Mantan Pecandu Narkoba Berbagi lewat Media, Hindari Melamun, Fokus Menulis
image

Mantan pecandu narkotika berkumpul membentuk komunitas. Mereka sepakat membuat media majalah dan website yang tak hanya untuk menjalani hidup positif, melainkan juga berbagi rasa.

PARA pengguna narkotika pasif mulai mendapatkan tempat untuk beraktualisasi melalui media tulisan. Majalah Ngoche yang terbit perdana di Semarang pada Januari 2010 menjadi medium untuk menyampaikan pesan menghindari narkotika.

Majalah komunitas ini dicetak dengan modal bantingan dari para anggota. Terbit secara stensilan, majalah ini diperuntukkan sesama pengguna narkotika, psikotropika dan zat adiktif (napza) di Semarang.

Gentry Amalo, penasehat majalah Ngoche, mengatakan para pengguna napza ini perlu dijembatani agar pikirannya tidak beku dengan menulis. “Menulis kan pasti berpikir. Nah itu tujuan kami agar mereka tidak sering ngalamun,” katanya, baru-baru ini.

Pengguna napza, kata mantan jurnalis televisi ini, digolongkan menjadi dua yakni aktif dan pasif. Anggota di majalah Ngoche sebagian pengguna pasif yang telah atau sedang menjalani terapi dan pengobatan untuk menghilangkan ketergantungan dengan narkotika. Untuk itu, program menulis digalakkan agar mempunyai kesibukan dan tidak terpikirkan untuk kembali mengonsumsi narkotika. Jenis penulisan berupa artikel, berita, atau esai seputar persoalan napza. Ardhania Kosa, salah satu anggota, merasakan manfaat aktivitas menulis. Ia yang bergabung dengan Gentry sejak tahun 2010 bahkan sempat menikmati perjalanan ke Korea Selatan sebagai salah satu peserta konferensi HIV dan AIDS se-Asia Pasifik. “Tulisan saya tentang pengalaman menggunakan (narkoba) hingga akhirnya menjauhi diapresiasi dan diundang untuk ikut konferensi di Korea,” ujarnya.

Kecanduan narkoba jenis sabu-sabu sejak SMA atau pada tahun 1998 ini sempat membuatnya mendekam di penjara. Dua kali kasus sabu-sabu membuatnya tak berkutik di hadapan aparat kepolisan. Pada 2003 ia tertangkap di Salatiga dan selang empat tahun tersandung kasus yang sama di Yogyakarta. Kosa, panggilannya, mulai berusaha berhenti setelah 11 tahun memakai sabusabu. Pada 2008, ia mulai terapi dengan seorang dokter di Semarang. Ia juga telah terdaftar dalam program rehabilitasi melalui Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL).

Banyak Pembaca Titik balik hidupnya sebagai manusia normal ia temukan di medium tulisan. Pengalaman hidupnya yang pahit ia sampaikan agar orang lain tidak mengikuti jalan yang telah dilalui. Efek tulisan kepada pengguna pasif dan aktif akan terasa, karena tulisan tentang narkotika dibuat orang yang pernah mengalami fase ketagihan. Spirit untuk sembuh dan lepas dari narkotika akan menginspirasi pengguna aktif yang masih sulit keluar dari lingkaran candu. “Kalau yang nulis orang yang tidak punya pengalaman biasanya akan dicemooh,” ujar Kosa. Namun, bukan berarti orang harus terjun sebagai pengguna terlebih dulu, baru menulis tentang narkotika.

Tetapi, kata dia, tulisan akan lebih terasa empatinya jika ditulis mantan pengguna. Aktivitas tulisan di komunitas ini memang tidak digunakan sebagai terapi, melainkan pengalihan pola konsentrasi narkotika ke bidang yang stabil dan positif. Dengan menulis Kosa merasakan pikirannya stabil dan dinamis. Ia tidak lagi terpekur sendirian di pojok kamar meratapi persoalan hidup. Sabu-sabu mulai ditinggalkan dan pikiran untuk kembali mengonsumsi sedikit demi sedikit terkikis. Majalah Ngocheterbit terakhir pada Maret 2011 lalu bermetamorfosa menjadi website. Persoalan pendanaan dan rutinitas untuk kejar tayang menjadi kendala utama. Pilihan website karena sifatnya yang ringan dalam penyajian, tidak perlu biaya besar dan waktu lama untuk memproduksi karya.

Laman napzaindonesia.commemuat berbagai artikel, kumpulan berita dari berbagai lamat media nasional dan lokal, serta berita dari kontributor difokuskan pada isu napza. Menurut Gentry, harapan tersebar dari komunitas napza adalah menjadikan pengguna narkotika bukan sebagai pelaku tetapi korban. Sehingga perlakuan hukumnya tidak berakhir di penjara, tetapi di panti rehabilitasi.

Pemerintah, katanya, perlu memperbanyak panti rehabilitasi daripada penjara. Pasalnya jumlah pengguna narkotika di penjara lebih banyak, sehingga perlu fokus penurunan ketergantungan. Komunitas yang beranggotakan sepuluh orang ini merencanakan buku yang berisi kisah para pecandu dari berbagai sisi yang dirilis pada akhir tahun ini. Tersebar di Semarang dan Ungaran, anggota mempersiapkan kisah seperti pecandu yang dijebak, dianiaya di sel tahanan, serta kamus istilah dalam transaksi narkotika. “Harapannya agar para orang tua mengetahui bahasa narkotika, sehingga bisa mengawasi anaknya yang bisa jadi telah faham bahasa obat haram itu,” ujar Gentry yang berkantor di Jalan Kenconowungu II Nomor 14 Semarang. (Zakki Amali-77)

sumber: Suara Merdeka

http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/09/25/199980/Hindari-Melamun-Fokus-Menulis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *