“Diskriminasi” Media dan Lambannya Penanganan Bencana di Indonesia

Letusan Gunung Merapi

Secara tidak sengaja media nasional kita, khususnya televisi telah melakukan “diskriminasi” pemberitaan bencana alam yang terjadi berturut-turut di akhir Oktober ini.

Contoh kongkritnya adalah pemberitaan tentang bencana Merapi yang porsinya lebih banyak daripada Mentawai.

Kejadian sama juga terjadi pada saat bencana banjir bandang di Wasior, Papua beberapa hari lalu, media kita lebih ramai memberitakan proses evakuasi 40 pekerja tambang di Chile, yang sudah dua bulan terperangkap di bawah tanah dan disaksikan langsung oleh Presiden Chile, dibandingkan memberitakan bencana dan korban Wasior.

Tanpa bermaksud menghakimi para pekerja media dan pemerintah, tetapi secara geografis Kepulauan Mentawai memang sulit dijangkau dalam waktu cepat akibat cuaca buruk dan minimnya sarana transportasi laut dan udara.

Bencana gempa yang diikuti tsunami di Kepulauan Mentawai benar-benar diluar prediksi jika dibandingkan dengan Gunung Merapi yang memang sejak beberapa hari sebelumnya sudah diprediksi karena terlihat oleh kasat mata, sehingga jauh-jauh hari para pekerja media dan tim SAR sudah bersiap-siap.

Mobil SNG CNBC TV

Merapi dapat dijangkau dengan cepat dan murah karena tinggal menggeser mobil Satellite News Gathering (SNG) beserta awak media dari Jakarta ke Jogjakarta, Klaten dan Magelang untuk melakukan siaran langsung atau life dari lokasi bencana atau lokasi pengungsian. Hal ini akan berbanding terbalik dengan kasus bencana di Mentawai, Wasior dan tempat terpencil lainnya yang tentu sulit dan sangat tidak ekonomis bagi para pengelola usaha media televisi.

Sulitnya transportasi laut dan udara bukanlah terjadi saat ini saja, tetapi jauh sebelum itu seperti saat kasus gempa dan tsunami Aceh 2005 lalu dimana relawan dan pemerintah hanya dapat mengandalkan transportasi udara dan laut. Anehnya lagi, kita seolah melupakan dan tidak pernah belajar dari kesulitan demi kesulitan yang dihadapi tim evakuasi untuk mencapai daerah terpencil yang terkena bencana, sehingga bencana apapun itu, pemerintah terkesan selalu lamban bergerak.!!

Jenderal Besar Soeharto

Fakta yang terjadi selama ini bukanlah hal baru, di masa lalu saat rejim Orde Baru berkuasa, fokus pembangunan kita hanya berlangsung pada wilayah pulau-pulau besar semata, seperti Jawa, beberapa bagian di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi yang memang masyarakatnya hidup dari budaya pertanian semata. Fokus pembangunan di segala bidang itu hanya dilakukan pada wilayah pertanian (agraris), sementara wilayah bahari sama sekali dikesampingkan dan ditinggalkan.

Sejak sekolah dasar kita pun sudah dicekoki dengan pelajaran IPS, Geografi, dan PMP yang mengajarkan bahwa “Indonesia adalah negara agraris”. Bahkan hingga saat ini tidak sedikit anak muda Indonesia yang masih menganggap Indonesia adalah negara kepulauan yang hidup secara agraris, sungguh aneh bukan? 😉

Idiologi bahwa Indonesia adalah negara agraris muncul karena Jenderal Besar Soeharto sendiri adalah anak petani dan bukan anak pesisir yang hidup di pantai dan dari hasil laut lainnya.

Jangan heran jika melihat ketimpangan pembangunan antara provinsi di pulau-pulau besar dengan provinsi kepulauan, khususnya di Kawasan Timur Indonesia yang sebagian besar dari hasil melaut dan menangkap ikan.

Artinya pembangunan itu hanya terjadi di Jawa (termasuk Madura dan Bali), dan sebagian Sumatra, Kalimatan dan Sulawesi yang masyarakatnya hidup secara agraris. Sementara di pulau-pulau kecil seperti Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan beberapa pulau kecil lainnya termasuk Mentawai kurang tersentuh bahkan sama sekali tidak mendapat perhatian oleh REPELITA.

Indoktrinasi bahwa Indonesia adalah negara agraris adalah sebuah kesalahan fatal yang terbawa hingga kini. Idiologi ini pun secara tidak sadar masih tersimpan kuat dalam benak setiap orang, sehingga selalu salah dalam memandang “kepentingan mendesak” dan “tugas mendesak” setiap anak bangsa Indonesia.

Marzuki Alie

Salah satu faktanya dalam salah memandang dan bersikap dapat kita lihat pada komentar ketua DPR Marzuki Alie pada Rabu 27 Oktober lalu.

Bagi Ketua DPR Marzuki Alie, musibah gempa dan tsunami yang dialami saudara-saudara kita di Mentawai tersebut adalah risiko penduduk yang hidup di wilayah pantai.

“Mentawai kan jauh. Itu konsekuensi kita tinggal di pulaulah,” kata Marzuki kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Menurut politisi Partai Demokrat ini, seharusnya warga yang takut ombak jangan tinggal di daerah pantai. Alasannya, jika ada bencana seperti tsunami, maka proses evakuasinya menjadi sulit.

“Siapa pun yang takut kena ombak jangan tinggal di pinggir pantai…” kata Marzuki Alie.

Komentar tidak bermutu ini lagi-lagi mencoreng muka Presiden SBY mengingat Marzuki Alie adalah anggota Partai Demokrat. Komentar anggota dewan yang “terhormat” ini sama sekali tidak memiliki empati terhadap para korban bencana..!!

Kembali pada persoalan transportasi laut dan udara yang tidak memadai di saat-saat seperti ini, hendaknya pemerintah dan DPR serta penentu kebijakan lainnya segera berpikir dan mengambil kebijakan untuk melakukan perubahan.

Tugas mendesak kita saat ini adalah merubah kebijakan politik yang ada sekarang demi masa depan bangsa khususnya dalam penanganan bencana di pulau-pulau kecil.

Kita harus memiliki kendaraan atau alat transportasi laut dan udara yang cukup memadai serta dapat menembus rintangan cuaca buruk dan minimnya fasilitas pendukung di pulau-pulau kecil di seluruh nusantara.

Kita harus melakukan “lompatan jauh ke depan” dengan kembali menganut idiologi negara kepulauan. Karena apa yang selama ini dilakukan dan dianut Orde Baru beserta kroni-kroninya merupakan sebuah kemunduruan besar.

Harusnya kita kembali belajar sejarah nusantara, dimana pada masa itu raja-raja nusantara yang berkuasa telah menggunakan kapal laut sebagai modal transportasi lalu lintas perdagangan barang dan orang hingga ke penjuru dunia.

Itu sebabnya rempah-rempah kita terkenal hingga ke mancanegara dan kemudian berbondong-bondong bangsa-bangsa Eropa mencari dan menemukan apa yang kemudian dinamakan Ost Indie, East Indie atau Hindia Timur yang kemudian berubah menjadi Nederlands Indische atau Hindia Belanda.

Kembali bercermin pada bencana di Wasior dan Mentawai, saya berharap pemerintah dan para pengambil kebijakan justru harus segera merevisi dan memperkuat transportasi laut dan udara kita.

Kita harus membangun kapal-kapal penyeberangan yang tangguh melayari gelombang samudera Indonesia yang terkenal ganas itu, dan bukan malah membeli kapal-kapal ferry penyeberangan bekas China, Jepang dan Taiwan seperti yang selama ini dilakukan dan dioperasikan oleh ASPD, yang memang hanya dirancang untuk melayari jalur-jalur pendek dan menghadapi gelombang yang tidak begitu besar.

Akibatnya tidak sedikit kapal penyeberangan yang dikelola ASDP mengalami kecelakaan laut, khususnya perairan yang sudah terkenal dengan ombak dan gelombang yang ganas seperti di Selat Lombok dan perairan NTT, Maluku, Sulawesi Barat dan masih banyak lagi.

Kapal Catamaran

Saya dan mungkin rakyat Indonesia lainnya berharap Presiden SBY dapat memerintahkan PT PAL untuk segera merancangbangun kapal kapal penyeberangan jenis catamaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi perairan kita, khususnya perairan yang terkenal dengan ombak dan gelombang besarnya seperti di NTT, Maluku, Mentawai dan Nias.

Saya juga berharap agar PT Dirgantara Indonesia, mulai merancangbangun dan memproduksi pesawat-pesawat amphibi berbagai tipe, macam dan ukuran yang dapat mendarat di laut, sungai dan danau kita.

U-1 Albatross, Pesawat Amphibi ALRI & AURI

Di masa bencana seperti yang kita alami seperti sekarang pesawat-pesawat amphibi dan kapal-kapal jenis catamaran yang berlambung ganda dapat menjadi ujung tombak dalam penanganan bencana di seluruh kepulauan nusantara dengan cepat, tepat dan murah tanpa harus tergantung cuaca buruk seperti yang terjadi di Mentawai saat ini.

Di masa tenang pesawat amphibi dan kapal catamaran ini dapat menjadi ujung tombak pembangunan di segala bidang karena menghubungkan pulau-pulau kecil yang masyarakatnya terpencil.(G)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *