65 Tahun Lalu, Saat Peringatan 17 Tahun “Soempah Pemoeda”

Churen "Merah-Putih"

Hari ini, tepat 65 tahun lalu, pesawat militer berbendera Merah Putih pertama Indonesia melayang pagi hari di udara Kesultanan Yogjakarta.

Semula tidak ada yang tahu siapa yang menerbangkan pesawat berbendera Merah Putih di pagi hari itu, karena selama ini orang hanya mengenal pesawat-pesawat berbendera Belanda atau pun Jepang.

Setelah berputar beberapa kali di atas alun-alun kota yang saat itu penuh oleh warga Jogjakarta, akhirnya masyarakat Jogja pun mengetahui jika penerbang pesawat itu adalah Agustinus Adisutjipto dan juru teknik udara Doekri Soekirno.

Pesawat Merah-Putih pertama ini adalah pesawat Churen (sebagian orang menyebutnya Chureng), jenis pesawat latih biplane (bersayap ganda susun atas bawah) buatan Jepang 1933.

Churen "Merah-Putih"

Pesawat ini dibawa dari Jepang, guna kepentingan pendirian sekolah penerbang AL Jepang dengan merekrut para pemuda-pemuda pribumi, karena Jepang sendiri mulai banyak kehilangan banyak penerbang militer mereka pasca serbuan Kamikaze (bunuh diri dengan cara menukikkan dan menabrakan pesawat Zero mereka ke cerobong asap kapal-kapal perang Amerika Serikat) mereka ke Pangkalan AL Amerika di Pearl Harbour Hawaii Desember 1941.

Hanya saja sebelum sekolah penerbang ini berdiri, Jepang sudah menyerah kepada Sekutu dalam hal ini Amerika Serikat setelah serangan atas Hirosima dan Nagasaki, dua kota industri utama Jepang (14Agustus 1945).

Doekri Soekirno dalam memoarnya yang berjudul “Mengalami Perjuangan Revolusi Fisik Indonesia 1945-1950, Khususnya di AURI” mengatakan bahwa keberhasilan penerbangan pertama pesawat Indonesia berlogo Merah-Putih itu, sekaligus juga merupakan keberhasilan perjuangan para ahli teknik udara Indonesia.

Berkat keahlian para juru teknik udara ini, pesawat-pesawat bekas dan rongsokan dari sayap udara Kaigun Nagamatsu Butai (AL Jepang) dan Militaire Luchtvaart (ML) (AU Belanda) yang teronggok di Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta, berhasil diperbaiki. Pesawat-pesawat ini kembali dapat diterbangkan sebagai modal awal cikal bakal tumbuhnya kekuatan udara Indonesia.

Kerja keras untuk menerbangkan pesawat pertama Republik Indonesia (RI) bertanda “Merah-Putih” itu, tidak bisa lepas dari kerja keras Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma yang ditugasi Presiden Soekarno membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) Oedara.

Tujuan penerbangan bersejarah Merah Putih pertama ini cukup sederhana, yakni menggelorakan semangat perjuangan revolusioner di kalangan muda bangsa Indonesia dengan semangat “Soempah Pemoeda” 28 Oktober 1928 yang pada saat itu genap berusia 17 tahun, sebuah angka yang cukup monumental dikalangan anak muda sepanjang masa.

Komodor Oedara Agustinus Adisutjipto

Agustinus Adisutjipto sendiri gugur pada 29 Juli 1947 sore hari, bersamaan dengan jatuhnya pesawat C-47 Dakota milik Patnaik, seorang pengusaha India yang bersimpati dengan perjuangan revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Dakota dengan registrasi VT-CLA ini jatuh di Desa Ngoto setelah ditembak oleh dua pesawat pemburu P-40 Kittyhawk milik AU Belanda.

Serangan balasan ini dilakukan karena kejengkelan Belanda atas serangan udara TKR Oedara pada tiga kota pendudukan Belanda, yakni Semarang, Ambarawa dan Salatiga di pagi harinya.

Kini jejak langkah Agustinus Adisutjipto sendiri masih dapat kita saksikan tersimpan rapi di Museum Dirgantara Mandala di Jogjakarta. Di Museum Pusat TNI-AU ini kita masih dapat menyaksikan replika pesawat Churen “Merah-Putih” pertama Indonesia dan juga sisa bangkai C-47 Dakota VT-CLA.

Untuk mengenang jasa-jasa Agustinus Adiutjipto sebagai salah satu perintis TNI-AU, Pemerintah RI menganugerahkan kepadanya Gelar Pahlawan Nasional.

Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) juga memberikan penghargaan dengan mengabadikan nama Agustinus Adisutjipto menjadi nama pangkalan AURI di Jogjakarta yang sebelumnya bernama Pangkalan Angkatan Udara (PAU) Maguwo.

65 tahun silam, saat SOEMPAH PEMOEDA baru berusia 17 tahun. Pemuda Agustinus Adisutjipto menerbangkan pesawat berbendera Merah Putih pertama untuk menunjukkan pada dunia Internasional. Bahwa kendati baru 2,5 bulan republik ini berdiri, tetapi sudah memiliki angkatan udara yang cukup membuat kecut nyali Angkatan Udara Belanda.

Kini setelah 82 tahun SOEMPAH PEMOEDA, masih adakah semangat Kongres Pemoeda II itu di tengah-tengah pencideraan pluralisme pada suku, bangsa, agama dan ras ini yang dilakukan oleh segelintir orang ini?.

Masih adakah semangat pluralisme pada negara ini? jujur banyak hal ironis dan menyedihkan karena tidak jarang negara justru mempraktekkan bahkan membiarkan semangat anti-pluralisme itu terjadi berulang kali atas nama “tugas negara”.

Hampir sepuluh hari lalu, kita menyaksikan tayangan kekerasan yang dilakukan oleh prajurit muda TNI atas pendeta serta warga adat Tingginambut, Puncak Jaya, Provinsi Papua. Tindak kekerasan itu sungguh sebuah pengkhiatan atas cita-cita “Soempah Pemoeda 1928” dan “Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945”.

Kini tinggal kita generasi muda bangsa ini, apakah akan kembali hidup dengan semangat SOEMPAH PEMOEDA 1928, seperti halnya yang dilakukan oleh Komodor Oedara Agustinus Adisutjipto atau justru meninggalkannya jauh-jauh dalam dunia dan gaya hidup hedonisme yang sama sekali jauh dari rasa nasionalis ini.(G)

4 Comments

  1. mohon dibantu kalau ada foto2 alm. eyang kami Doekri Soekirno

    salam hormat

    Bram

  2. Salam…, mohon maaf, Mas Bram ini putranya siapa dan domisilinya di mana? Matur nuwun

  3. Kami 4 bersaudara putra Dari Ibu Srie Rahayu. Cucu Dari Eyang Doekri Soekirno. Telah kehilangan Contact dengan Eyang berpuluh tahun yang lalu. Mungkin MA’s Dewanto punya foto foto alm Eyang kami. Mohon telp/SMS kami : Bram : 08122817479
    Terima Kasih

  4. Nice info gan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *