Merapi, Mbah Marijan dan Angka 13 (2)

Letusan Gunung Merapi

Malam pukul 23.30 WIB, saya terbangun dari tidur, dan disini udara yang biasanya panas kali ini terasa dingin. Saya terbangun karena saya tidak tahan dingin, ini karena sejak kecil saya terbiasa tinggal di pesisir pantai.

Usai mengoleskan minyak kayu putih ke tubuh saya, saya pun membaca pesan singkat di twitter di twitdeck saya. Salah satu pesan itu menyebutkan adanya rekan wartawan VivaNews yang meninggal dunia saat akan mengevakuasi Mbah Maridjan.

Rekan wartawan yang akrab dipanggil Mas Wawan ini ditemukan meninggal di halaman rumah mbah Maridjan.

Seperti biasanya, saya pun bergegas browsing ke KOMPAS.com dan menemukan beberapa berita terbaru tentang meninggalnya kawan wartawan itu.

Perasaan was-was sore kemarin masih menggelayut di benak saya, rasa penasaran saya atas kabar lelaki sepuh kuncen Gunung Merapi pun semakin meningkat.

Pukul 01.45 KOMPAS.com memberitakan kabar tentang Mbah Maridjan.
Mata saya berbinar senang saat membaca judul berita yang mengabarkan jika Mbah Maridjan selamat.

Rabu, 27 Oktober 2010 | 01:45 WIB
“Pencarian Korban Dihentikan, 13 Orang Tewas, Mbah Maridjan Lemas”

SLEMAN, KOMPAS.com – Juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan, dikabarkan telah ditemukan dalam kondisi selamat, tetapi fisiknya lemah, tidak jauh dari kediamannya di Dusun Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10/2010) tengah malam.

“Juru kunci Gunung Merapi, Mbah Maridjan, ditemukan dalam kondisi selamat oleh salah seorang anggota tim pencari (SAR),” kata Komandan Pangkalan TNI AL Yogyakarta Kolonel Laut Aloysius Pramono di Sleman, Rabu dini hari.

Ia mengatakan, Mbah Maridjan ditemukan dalam kondisi selamat tidak jauh dari rumahnya di Dusun Kinahrejo.

“Di Dusun Kinahrejo telah ditemukan 13 korban tewas akibat terkena awan panas Gunung Merapi. Salah seorang di antaranya dokter dari Kedokteran Polisi. Satu orang wartawan juga ditemukan tewas di Dusun Kinahrejo, di dekat rumah Mbah Maridjan,” katanya. Wartawan itu bernama Yuniawan Wahyu Nugroho dari VIVAnews.(*)

http://regional.kompas.com/read/2010/10/27/01452589/13.Orang.Tewas..Mbah.Maridjan.Lemas

Spontan saya berkata pada kawan dekat, bahwa rasa penasaran saya dengan angka 13 hasil penjumlahan waktu erupsi (letusan) kedua 17.23 WIB sore kemarin sepertinya terjawab sudah.”Jangan-jangan angka 13 ini merujuk pada jumlah korban,” kata saya pada kawan itu.

Dan dia sempat bertanya balik dari mana saya mengetahui itu, dan saya bisa menjelaskan tentang “perintah alam” untuk menjumlahkan waktu kedua erupsi itu, saat saya membaca berita di KOMPAS.com dan Detik.com sore kemarin.

Masih dengan rasa penasaran yang tinggi saya pun berkata kepada kawan itu, bahwa saya masih ragu dan belum yakin bahwa ada hubungan antara angka 13 hasil penjumlahan waktu erupsi kedua itu dengan jumlah korban yang diberitakan KOMPAS.com saat jelang subuh tadi.

Selain tidak mau dianggap klenik dan mistik, keraguan itu muncul mengingat jumlah korban belum pasti.(G)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *