Antara Presiden SBY dan Simbolisasi Kerbau

SBY = Pinokio?

Jum’at (9/9) kemarin SBY berulang tahun ke-62, Di Masjid Baiturrahman, SBY mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari para jamaah masjid yang hadir. Sementara di waktu yang hampir bersamaan, sekelompok pemuda yang tergabung dalam Pemuda Cinta Tanah Air (PECAT) melakukan aksinya di kawasan jalan Medan Merdeka Selatan.

Aksi PECAT ini tidak main-main, karena dari jauh-jauh hari mereka telah mempersiapkan sejumlah atribut seperti patung SBY, 9 replika kepala kerbau dan 9 topeng SBY berbentuk boneka pinokio. Tribunews.com pun menyebutkan bahwa bentrokan dengan polisi pun tidak bisa dihindari dan atribut atribut aksi yang dianggap menghina pribadi kepala negara pun disita polisi.

Ulah beberapa aktivis PECAT yang melakukan aksi unjuk rasa dengan membawa kado kepala kerbau untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membuat gusar beberapa pimpinan Partai Demokrat.

Sutan Bhatoegana

“Saya kira itu bukan budaya kita menghina seorang Pemimpin, boleh mengkritik Sang Pemimpin tapi buatlah dengan yang lebih sopan lagi,” kata Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana kepada Tribunnews.com dari Jakarta, Sabtu (10/9).

Anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat ini berpendapat penghinaan kepada pemimpin semacam itu tidak sesuai dengan ajaran leluhur.

“Bukankah ajaran para leluhur kita untuk selalu menghormati para orang tua..!” kata Sutan.

Kendati demikian, Sutan percaya SBY sebagai Sang Demokrat akan tetap menerima penghinaan itu dengan lapang dada. “Dengan cara bekerja ikhlas untuk bangsa ini..!” ujar Sutan.

Simbolisasi Kerbau Bukanlah Sebuah Penghinaan

Kerbau Si BuYa

Berbeda dengan para aktivis PECAT dan Sutan Bhatoegana, saya melihat sebuah kesalahan besar jika kerbau (Bubalus bubalis) dianggap sebagai hal yang bodoh, lamban serta wajib dihina.

Siapapun itu, baik kelompok aktifis mahasiswa, aktifis LSM, para elit parpol serta Presiden SBY yang melihat kerbau sebagai perlambang sesuatu yang hina dan buruk, saya hanya ingin bilang (Maaf) bahwa anda semua sudah salah kaprah.

Jauh sebelum negeri yang bernama Indonesia ada, kerbau sudah terdomestifikasi dan membantu kehidupan para leluhur kita yang hidup dalam budaya agraris.

Di hampir seluruh wilayah kepulauan Nusantara mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi hingga Kepulauan Nusa Tenggara, kerbau mendapat kedudukan istimewa dan sangat terhormat di mata masyarakat adat nusantara.

Di Bali, dalam kehidupan masyarakat adat Tenganan dan Tenganan Dauh Tukad, Karangasem, kerbau menempati tempat tersendiri dalam setiap ritual adat. Di kedua kampung ini, kerbau bebas berkeliaran tanpa boleh diganggu oleh warga desa setempat.

Darah kerbau yang tercurah dipercaya sebagai jembatan menuju nirwana

Di Nusa Tenggara Timur (NTT), baik di Pulau Sumba, Sabu, Rote, Flores, Alor dan Timor, kerbau selalu digunakan dalam ritual upacara-upacara adat yang berhubungan dengan budaya megalitik.

Di Sumba, dalam kepercayaan Marapu, darah kerbau diyakini sebagai jalan atau jembatan penghantar roh leluhur untuk mencapai nirwana.

Tedong bonga

Demikian halnya dengan masyarakat adat Toraja, yang kerap menggunakan Tedong Bonga (kerbau belang) sebagai hewan kurban saat mengadakan ritual pemakaman keluarga besar kerajaan.

Konon harga seekor Tedong Bonga pun bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta tergantung dari identifikasi belang yang ada pada kerbau tersebut.

Saat saya berkunjung ke Kampung Prei Yawang, Kec.Rende, Kab.Sumba Timur, saya melihat anak tangga rumah-rumah adat bangsawan yang berbentuk rumah panggung terbuat dari kepala dan tanduk kerbau. Jadi sebelum memasuki ruang utama rumah seorang bangsawan, maka mau tidak mau kaki kita “wajib menginjak” anak tangga yang terbuat dari kepala dan tanduk kerbau tersebut.

Hal yang nyaris mirip juga saya lihat di Kampung Ketek kesu di Tana Toraja, kepala dan tanduk kerbau menghiasi salah satu tiang rumah yang terletak di depan. Pada tiang ini sepasang tanduk kerbau akan dipasang bersusun dari bawah ke atas. Semakin banyak tanduk yang terpasang maka semakin tinggi status sosial si empunya rumah.

Rumah Gadang

Masih belum yakin bahwa kerbau adalah satwa terhormat? mari kita ke Sumatra Barat, dimana saudara-saudara kita dari semua suku/klan asli yang ada di provinsi ini menyebut diri mereka sebagai orang “Minang” yang merupakan kependekan dari Minangkabau. Secara etimologis, Minangkabau berasal dari dua suku kata, yakni Minang yang berarti “menang” atau “kemenangan” dan Kabau yang berarti kerbau.

Perempuan Minang

Tanpa bermaksud berlebihan, (mungkin) orang Minangkabau adalah satu-satunya suku di Indonesia yang menggunakan kerbau sebagai simbol kehormatan dan kebanggaan suku mereka, dan itu semua terlihat jelas dalam setiap atap rumah adat minang yang disebut rumah gadang (rumah besar), serta hiasan kepala pada baju adat perempuan minang.

Simbolisasi kerbau ataupun kepala kerbau yang dilakukan oleh para aktifis mahasiswa dan LSM kepada Presiden SBY kemarin, seharusnya tidak dilihat dari sisi buruknya semata, akan tetapi justru harus melihatnya dari sisi positif.

SBY dan elit Partai Demokrat malah seharusnya merasa bangga dan terhormat, mengingat pada Jumat, 22 September 2006 silam, Presiden SBY dianugerahi Sangsako Adat atau gelar adat dari Kerapatan Adat Nagari Tanjung Alam, dimana Presiden SBY mendapat gelar Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam di istana Pagaruyung – Minangkabau.

Kerbau

Selain itu, bukankah SBY juga terlahir sebagai orang bershio Kerbau? lantas kenapa beliau harus marah dan tersinggung? 😉

Dalam sistem horoskop Cina, Kerbau adalah salah satu dari 12 shio. Orang-orang Cina percaya bahwa orang yang bershio kerbau adalah orang yang memiliki kecenderungan keras kepala, pekerja keras, jujur, dan agak pemarah. Hal ini terjadi karena orang bershio Kerbau selalu mengutamakan KESEMPURNAAN dalam bekerja, dan mengharapkan orang lain juga berbuat hal yang sama. Jadi wajar saja jika banyak pihak kerap berselisih paham dan tidak suka dengan orang-orang bershio Kerbau.

Contoh sederhana adalah Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, yang juga terlahir dalam hitungan Shio Kerbau. Bung Karno sejak muda usia di masa kolonial Belanda hingga hari ini masih saja jadi bahan perdebatan dan pergunjingan oleh para pendukung mantan lawan-lawan politiknya. Bahkan Bung Karno dianggap terlibat Gerakan 30 September 65 (G30S) yang menewaskan beberapa jenderal Angkatan Darat. Sungguh logika berpikir yang aneh, karena hanya ada di Indonesia seorang presiden dan bapak pendiri negara dianggap terlibat didalam gerakan untuk menumbangkan kekuasaannya sendiri.

Kembali pada persoalan simbolisasi kerbau yang dianggap sebagai penghinaan terhadap Presiden SBY karena tidak menghormati ajaran leluhur, maka saya melihat pernyataan Sutan Bhatoegana (yang mungkin juga mewakili elit partai Demokrat lainnya) sebagai sebuah pernyataan yang dangkal dan sesat terhadap kearifan lokal (local genius) dari para leluhur bangsa ini.

Jika Sutan Bhatoegana tidak memahami dan mengerti ajaran leluhur bangsa ini tentang kerbau, maka sebaiknya Sutan Bhatoegana tidak usah asal mengumbar tentang makna simbolisasi kerbau. Tabek..

3 Comments

  1. ass bapak.,., saya senang sekali membaca artikel bapak tentang simbol kerbau di berbagai daerah nusantara.,., cuma untuk etimologi MINANGKABAU itu bukanlah berasal dari kata MENANG kerbau.,. tetapi MINANG itu merupakan tanduk tambahan yang terbuat dari logam.,., jadi bukan menang.

  2. Author

    Bung Rino yang baik, terima kasih atas masukkan bung Rino, semoga masukkan dari bung Rino bisa menambah dan memperkaya arti kata “Minang” itu sendiri. Soal etimologis Minangkabau tersebut justru saya dapatkan dari sahabat-sahabat saya yang berasal dari Minangkabau, saya juga sempat mencari di beberapa mesin pencari dan menemukan makna yang sama dari kata Minangkabau, bahkan disebutkan pula dalam tambo yang menceritakan tentang asal usul suku Minangkabau, cerita tentang adu taktik antara para tetua Minang ketika itu saat menghadapi pasukan asing yang ingin menguasai wilayah kerajaan Minang.
    Dalam laman situs Wikipedia.org disebutkan bahwa:
    “….Nama Minangkabau berasal dari dua kata, minang dan kabau. Nama itu dikaitkan dengan suatu legenda khas Minang yang dikenal di dalam tambo. Dari tambo tersebut, konon pada suatu masa ada satu kerajaan asing (biasa ditafsirkan sebagai Majapahit) yang datang dari laut akan melakukan penaklukan. Untuk mencegah pertempuran, masyarakat setempat mengusulkan untuk mengadu kerbau. Pasukan asing tersebut menyetujui dan menyediakan seekor kerbau yang besar dan agresif, sedangkan masyarakat setempat menyediakan seekor anak kerbau yang lapar. Dalam pertempuran, anak kerbau yang lapar itu menyangka kerbau besar tersebut adalah induknya. Maka anak kerbau itu langsung berlari mencari susu dan menanduk hingga mencabik-cabik perut kerbau besar tersebut. Kemenangan itu menginspirasikan masyarakat setempat memakai nama Minangkabau,[15] yang berasal dari ucapan “Manang kabau” (artinya menang kerbau). Kisah tambo ini juga dijumpai dalam Hikayat Raja-raja Pasai dan juga menyebutkan bahwa kemenangan itu menjadikan negeri yang sebelumnya bernama Periaman (Pariaman) menggunakan nama tersebut.[16] Selanjutnya penggunaan nama Minangkabau juga digunakan untuk menyebut sebuah nagari, yaitu Nagari Minangkabau, yang terletak di kecamatan Sungayang, kabupaten Tanah Datar, provinsi Sumatera Barat….”

    salam,.. 🙂

  3. Om.G saya mau bilang bagus sekali itunya, termasuk tentang Minangkabau itu menambah ilmu pengetahuan saya, Saya ucapkan terimakasih moga-mogaan sukses terus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *