Lagi, Dunia Teknologi Informasi Dituding Penyebab Seks Bebas dan Penyalahgunaan Narkoba

IE

Lagi-lagi internet dan dunia teknologi informasi dituding sebagai kambing hitam perilaku seks bebas dan kecanduan narkoba. Tudingan “tidak berdasar” ini disampaikan Maryatun, seorang pemerhati kesehatan reproduksi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Aisyiah, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu 16 Oktober 2010.

Menurut Maryatun, remaja zaman sekarang rentan terhadap seks bebas dan narkoba. Hal ini akibat kurang kontrolnya terhadap perkembangan teknologi informasi yang menyebar secara bebas.

“Jika teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini tidak dilakukan kontrol dan pemahaman dengan baik, akan menjadi titik awal mula seks bebas dan penyalahgunaan narkoba,” papar Maryatun dalam seminar tentang “Kesehatan Reproduksi Remaja dan Narkoba” di Sukoharjo.

Menurut Maryatun, hasil survei Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) secara nasional terdata bahwa sebanyak 66 persen remaja putri usia sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) tidak lagi perawan yang artinya pada usia sekolah tersebut mereka sudah mengenal seks bebas.

“Selain itu, pada saat usia tersebut, terdapat satu dari tujuh anak laki-laki sudah masuk kepada usia coba-coba, yakni mereka akan melakukan coba-coba baik terhadap seks, rokok, maupun narkoba,” katanya.

Menurut AntaraNews, Maryatun mengatakan, sangat tidak menutup kemungkinan adanya peningkatan angka kejahatan reproduksi dan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja saat ini.

“Misalnya soal kehamilan usia dini atau kehamilan akibat tindak kejahatan, dan perilaku seks bebas yang terjadi pada remaja,” katanya.

Menurut survei, katanya, saat ini didapati bahwa usia rata-rata pernikahan terjadi pada umur 19 tahun.

“Hal ini tentu sangat bahaya dan tidak baik terhadap kesehatan reproduksi, karena seluruh organ reproduksi belum terbentuk sempurna,” katanya.

Ia mengatakan, pernikahan secara ideal mulai pada usia 21 tahun.

“Terkait hal tersebut, saat ini kami memang gencar melakukan penyuluhan bagi para pelajar mengenai pemahaman akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi remaja dan bahaya narkoba,” katanya.

Tujuan penyuluhan itu, katanya, agar para siswa bisa menjadi penyuluh lanjutan dan menularkan kepada siswa yang lain akan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan bahaya narkoba, katanya.

shinchi.co.cc

Justifikasi Kontrol Negara atas Generasi Muda
Apa yang disampaikan oleh Maryatun ini tidak sepenuhnya benar dan dapat dijadikan acuan untuk membenarkan sesuatu dan kemudian menyalahkan atau menjadikan sesuatu sebagai kambing-hitam dari sebuah persoalan sosial.

Pertama, saya sepakat jika kontrol terhadap dunia teknologi informasi memang perlu dilakukan negara dengan syarat bahwa kontrol itu harus cerdas, seperti halnya yang dilakukan pemerintah China dalam menjaga moralitas anak muda yang merupakan generasi penerus bangsa.

Menurut pemerintah negeri tirai bambu ini, pornografi dan seks bebas merupakan alat kampanye pemerintahan barat, dan dapat merusak moral dan karakter generasi muda bangsa China.

Saya melihat pernyataan yang disampaikan oleh Maryatun, tidak lebih dari pemahaman yang minim tentang dunia teknologi informasi dalam arti luas.

Maryatun juga tidak boleh bersikap seenak-perutnya mengkambinghitamkan kebebasan dalam dunia teknologi informasi sebagai “biang kerok” turunnya moralitas remaja dan anak muda bangsa ini.

Kedua, Dalam berbagai penyuluhan yang didanai oleh pemerintah, baik yang dilakukan oleh Departemen/Dinas Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), Badan Narkotika Nasional (BNN), Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) selalu menggunakan jargon-jargon yang menghakimi anak muda bangsa ini, misalnya saja dengan kata atau kalimat “seminar kenakalan remaja”.

Jika selalu ada seminar kenakalan bagi remaja dan generasi lantas mengapa tidak ada seminar kenakalan bagi orang dewasa dan generasi tua lainnya? yang korup dan gemar selingkuh?? hmmmm.. sesuatu yang tidak adil bukan?

Kendati jutaan kali seminar dan sarasehan kenakalan remaja digelar oleh pemerintah kita, namun tetap saja kenakalan itu terjadi dan terus terjadi tanpa pernah bisa dihentikan dari generasi satu ke generasi lainnya.

Jika perilaku seks bebas dan penyalahgunaan narkoba terus terjadi dari generasi ke generasi, berarti ada yang salah dengan alat atau instrumen yang digunakan oleh negara ini dalam mengatasi persoalan seks bebas dan penyalahgunaan narkoba.

Persoalan moralitas bangsa adalah persoalan sosial dan yang namanya persoalan atau masalah sosial bukanlah masalah kepastian seperti dalam ilmu matematika yang 1 + 1 = 2. Persoalan sosial adalah persoalan yang bersifat dinamis karena terus terjadi dan berkembang menyesuaikan jaman, karena itu jarang sekali ada persoalan sosial yang bisa diselesaikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, karena semua bergantung pada dinamika jaman itu sendiri.

Seks Bebas dan Penggunaan Narkoba Telah Berlangsung Seumur Hidup Manusia
Seks bebas dan penggunaan narkoba (candu) telah berlangsung selama jutaan tahun silam, keduanya merupakan warisan abadi nenek moyang manusia atau Homo Sapien sapien sejak mulai hidup berkelompok.

Karmawibhangga, wikipedia.com

Contoh yang paling nyata ada pada relief Karmawibhangga yang dapat ditemukan terukir pada dinding dasar Candi Borobudur di Jawa Tengah. Relief candi yang dibangun pada abad ke-8 di jaman Dinasti Syailendra itu menceritakan tentang perilaku sosial masyarakat di jaman itu, termasuk diantaranya seks bebas, mabuk-mabukan (alkohol), dan penggunaan madat (candu).

Bukti bukti arkeologis dan sejarah nusantara juga menunjukan bahwa saat nusantara memasuki era kolonialisme yang dilakukan bangsa-bangsa Eropa, ganja dan candu dalam hal ini opium sudah menjadi salah satu komoditi yang memiliki nilai ekonomis tinggi selain cengkeh, kayu manis, dan lada yang diperjualbelikan oleh bangsa-bangsa barat.

Oei Tiong Ham

Dimasa sebelum 1940-an, Majoor China Oei Tiong Ham, warga Tionghoa asal Semarang, selain dijuluki sebagai raja gula dunia, konon juga disebut-sebut sebagai raja opium.

Contoh lain adalah Kartosoewirjo, ayah Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Pemimpin DI/TII Jawa Barat disebut-sebut sebagai pedagang besar candu asal Cepu, Jawa Tengah.

Di akhir era 80-an, sebelum bangsa Indonesia mengenal dunia teknologi informasi, persoalan seks bebas dan penyalahgunaan narkoba telah menjadi persoalan serius bangsa ini. Saya yakin tidak sedikit anak muda di era 80-an yang sudah mengenal dunia seks bebas dan penyalahgunaan narkoba.

Jika di era teknologi informasi saat ini anak muda dan remaja Indonesia mengakses situs-situs porno, maka di era 80-an, anak muda di jaman itu mengakses sesuatu yang berbau porno melalui buku-buku stensilan karya Enny Arrow dan novel picisan Nick Carter.

Intinya, tanpa bermaksud menggurui siapapun, tetapi persoalan seks bebas dan penyalahgunaan narkotika bukan melulu salah dunia teknologi informasi yang bebas dan mudah diakses, tetapi lebih cenderung kepada persoalan politik kebijakan negara. Apakah negara ini mau serius menangani persoalan ini atau tidak.

Jika negara serius maka sudah seharusnya negara membatasi akses situs yang bermuatan konten pornografi dan bukan hanya berkoar-koar dalam banyak retorika politik.(*)

1 Comment

  1. tulisan yang menarik dan cukup membuat kita merenung, apakah uu pornografi dapat membendung serangan budaya dunia luar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *