tiba tiba menjadi sedikit berkerut.

“hhmm.. kami juga memberitakan berita tentang kegiatan BNN, BNP dan BNK, jadi jika bapak di BNK ini punya kegiatan sosialisasi ke sekolah-sekolah, silahkan menghubungi kami dan dapat kami beritakan,” papar saya lagi.

“Wah bagus itu, saya suka itu, kebetulan di lantai II sedang ada penyuluhan kepada para mahasiswa perguruan tinggi di kota ini,” ujar pejabat ini.

kami, saya dan kawan-kawan mengangguk seraya mengiyakan, tanpa mengerti maksudnya.

“Silahkan saja langsung bergabung, ga usah ngomong apa-apa, cuma Datang, Duduk, Diam, dan terima Duit, masak hanya anggota dewan saja yang bisa begitu, ha ha ha..” imbuhnya sambil terbahak penuh arti.

Belum selesai saya mencerna maksudnya, sang pejabat ini pun nyerocos terus.

“Saya ini pejabat eselon IV dan gaji saya kurang dari 3juta, mana cukup gaji saya sebagai PNS untuk menghidupi istri dan anak-anak saya sehari-hari, mana bisa saya punya rumah dan mobil walaupun bekas. Kalo ada proyek 10juta maka hanya 8juta saja yang kita gunakan, sisanya yang 2juta itu kita bagi-bagi sesama panitia. Siapa sih yang ga korupsi di jaman sekarang ini, mulai dari presiden sampai RT, semuanya korupsi, hahaha” ungkapnya sambil tertawa bangga.

“lha ga usah jauh-jauh saja pak, tukang parkir aja ketika tidak menyerahkan karcis parkir kepada kita ya artinya sama saja dengan korupsi walaupun dalam jumlah kecil,” ujar saya berusaha menimpali agar sang pejabat tidak melihat ekspresi alergi pada wajah saya atas ungkapan hatinya tersebut.

“ayoo kita ke bawah saja, Datang, Duduk, Diam dan terima Duit, hhmm enak tho, ga usah ngapa-ngapain tapi terima duit,” seraya menggiring kami menuju lantai II gedung tersebut.

Kami pun segera keluar ruangan, masuk ke lift dan kemudian menuju ke lantai II gedung yang berdiri megah di pusat kota S tersebut.

Setibanya di ruangan yang dimaksud pejabat tersebut, kami pun langsung mengisi absensi dan kemudian masuk ke ruangan, 10menit kami berada didalam ruangan pertemuan itupun, baru sadar jika itu adalah acara penyuluhan bahaya narkoba BNK setempat dan pesertanya adalah para Menwa dan UKM mahasiswa lainnya dari berbagai universitas di kota setempat.

Tentu saja sebuah penyuluhan yang sangat tidak menarik dan membosankan untuk para mahasiswa, karena para pembicara adalah orang-orang atau individu yang tidak pernah mengalami adiksi atau ketergantungan kepada NAPZA.

Tentu akan berbeda jika acara penyuluhan tersebut yang hadir sebagai pembicara adalah orang-orang atau individu yang memang pecandu atau mantan pecandu narkoba dan tentu saja akan lebih mengena sasaran.

30 menit kami didalam ruangan itu, kami sudah Datang, Duduk dan Diam, mendengarkan penyuluhan yang membosankan, dan setelah itu kami pulang, kami malas dan sama sekali tidak berminat pada ceramah monolog yang begitu “KOPLAK” dan bukan dialog interaktif itu.

Sementara kepada para pejabat yang duduk di meja depan para peserta yang hadir, kami pamit dengan tanpa berminat pada “D” yang terakhir seperti iming-iming yang dilakukan pejabat BNK tersebut.

Bagi kami cukup 3D (Datang, Duduk, Dengarkan) saja dan bukan 4D (Datang, Duduk, Diam, Duit) seperti yang dilakukan oleh banyak pejabat sekarang ini.(Gen)

5 thoughts on “Datang, Duduk, Diam, Duit, Hmmm..”
  1. wah… itu tadi mau dibilang lucu, tapi kok ngeselin… orang kerja dalam bidang NAPZA yang seharusnya ngerti tentang NAPZA dan adiksi, eeh malah menciptakan stereotype negatif tentang pecandu… ngajakin korupsi pula… nuwun sewu, bapak TH kalo tadi kita terusin denger “ceramah menyesatkan” tersebut, maka kami sudah melakukan korupsi waktu…yang seharusnya bisa untuk mengerjakan sesuatu, malah digunakan untuk Datang, Duduk, Dengarkan hujatan dari pembicara “koplak”… *_^

  2. Mas, sebelumnya saya mohon maaf ya… Seumpama nanti saya sudah mencapai Eselon tersebut dan sempat nyeletuk hal yang serupa, mbok ya jangan ditulis dan diedarkan ke Umum gitu loh… hehehe…

  3. Terus Terang, saya sih maklum”saja dengan proyek 10jt, disunat 2jt… wong kerap terlibat didalamnya kok… maka itu, yang namanya KUALITAS sangat jarang bisa mencapai STANDAR. Kalopun kami”ini memaksakan kehendak agar minimal mendekati Standar, sudah bisa ditebak… kalo tidak teguran ya Mutasi. Huahahaha…

  4. Generasi pesimis yang meracuni moral bangsa.

    Nanti beliau akan bercerita pada anak cucu-nya,” Kalau besar nanti jadilah koruptor seperti Bapak ya Leee….”. Kalau kamu tidak jadi koruptor, pasti kamu tidak bisa makan dan punya istri dua, bla..bla..bla…

    Ah, jadi terinspirasi. Bila kubesar nanti, ku-ingin jadi koruptor *singing….

  5. saya ga ngerti..pendidikan yg mrk “orang2 hebat” dr kecil sampai segitu pinternya “curi duit” itu di dapat dr pendidikan yang benar…atau mereka itu orang2 yang gak benar…atau…di otak mereka hanya melulu uang…ckckck…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *