KBR68H – Pecandu Narkoba, bekas pecandu hingga terpidana kasus narkoba di Semarang bersatu membuat majalah komunitas. Majalah Ngoche. Ini adalah media yang mereka gunakan untuk memberi edukasi, menuangkan ide dan pemberontakan. Utamanya, media ini berfungsi sebagai sarana terapi bekas pengguna narkoba.
Aku makai dari kelas 3 SMP makai jenis obat-obatan pil bego. Kelas 1 SMA gelek dan sabu. 2 SMA jualan gelek sabu-nya dah kurang. Malah sakau. Waktu kelas 2 SMA jualan ganjan buat nutup kebutuhan sakauku, cerita Kosa, bekas pecandu dan napi kasus narkoba. Kini ia menjadi salah satu jurnalis di Majalah Ngoce Semarang. Lewat majalah Ngoce, Kosa bertekad membantu kawan-kawannya untuk keluar dari jerat narkoba.

Total pake 10-11 tahun. Efek kesehatan? Hepatitis C. Liver. Rata-rata aku liat dari teman-teman yang lain putau suntik 90% hepatitis C. Aku ga pengen temen-temen ngalamin apa yg aku alamin, temen-temenku ku MD gara-gara OD, hepatitis liver pecah, jelas Kosa.

Segala ide yang ada di kepala Kosa kini tertuang bebas lewat Majalah Ngoce. Media komunitas ini merupakan bentukan LSM Performa, sekaligus LSM pendamping para pecandu dan bekas pecandu Napza Semarang. Menurut Koordinator LSM Performa, Ivone Sibuea, awal terbentuknya majalah Ngoce berasal dari komunitasnya, yang merasa tidak puas dengan keberadaan media umum dalam menyampaikan pemberitaan tentang narkoba.

Kita kan temukan materi narkoba itu-itu mulu yang stereotipe. Jadi TV, baliho, stop narkoba. Narkoba itu maut neraka, tidak pernah memberikan edukasi buat kawan-kawan yang sudah terlanjur makai bagaimana? Bagaimana menyelematkan nyawanya? Bagaimana meperpanjang umurnya, bgaiamana keluar dari narkona, jelas Ivone Sibuea.

Majalah Ngoce terbit sebulan sekali. Isinya mulai dari Laporan utama, feature, komik, profil dan informasi mengenai narkoba. Nama Ngoce diambil dari istilah Semarangan yang berarti, kumpul sambil minum-minum. Kumpul disini sekarang bermakna lain. Para bekas pecandu dan pecandu aktif napza, menyatu untuk menyuarakan perubahan melalui media.

Belajar Menulis

Sebut saja Kosa, bekas pecandu berat putau yang dulu keluar masuk penjara ini, didapuk untuk mengisi halaman feature. Disini, ia menghasilkan sebuah tulisan tanpa wawancara, namun cukup menuangkan pengalamannya secara natural.

Tulisan yang paling diingat? Yang aku inget buprenorpin. Diberikan oleh dokter sebagai terapi subtitusi heroin. Buprenorpin , heroin sintetis. Nulisnya kan aku ga pernah melarang mereka pakai buprenorpin dengan cara apapun, kalo mau sembuh pakelah dengan cara yang benar, dengan cara sub lingual. Di taruh dibawah lidah mpe hancur sendiri, jelas Kosa.

Ada lagi personil lain dari Majalah Ngoce, Yoga namanya. Bekas penikmat ganja ini, didapuk membuat komik. Baginya menulis bukan sekedar menyampaikan ide tapi juga menjadi langkah terapi yang efektif .

Satu hoby, dua karena niat juga buat terapi, terapi bagus juga. Hubunganne apa? Nulis ma terapi? Buat ngalihin aja, harus pake harus pake, nulis kan bisa ngalihin, bisa cerita-cerita narkoba Misalnya temen-teman cerita saya salin dulu terus saya kembangkan. Nama kan bukan asli, john ngoce atau lek rebo. Nama-nama lucu, tutur Yoga.

Lebih Berjiwa

Hasil tulisan mereka memang tidak dibebani teori-teori jurnalistik yang muluk-muluk. Mereka hanya menulis testimoni. Kata Pimpinan Redaksi Majalah Ngoce, Genry Amalo, ada keunggulan dari tulisan mereka yakni lebih memiliki jiwa.

Bedanya pada nilai, soul kadang ada pengalamanan yang sulit. Tanpa bermaksud deskriminiasi ada hal-hal yang tidak bisa dipahami oleh orang lain, pengguna napza, adiksi. Wartawan menulis tanpa soul, jelas Genry Amalo

Suryani, salah satu anggota keluarga dari pecandu napza, mengaku senang membaca tulisan di Majalah Ngoce. Kata dia, bahasanya mudah dimengerti. Terhibur sama tau dunia napza. Bantu seseorang biar berhenti, bisa. Dapetin majalah itu, Ya dibaca, kata-katanya mudah dipahami, kata-katanya ga ribet, ungkap Suryani.

Selain sederhana, Majalah Ngoce juga jujur. Mengungkap segala sisi kehidupan pecandu dan bekas pecandu narkoba. Seperti yang pernah dituliskan oleh Kosa berikut ini : 12 jam digebukin tanggal 3 mei 2003, sabtu jam 11 siang kita ketangkep di kontrakan bandar. Habis tu langsung dibawa ke polres salatiga, begitu masuk di polres salatiga, kita di borgol semua di borgol mata kita di tutup ama plester, ngasi pelajaran justru gak dapet.

Thursday, 06 September 2012 10:28, Shinta Ardhany

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *