Letusan Gunung Merapi

Pukul 05.30 wib, saya terjaga, beranjak dari kasur dan kemudian menuju meja kecil tempat laptop dalam keadaan stand by sejak malam tadi. Suara alarm tanda ada pesan masuk di tweetdeck rupanya cukup membantu saya untuk segera terjaga dan mengikuti perkembangan terbaru dari meletusnya Gunung Merapi.

Pukul 07.30 wib, tiba tiba saya lemas mendadak karena beberapa media online menyebutkan bahwa Tim SAR menemukan jasad yang mirip dengan sosok Mbah Marijan di dapur rumahnya di Dusun Kinahrejo, dan saat ditemukan jenasah ini dalam keadaan sujud seolah-olah sedang sembahyang (shalat).

Selain itu KOMPAS.com menyebutkan bahwa jumlah korban mulai bertambah dan bukan 13 lagi seperti yang diberitakan jelang subuh tadi, tetapi sudah mencapai 16 orang.

Saya mulai deg-degan sendiri, mengingat perasaan tidak enak yang saya alami sore kemarin, yang mengarah kepada sosok Mbah Marijan yang selalu tersenyum dan rendah hati pada siapapun itu.

Satu persatu berita di KOMPAS.com ini saya baca. Setengah jam kemudian saya pun mandi, sambil masih dihantui rasa penasaran soal angka 13 itu.

Usai mandi Yvonne menunjukan sesuatu di Blackberry-nya, sambil berkata kepada saya, “Foto ini mungkin menjawab penasaranmu soal angka 13 itu,”

“Foto apaan,?” tanya saya penasaran.

“Foto jenasah yang diduga jenasahnya Mbah Marijan,” jawabnya lagi.

“Hah, foto dari mana itu?” tanya saya lagi.

“Foto dari twitter, entah siapa yang memotret dan mengedarkannya, yang jelas aku dapat itu di twitter,” paparnya lagi

Saya pun mengambil BB dari tangan Yvonne dan mulai memperhatikan apa yang dimaksud Yvonne.

Di foto itu ada sosok yang diduga Mbah Marijan dalam kantung jenasah berwarna kuning dan diberi label dengan angka 13 … Kampreet siaa..!!! maki saya pada diri sendiri, karena disitu tertulis dengan lengkap  “Korban Merapi, RSUP DR. SARDJITO/ M. Marijan/ Kinahrejo/ 0013.

Setibanya di kantor, saya kembali online dan kali ini di wall Facebook saya, ada foto yang sama. Duh, koq tega sih yang mengedarkan foto ini, ungkap saya dalam hati, tapi sudahlah mungkin bukan maksud si juru foto itu untuk melecehkan jasad Mbah Maridjan.

Mungkin orang yang memotret jasad ini salah satu penggemar petuah-petuah Mbah Marijan dan sangat menyayangi orang tua itu, sama seperti saya.

Bagaimana pun juga angka 13 pada label jenasah di foto itu sudah sedikit menjawab rasa penasaran saya soal Merapi dan angka 13.

Siang usai makan siang di warung kecil depan kantor, di saat semua orang sedang membicarakan kepahlawanan Mbah Marijan dan pro-kontra atas sikapnya yang tetap bertahan di rumahnya itu, sekali lagi tanpa bermaksud klenik, saya mendapat “jawaban alam” lagi atas angka 13 itu.

Kata “Merapi” dan “Marijan” sama-sama dimulai dengan huruf “M” yang di dalam alfabeta berada pada urutan ke 13. Boleh percaya boleh tidak, yang jelas waktu erupsi kedua pukul 17.23 wib, Marijan, Merapi dan label jenasah, kesemuanya memiliki kesamaan, sama-sama memiliki angka 13.

Bagi saya, pahlawan itu bukan Jenderal Besar Soeharto, tetapi Mbah Marijan, abdi dalem Keraton Yogjakarta yang dengan tulus dan ikhlas telah mengabdi sampai akhir hayat tanpa pamrih.

Terima kasih atas ajaranmu soal kepemimpinan kepada kami Mbah. Secara tidak langsung kau mengajarkan kesetiaan pada tugas negara, agar kami anak muda tidak gampang menyerah dan meninggalkan tugas serta tanggungjawabnya masing-masing, sugeng tindak Mbah.(G)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *