Gantikan Twin Otter, Indonesia Segera Produksi N-219

DHC6 TwinOtter Merpati Nusantara

Pesawat perintis sekelas DHC 6 Twin Otter yang selama ini digunakan Merpati Nusantara Airlines dan beberapa air charter perintis sangat dibutuhkan Indonesia saat ini dan masa depan.

Keberadaan pesawat perintis sangat membantu percepatan pembangunan, khususnya di bidang ekonomi masyarakat pedalaman yang sama sekali belum terjangkau oleh transportasi darat ataupun laut.

Kendati terkesan lamban, namun langkah yang diambil pemerintah cukup tepat, yakni memulai kembali program pesawat perintis. Di era 1980-an Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang sekarang menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) pernah mengembangkan proyek kerjasama dengan Cassa Spanyol yang kemudian memproduksi NC-212 Aviocar.

N 219

Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan dan Alat Pertahanan Kementrian Perindustrian, Soerjono mengungkapkan pemerintah saat ini menargetkan memproduksi protipe pesawat perintis berkapasitas kecil untuk menghubungkan daerah-daerah yang belum dapat diakses dari jalur darat.

Koordinasi antar lembaga seperti Bappenas, Kementerian Perhubungan dan BPPT pun sudah dilakukan.

“Saya sudah berkoordinasi dengan Bappenas, Kementerian Perhubungan dan BPPT terkait produksi pesawat jenis N219 yang isinya 19 penumpang yang bisa mendarat pada landasan sederhana paling tidak tahun 2013,” kata Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian Soerjono di Jakarta, Sabtu (4/12).

Soerjono mengatakan, PT Dirgantara Indonesia paling tidak akan ditugasi membangun dua unit pesawat jenis berharga sekitar 3,8 juta dolar AS per unit tersebut tiga tahun mendatang.

Untuk itu pemerintah harus mengucurkan modal awal sebesar 40 juta dolar AS guna produksi awal pesawat yang dirancang mengangkut orang dan barang tersebut.

“Kalau menurut PT DI, untuk mencapai BEP (break even point) harus menjual 27 pesawat. Modalnya sekitar 250 juta dolar AS, tapi untuk modal dasar pembangunan butuh 40 juta dolar AS,” katanya.

Menurut Soerjono pemerintah juga akan menyiapkan skema subsidi untuk operasi pesawat-pesawat penumpang berkapasitas kecil itu di daerah-daerah baru yang belum terakses moda transportasi darat dan laut.

“Mungkin nanti akan ada subsidi untuk tiket atau avtur,” katanya.

skema N 219

Soerjono berharap pemerintah daerah dan maskapai penerbangan membeli pesawat-pesawat kecil produksi PT Dirgantara Indonesia tersebut dan mengoperasikannya ke daerah-daerah yang membutuhkan.

Dengan demikian hubungan antar wilayah dapat meningkat dan selanjutnya memicu pertumbuhan ekonomi daerah-daerah yang sebelumnya terasing karena keterbatasan akses transportasi.

“Pemerintah mendorong ini karena jumlah pesawat yang beroperasi ke daerah-daerah yang ada di Papua, Sulawesi, dan Sumatera cenderung makin sedikit, padahal masyarakat di daerah sangat membutuhkan,” demikian Soerjono.

Sebelumnya PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sebagai pelaksana program N 219, pada April 2010 menawarkan N 219 kepada pemerintah Provinsi Sulawesi Utara untuk memperlancar perhubungan ke daerah terpencil (Kompas.com, 26/4/2010).

Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Andi Alisjabana di Manado, Senin (26/4/2010), mengatakan, pesawat jenis ini cocok untuk Sulut karena dirancang khusus untuk penerbangan jarak pendek dan bisa mendarat pada landasan tak beraspal di wilayah pegunungan.

“N219 dapat menggantikan pesawat Twin Otter yang sudah tua dan tidak diproduksi lagi,” kata Andi pada sosialisasi fasilitasi pengembangan dan promosi investasi Far 23 nama program N219.

Harga pesawat ini hanya 3,8 juta dollar AS atau sekitar Rp 35 miliar, dapat mengangkut penumpang 19 orang dan masih memungkinkan dibiayai dari dana pemerintah daerah.

Analisis operasi pesawat N219 di Sulut untuk rute Manado-Naha berjarak 256 kilometer (km) jarak tempuh satu jam, dengan perkiraan penumpang 80 persen (15 orang), maka dapat dioperasikan dengan harga tiket Rp 650.000 per penumpang.

“Tiket seharga Rp 650.000 per penumpang dan LF 80 persen dapat diperoleh keuntungan sekitar 1.086 dollar AS per trip (sekali terbang),” kata Andi.

Sedangkan untuk Manado-Melonguane (360 km), jarak tempuh 1,25 jam, harga tiket Rp 750.000 per penumpang, jumlah penumpang 15 dapat diperoleh keuntungan 1.253 dollar AS per sekali jalan.

“Total pendapatan 4.677 dollar AS dikurangi biaya operai 4.514 dollar AS, maka diperoleh keuntungan 163 dollar AS per tahun atau 16.316 dollar AS per bulan. Jumlah tersebut cukup menguntungkan bagi Sulut,” kata Andi.

Karakteristik pesawat N219 diantaranya, bermesin ganda masing-masing 850 SHP, disertifikasi pada ketegori CASR 23 (commuter category), biaya operasi dan pemeliharaan yang rendah, berkemampuan high and hot airfield capability, sederhana dan mudah pemeliharaannya.

“Pesawat ini belum diproduksi, harus ada permintaan sekitar 30 pesawat baru bisa dibuat, dan merupakan peluang bagi pemerintah daerah,” kata Andi dan menambahkan, kepemilikan pesawat oleh pemerintah daerah dimungkinkan karena ada aturan untuk itu.

1 Comment

  1. Ayoo Dirgantara Indonesia bangkit kembali dan wajib merajai udara Indonesia, ASEAN dan dunia,..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *