Lakukan Tes Kehamilan Terhadap Siswi, Kepala Sekolah SMKN 1 Magetan Diskriminatif dan “Nggilani” !!

Seks

Oleh: Gentry Amalo

Lagi lagi persoalan seks bebas atau seks pranikah menjadi batu sandungan dalam dunia pendidikan Indonesia.

Setelah heboh penolakan wacana perlunya tes keperawanan bagi calon siswi sekolah di Provinsi Jambi yang diusulkan anggota DPRD Jambi, Bambang Bayu Suseno akhir September lalu, kini di salah satu sekolah menengah di Magetan, Jawa Timur justru melakukan tes kehamilan.

Di Kabupaten Magetan sekitar 300 siswi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) I Magetan, hari ini, Rabu (10/11) menjalani tes kehamilan yang digelar sekolahnya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan.

Menurut Budiyono, Kepala Sekolah SMKN 1 Magetan, kegiatan ini khusus dilakukan kepada para siswi kelas XI yang baru saja menjalankan praktek kerja industri.

Budiyono juga mengatakan bahwa tes kehamilan ini sebagai salah satu upaya penanggulangan kenakalan remaja atau pelajar terkait hubungan seks bebas pada anak usia sekolah.

Antaranews menyebutkan bahwa Budiyono merasa khawatir dengan kemajuan teknologi dan informasi saat ini, yang jika tidak disikapi dengan cermat dapat menjerumuskan anak didik ke hal-hal yang negatif.

“Tes ini sebagai ukuran pendidikan karakter siswa. Jika hasilnya negatif semua, berarti pendidikan karakter atau pendidikan moral yang kita berikan kepada siswa dinilai berhasil,” ucapnya menegaskan.

Tes Kehamilan di Sekolah “Menjijikan”
Kegiatan yang baru pertama kali dilakukan oleh SMKN 1 Magetan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan ini benar-benar “nggilani” (menjijikan) dan sangat tidak mendidik siswa/siswi yang bersekolah disana karena sekolah sudah bertindak diksriminatif.

“Menjijikan” karena sebagai institusi pendidikan, SMKN 1 Magetan justru melakukan perbuatan yang tidak mendidik dengan menggunakan hasil tes kehamilan sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan karakter atau pendidikan moral anak muda bangsa.

Parahnya lagi, jika ada siswi yang hamil maka akan diberi sanksi tegas. Karena pihak sekolah melarang siswi hamil saat sedang menempuh pendidikan. Sudah bisa diduga jika sanksi tersebut adalah pemecatan dari statusnya sebagai siswi yang sedang menempuh pendidikan di institusi yang bersangkutan.

Artinya tindakan yang dilakukan kepala sekolah SMKN 1 Magetan dan Dinas Kesehatan Magetan ini dapat dianggap sebagai kegiatan yang melanggar konstitusi karena hak ikut serta dalam kegiatan pendidikan sudah dijamin penuh oleh Undang-Undang Dasar 1945.

Tes Kehamilan di Sekolah Sangat Diskriminatif

Selain itu kegiatan sangatlah tidak humanis dan diskriminatif karena persoalan moralitas hanya dibebankan kepada kaum perempuan muda Indonesia dalam hal ini siswi semata, sementara kepada pelajar laki-laki atau siswa tidak dilakukan tes apapun.

Selain itu, melakukan tindakan pemeriksaan kehamilan di dalam lingkungan sekolah dan bukan di klinik kesehatan, puskesmas atau rumah sakit yang ditunjuk adalah tindakan yang tidak sewajarnya dan sepatutnya dilakukan.

Alasannya cukup jelas karena sekolah adalah tempat belajar dan bukan tempat untuk melakukan cek kehamilan yang sifatnya pribadi karena urine adalah milik pribadi.  Dan si pemilik urine harus dihargai hak-haknya sebagai warga negara dan bukan malah menjadikan urine tersebut sebagai alat justifikasi atau penghakiman bagi anak muda bangsa yang moralitasnya dianggap berseberangan dengan orang tua!!

Dari sisi etika kedokteran bukankah hasil tes medis termasuk tes kehamilan, hanya boleh diketahui oleh petugas lab, dokter, siswi dan orang tua siswi saja. Lantas apa kepentingan sekolah (publik) dalam kegiatan ini? silahkan direnungkan sendiri.

Konten Pornografi di Internet Tanggungjawab Negara
Dalam konteks konten pornografi yang menjadi kekhawatiran Budiyono dan mungkin juga para orang tua lainnya, silahkan saja mengadu kepada Menteri Tifatul Sembiring dan bukan malah menyalahkan para siswi karena kehamilan mereka dan tentunya sudah tidak perawan lagi.

Karena konten pornografi adalah persoalan kebijakan pemerintah dan bukan persoalan moralitas si pengakses internet. Jika kebijakan negara terhadap konten pornografi hanya sebatas basa-basi politik semata lantas kenapa rakyat dalam hal ini kaum muda yang tetap harus menanggung beban.

Tirulahlah pemerintah Komunis China yang telah memperingatkan Google dan semua portal populer lain agar serius memblokir materi pornografi dari jangkauan pembaca di China. Kampanye melawan pornografi bukan barang baru di China dan untuk itu tujuh badan pemerintah dilibatkan dalam kampanye ini, termasuk Kementerian Keamanan Umum.(G)

8 Comments

  1. Kepala SMKN 1 Magetan dalam hal ini memang keterlaluan. di samping tidak etis, juga terdapat indikasi sejumlah pelanggaran terhadap hak anak dan hak masyarakat. SMKN 1 Magetan dapat digugat jika ada pihak orang tua (siswi) yang tidak terima. Saya setuju dengan yang saudara ungkapkan. Jika memungkinkan bisakah anda memfasilitasi gugatan orangtua kepada sekolah tersebut.

  2. Author

    Maaf baru sempat menanggapi permintaan Cak Guru,.. Untuk gugatan yang bung maksud itu, lebih tepat jika langsung difasilitasi oleh Komisi Perlindungan Anak (KPA) Provinsi Jawa Timur atau langsung kepada Komisi Perlindungan Anak (KPA) Indonesia. Silahkan langsung menghubungi kedua lembaga terkait tersebut. Terima Kasih..

  3. Saya setuju dengan pendapatnya Gentry Amalo,itu bukan langkah upaya penanggulangan kenakalan remaja tetapi membuka aib pada siswi yang kena tes tersebut.Kok bisa tes kehamilan dinyatakan sebagai upaya penanggulangan kenakalan remaja? Dasarnya apa? Apakah sekolah bermaksud promosi dalam hal ini biar dilihat masyarakat sekolah yang terbaik? Spekulasi……. Peran sekolah seperti guru BP/BK sebagai apa? Apakah tidak ada cara yang lain yang dilakukan sekolah untuk upaya menanggulangi kenakalan remaja,misalnya guru BP/BK memberi pengarahan…? Tolong sekolah jangan aneh-aneh yang biasa aja.

  4. saya sepakat dengan Bung Gentry Amalo dan Allan Wijaya Kusuma, seharusnya pihak sekolah tidak melakukan kegiatan yang melecehkan siswi perempuan.

    Kepala Sekolah dan Guru-guru di SMKN 1 Magetan semuanya sok moralis, sok paling patuh pada ajaran agama, padahal waktu muda mereka juga melakukan hubungan seksual di luar nikah, anak muda kan meniru apa yang dilakukan oleh orang yang lebih tua.

    Singkat kata, jika siswi-nya dianggap nakal, maka semua guru perempuan di sekolah itu juga nakal dan pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah, hahaha,.. hayoo ngaku aja deh,.. hahaha..

  5. Betol..betol.. Di Kec. Ketungau Tengah, Kabupaten Sintang, Propinsi Kalbar juga ada Oknum Guru SMA Negeri 1 Na. Merakai yang dengan sengaja menyuruh Anak Siswinya kencing didepannya sebagai upaya untuk tes kehamilan katanya .. Ingat Baik2 bahwa tindakan ini telah mempermalukan Siswi tersebut. kasian siswi itu… tolong ditindaklanjuti masalah ini. sekarang guru sepertinya bukan lagi sebagai pendidik tetapi sudah beralih profesi sebagai Penyidik… sangsot

  6. @anti moralis : jangan asal bicara bung, anda sendiri mempunyai dasar apa menganggap guruguru pernah berbuat nakal, anda apa pernah mendapati bukti bahwa seks di luar nikah dilakukan anak muda karena guruguru juga melakukan hal yang sama? justru sok moralis yang penting sekarang daripada kita tahu hal yang benar tapi kita purapura tidak tahu dan sok masa bodoh? jangan asal nyolot, bagaimana kalau guru perempuan tersebut adalah ibu anda? atau anda memang terlahir dari hubungan kotor ibu anda sehingga hasilnya adalah mulut yang tidak beradab

  7. kepala sekolah tidak punya etika… kalau siswi hamil di beri sanksi… bagaimana dg siswa yg menghamili….. atau guru yg berbuat cabul… ternyata hanya di suruh buat surat pernyataan yg isinya tdk akan menggulangi lagi…. sungguh tidak adil…. setuju dg pernyataan di atas….. ganti aja kepala sekolahnya

  8. hahaaaaaa,,,,untung aja g ada yg hamil karna dihamili gurunya sendiri ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *