Bung Karno

Hari ini di Bandung, Koordinator Nasional Koalisi Kerakyatan, Moh Jumhur Hidayat menyerukan Pemerintah Belanda harus minta maaf kepada pemerintah dan rakyat Indonesia karena telah menjajah Indonesia.

“Permintaan maaf itu harus disampaikan secara terbuka kepada seluruh rakyat Indonesia atas penjajahan selama ratusan tahun sekaligus mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945,” katanya di Gedung Indonesia Menggugat di Bandung, Kamis (7/10).

Gedung Indonesia Menggugat menjadi simbol perlawanan rakyat Indonesia atas pemerintahan kolonial Belanda dan di gedung itu Soekarno pernah diadili oleh Belanda karena perlawanannya terhadap Belanda.

Menurut AntaraNews, Jumhur menyampaikan pernyataan itu saat bersama elemen masyarakat dan tokoh Jawa Barat menggelar “Pernyataan Sikap Masyarakat  Jawa Barat Mendukung Presiden SBY dalam Menegakkan Kehormatan Bangsa”.

Pernyataan itu antara lain menghendaki agar SBY menata ulang hubungan Indonesia-Belanda ke arah bentuk penghormatan serta menjaga kemartabatan nasional Indonesia bukan atas dasar penistaan ataupun menciptakan pelecehan yang bertendensi merusak nama baik Indonesia di mata internasional.

“Pemerintah Belanda tidak boleh lupa dengan sejarah perlawanan bangsa Indonesia dan pernyataan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 itu, sehingga mereka harus mengerti betapa mahalnya pengorbanan bangsa kita menjadi merdeka,” kata Jumhur berapi-api disambut yel-yel ratusan hadirin.

Belanda masih mengakui bahwa kemerdekaan Indonesia pada tahun 1949 bukan 1945.

Bahkan, katanya, pemerintah Belanda harus bersedia mengganti segala kerugian yang diderita bangsa Indonesia selama masa penjajahan yang menistakan itu.

“Jika tidak, pemerintah Belanda tak akan pernah bisa dihormati oleh rakyat Indonesia sampai kapan pun,” kata Jumhur yang juga Ketua Umum Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Gaspermindo) itu.

Dalam kesempatan itu disampaikan pula dukungan masyarakat Jawa Barat terkait penundaan kunjungan Presiden Yudhoyono ke Belanda sebagai perwujudan sikap tegas menjaga kedaulatan dan harga diri Bangsa Indonesia..

Belanda Tidak Pernah Menjajah Indonesia!!

Bung Karno dan Mao Tze Tung

Menanggapi petikan berita yang disiarkan AntaraNews tersebut diatas, saya hanya bisa tersenyum kecut. Bagaimana tidak tersenyum kecut ketika melihat pemahaman anak muda bangsa ini atas sejarah bangsanya sendiri sangat kacau balau.

Seruan Jumhur Hidayat bahwa Pemerintah Belanda harus meminta maaf kepada Pemerintah dan Rakyat Indonesia karena telah MENJAJAH Indonesia adalah sebuah seruan yang terlontar akibat tidak memahami sejarah bangsa Indonesia secara baik dan benar.

Bagaimanapun juga sejarah tetap harus diluruskan. Tulisan saya ini bukan atau sama sekali tidak bermaksud menggurui siapapun, Kita, bangsa Indonesia baru ada secara resmi pada 17 Agustus 1945, seiring dengan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Jika kita mau melihat ke belakang dengan jujur, maka jauh sebelum itu, belum ada yang namanya Republik Indonesia dan Bangsa Indonesia, yang ada adalah bibit-bibit bangsa Indonesia yang disemaikan di ladang perjuangan menjadi sebuah bangsa.

Bagi saya periode 1912-1945 adalah proses persemaian bibit bangsa menjadi apa yang kemudian disebut sebagai bangsa Indonesia.

Jauh sebelum kemerdekaan diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta atas nama Bangsa Indonesia, sejarah juga mencatat hanya ada empat organisasi perjuangan yang benar-benar menggunakan kata “Indonesia” dalam bahasa Indonesia, yakni pertama Partai Komunis Indonesia (PKI) yang berdiri pada 24 Mei 1920 dengan Semaun sebagai ketua.

Kedua, Perserikatan Nasionalis Indonesia (PNI) yang berdiri pada 4 Juli 1927 dan kemudian pada 30 Juli 1928 berganti nama menjadi Partai Nasionalis Indonesia dengan Bung Karno sebagai ketua.

Ketiga Partai Indonesia (Partindo) yang berdiri pada 30 April 1931 dengan Mr Sartono sebagai ketua dan keempat,  Gerakan Rakjat Indonesia (Gerindo) pada 24 Mei 1937 dengan AK Gani sebagai ketua.

Sementara organisasi-organisasi perjuangan lainnya masih agak alergi menggunakan kata “Indonesia” tetapi lebih suka menggunakan kata “Indisch” dan “Indische” yang artinya lebih tepat merujuk pada kata “Hindia” atau “India”.

Jika Jumhur Hidayat dan kawan-kawan menyebutkan bahwa Belanda MENJAJAH kita (bangsa Indonesia), bagi saya itu sebuah kesalahan fatal dan sangat memalukan, karena yang benar adalah Belanda menjajah kepulauan nusantara yang terdiri atas pulau-pulau dan wilayah-wilayah yang dikuasai oleh raja dan sultan nusantara, dan bukan sebuah wilayah yang dikuasai oleh pemerintah dan rakyat Indonesia.

Sebagai bangsa Indonesia yang bermartabat, kita tidak perlu menuntut Pemerintah Kerajaan Belanda untuk meminta maaf atas kolonialisasi yang pernah dilakukannya atas nusantara sebelum 1945, karena hampir sebagian besar dari raja-raja nusantara justru tidak anti pada bangsa-bangsa Belanda, Portugis, Spanyol, Inggris, dan Jepang (pada sebagian besar wilayah nusantara), sementara Belgia, Cina, Prancis, dan Jerman (kasuistik) yang silih berganti menjadikan setiap kerajaan di kepulauan nusantara ini sebagai daerah “koloni” mereka masing-masing.

Jadi bagi saya seruan Jumhur Hidayat dan kawan-kawan itu harus diluruskan, karena (maaf) kita tidak perlu merasa harus menjadi Nasionalis dalam teori tetapi tidak dalam praktek kehidupan berbangsa dan bernegara sehari-hari!!

Bung Karno

Antara Nasionalisme Bung Karno, SBY dan Anak Muda Kita Sekarang ini
Bung Karno sejak umur 25 tahun sudah memimpin partai politik, pada umur 29 tahun sudah masuk penjara Belanda. Dari penjara inilah Bung Karno lebih punya waktu untuk belajar lebih matang dalam berpolitik.

Sekeluarnya dari penjara, Bung Karno kemudian melahirkan idiologi perjuangan bangsa yang kemudian kita kenal sebagai Marhaenisme, yang tidak lain adalah varian baru dari Marxisme versi Indonesia.

Itu sebabnya ketika de-Soekarnoisasi yang dimulai pada 1978, ajaran Marhaenisme dilarang oleh pemerintah Orde Baru dengan menggunakan kekuatan ABRI (TNI) sebagai “anjing penjaga”

Jika ditarik kebelakang pada 1926, Bung Karno sudah membukukan teori perjuangannya yang diberi judul Nasionalis, Islamisme, dan Marxisme yang kemudian dimasa Demokrasi Terpimpin di era Orde Lama, berubah menjadi Nasionalisme, Agama dan Komunisme (Nasakom).

Nasionalisme sejati bangsa ini adalah praktek dari teori Pancasila-Marhaenisme-Nasakom yang sama sekali dengan tegas tidak boleh dipisahkan satu sama lain. Pancasila-Marhaenisme-Nasakom adalah Soekarno dan Revolusi Indonesia, demikian juga sebaliknya.!!

Nasionalisme sejati bangsa ini adalah praktek menuju berdikari dan kemandirian bangsa ini untuk menjadi bangsa yang mandiri, berdikari dan tidak tergantung pada bangsa-bangsa lain.

Tetapi Orde Baru telah merubah jiwa dan semangat nasionalisme sejati itu dengan memisahkan Pancasila dari Marhaenisme-Nasakom. Orde Baru telah membunuh Marhaenisme-Nasakom dan kemudian menguburkannya dalam-dalam.

Bahkan hingga hari ini, para perwira menengah hingga perwira tinggi TNI, khususnya TNI-AD, setiap menjelang peringatan 1 Oktober 1965, selalu memunculkan hantu-hantu komunisme dalam jargon “Awas Bahaya Laten Komunisme”.

Dalam masa 32 tahun berkuasa secara resmi, Orde Baru telah menyekap dan memenjarakan Pancasila dalam kerangkeng baja isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan) dan demokrasi semu sistem tiga partai.

Orde baru telah menjadi bangsa Indonesia sebagai bangsa yang tergantung dan tidak berdaya atas bangsa-bangsa lain dalam banyak bidang.

Disadari atau tidak, hingga runtuhnya Orde Baru dan munculnya Orde Reformasi kita selalu bergantung pada negara lain baik secara idiologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan kemanan.

Nyaris mirip dengan Bung Karno sebagai tokoh yang kontroversial dalam politik pencitraan dirinya, SBY yang mewarisi “dosa” Orde Baru dan juga pemimpin Orde Reformasi sebelumnya dengan berusaha bangkit dengan keterbatasan yang ada.

Dalam banyak hal SBY berusaha memulihkan citra bangsa, tetapi SBY belum dapat membuat bangsa ini lepas dari ketergantungan dan tekanan bangsa-bangsa lain dalam banyak bidang agar kita menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan terhormat.

Kembali pada peristiwa penundaan SBY ke Belanda dua hari lalu, bagi saya bukan tanpa alasan jika Jumhur Hidayat berkata seperti itu.

Atas nama kehormatan dan martabat bangsa Indonesia, Jumhur Hidayat dengan lantang mengatakan bahwa “Permintaan maaf itu harus disampaikan secara terbuka kepada seluruh rakyat Indonesia atas penjajahan selama ratusan tahun sekaligus mengakui kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945”.

Dalam hal menjaga kehormatan dan martabat bangsa, saya sepakat dengan Jumhur Hidayat. Tetapi jika itu disampaikan dan dilakukan dengan pengetahuan akan sejarah bangsa yang tidak benar, tentu saja harus segera diluruskan, agar tidak terjadi kejadian serupa di masa-masa berikutnya.

Bagi saya, berhati-hatilah dengan nasionalisme semu yang kerap lebih lancar diucapkan daripada dipraktekkan oleh setiap orang yang mengaku dirinya anak bangsa Indonesia.

Aksi yang dilakukan oleh Jumhur Hidayat dkk jauh panggang dari api, Jumhur melakukan aksi di Gedung Indonesia menggugat, yang merupakan tempat Bung Karno melakukan pledoi berupa kritik melawan kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda pada 1929.

Kritik atas kebijakan yang kerap menindas warganya sendiri, warga Nerderlands Indie atau Hindia Belanda, baik itu warga pribumi yang berkulit sawo matang, atau pun warga keturunan hasil kawin campur Indo-Belanda ataupun Indo-Cina.

Mengambil lokasi aksi di gedung Indonesia Menggugat, Jumhur Hidayat dan kawan-kawan tentu ingin menunjukan bahwa semangat nasionalisme di kalangan anak muda bangsa ini masih ada dan tidak pernah padam!! Tetapi sekali lagi berhati-hatilah dari nasionalisme semu..!!

Akhir kata, saya kemudian teringat pada pidato Bung Karno diujung kekuasaannya yang berjudul “Jasmerah”.

Dalam pidato itu, Bung Karno menyerukan kepada segenap pendukungnya dan bangsa Indonesia agar “Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah”.

Bagi saya, apa yang diucapkan Bung Karno ketika itu bukan hanya sekedar seruan semata, bukan hanya sekedar cuap-cuap di depan podium untuk gagah-gagahan, tetapi lebih dari itu.

Bahwa apa yang disampaikan Bung Karno dalam pidatonya yang berjudul Jas Merah itu adalah PERINTAH!!! ya sebuah PERINTAH yang bukan hanya didengar tetapi juga harus dilaksanakan agar bangsa kita menjadi sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini dan lepas dari cengkraman gurita kapitalisme internasional dan juga neoliberalisme!!!

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *