*Sebuah ringkasan

Kultivasi berasal dari kata Cultivation (Inggris), yang berarti penguatan, pengembangan, perkembangan, penanaman atau pemerataan. Teori ini digagas pertama kali oleh George Gerbner pada 1968. (Kriyantono: 2012: 285). Kultivasi adalah salah satu riset yang digunakan untuk melihat seberapa besar efek sosial terpaan media massa, selain agenda setting dan uses and gratifications. Kultivasi merupakan riset untuk melihat efek media, jangka panjang, khususnya pemirsa televisi (McQuail 2011 :256).

Teori Kultivasi adalah teori yang mengatakan bahwa menonton televisi secara berangsur-angsur mengarahkan pada adopsi keyakinan mengenai sifat dasar dari dunia sosial yang mengikuti pandangan akan realitas yang memiliki stereotip, terdistorsi dan sangat selektif sebagaimana yang digambarkan dengan cara yang sistematisdi fiksi dan berita televisi (McQuail 2011: 257).

Menurut Gerbner ada dua tipe pemirsa televisi yakni Heavy-viewers dan Light viewers. Heavy viewers atau ”penonton berat” adalah orang menghabiskan waktunya lebih banyak untuk menonton televisi, sementara light viewers “penonton ringan” orang yang menghabiskan waktu lebih sedikit untuk menonton televisi.

Khalayak yang termasuk Heavy viewers menurut Gerbner akan memandang dunia nyata ini sama dengan gambaran yang ada di televisi. Semakin sering dia menonton acara kekerasan di televisi, maka dia akan menganggap dunia ini penuh dengan kekerasan.

Menurut Gerbner, terpaan media khususnya televisi mampu memperkuat presepsi khalayak terhadap realitas sosial. Hal ini tampak pada hipotesis dasar analisis kultivasi yakni “semakin banyak waktu seseorang dihabiskan untuk menonton TV, maka semakin seseorang menganggap bahwa realitas sosial itu sama seperti yang digambarkan TV”

Analisis kultivasi berhubungan dengan totalitas pola yang dikomunikasikan secara komulatif oleh televisi terhadap lamannya terpaaan terhadap isi tertentu dan pengaruh tertentu. Analisis ini bukanlah teori pengaruh media semata, melainkan lebih pada pembuatan sebuah pernyataan mengenai budaya secara keseluruhan. Analisis ini tidak berhubungan dengan strategi kampanye tertentu yang dilakukan, melainkan berhubungan dengan dampak total sejumlah strategi dan kampanye sepanjang wakktu. (Kiryantono: 2012: 285)

Mengutip Gerbner tentang teori Kultivasi ini, McQuail menyebutkan bahwa semakin banyak seseorang menghabiskan waktu menonton televisi dari segala jenis program maka ia akan semakin mengadopsi pandangan dominan mengenai dunia yang ditampilkan di media tersebut. Hal ini juga berlaku di politik, karna televisi tadinya merupakan sumber utama informasi politik bagi sebagian besar orang (Mc.Quail 2011: 258).

Teori Kultivasi mengatakan bahwa:

  • Televisi diantara media modern lainnya telah mendapatkan tempat yang utama dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendominasi “lingkungan simbolik” khalayak menggantikan pesan yang terdistrosi mengenai realitas untuk pengalaman pribadi dan alat lain untuk mengetahui dunia.
  • Televisi juga digambarkan sebagai “lengan budaya” dari tatanan industri yang mapan yang utamanya bertindak untuk memelihara, menstabilkan, dan meneguhkan alih alih untuk menggeser, mengancam atau melemahkan keyakinan serta perilaku konvensional (Mc Quail 2011: 256).
  • Menurut teori Kultivasi: televisi mampu memenciptakan “sindrom dunia makna”, artinya bagaimana seseorang memaknai dunia dipengaruhi oleh pemaknaan televisi. Sindrom ini dapat dilihat dari hasil riset kultivasi yang dilakukan Gerbner terhadap pemirsa televisi di Amerika Serikat, “berapa persen orang Amerika yang mempunyai pekerjaan dalam penegakan hukum?”
  • Dalam realitas di masyarakat diketahui hanya 1% sementara di televisi digambarkan bahwa 20% pemeran terlibat dalam penegakan hukum. Pemirsa “berat” televisi memberikan angka yang jauh lebih tinggi dan mereka kemungkinan lebih besar daripada pemirsa “ringan”.
  • Penonton “berat” televisi cenderung menganggap dunia ini penuh dengen kekerasan dan penh orang jahat. Saat ditanya “berapa kali tindak kejahatan?” mereka akan menjawab 4 dari 10 orang dirampok dalam sehari. Padahal dalam kenyataannya mungkin hanya 1 dari 10 orang yang dirampok dalam sehari.

Orang cenderung menyamakan realitas di dunia dengan realitas yang ada di televisi. Bahkan pengaruh tayangan di televisi berpengaruh juga pada budaya. Terjadi penyamaan budaya akibat terpaan televisi. Budaya disamakan dan dipelihara oleh televisi. Dua Tahapan dalam penelitian Kultivasi

  • Mendeskripsikan tayangan yang disampaikan media (media world) melalui analisis isi secara periodik terhadap tayangan pada periode waktu tertentu. Hasil dari analisis ini berupa identifikasi terhadap dunia versi pesan-pesan yang disampaikan televisi. Misalnya berapa presentase pria yang bekerja di bidang penegakan hukum dan penangkal kejahatan yang digambarkan media? Apakah 1% atau 5% ?
  • Melakukan survey kepada khalayak tentang terpaan TV yang menerpanya. Responden dibagi dalam heavy viewers (penonton berat) dan light viewers (penonton ringan) berdasarkan frekuensi yang digunakan orang untuk menonton dan durasi waktu yang dia gunakan untuk menonton TV. Survey ini dilakukan untuk membandingkan temuan dalam analisis isi. Kemudian dibandingkan melalui rumus statistik inferensial

DAFTAR PUSTAKA

Kriyantono, Rachmat (2012) Teknis Praktis Riset Komunikasi, Kencana Prenada Media, Jakarta

McQuail (2011)  Teori Komunikasi Massa, Salemba Humanika, Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *