Dominasi Maskulin dalam Film “Opera Jawa”

Oleh: Gentry Amalo

ramayana
Ramayana (source: Wikipeda)

Seperti yang kita ketahui bersama, kitab Ramayana memuat kisah tentang cinta segitiga antara Rama-Sinta dan Rahwana. Sudah berabad-abad lamanya Epos Ramayana ini tersebar ke seluruh wilayah Asia Selatan hingga Asia Tenggara.

Di Asia Tenggara ada belasan bahkan mungkin puluhan varian kisah Ramayana, yang hidup selama berabad-abad lamanya dan muncul sebagai local genius, sehingga sulit dibedakan mana kisah Ramayana yang benar-benar berasal dari Asia Selatan. Di Asia Tenggara, detail epos Ramayana ala Sumatera, Jawa, Bali, Malaysia, Myanmar, Thailand, hingga Laos dan Kamboja pun tidak seragam, akan tetapi muncul dari tafsir bebas berdasarkan kearifan lokal masing-masing wilayah.

Opera Jawa SetioSitiDi masa modern ini, cinta segitiga yang dikisahkan dalam karya sastra Ramayana pun diterjemahkan secara bebas oleh sutradara Garin Nugroho melalui karya film Opera Jawa. Film Opera Jawa digarap Garin Nugroho dengan serius dalam bentuk instalasi pesan simbolik. Seperti kita ketahui bersama, Garin Nugroho adalah sosok unik yang selalu mengedepankan etnografi dalam bentuk instalasi semiotik. Hal ini dapat dilihat dari karya-karya Garin sebelumnya seperti: Cinta dalam Sepotong Roti (1990), Surat Untuk Bidadari (1992), Bulan Tertusuk Ilalang (1994), Daun di Atas Bantal (1997), Daun di Atas Bantal (1997), Puisi Tak Terkuburkan (1999), Rembulan di Ujung Dahan (2002), Opera Jawa (2006), Under The Tree (2008) dan masih banyak lagi.

Film Opera Jawa menjadi salah satu karya Garin Nugroho yang paling fenomenal. Dalam film ini Garin Nugroho memadukan berbagai genre seni di dalamnya. Opera Jawa mengisahkan gambaran kehidupan yang penuh konflik. Mulai dari permasalahan cinta segitiga dalam sebuah keluarga (dengan tokoh Setyo, Siti, dan Ludiro) hingga konflik sosial, politik, dan perekonomian dimana rakyat kecil selalu menjadi korban.

Dengan mengolaborasikan sejumlah maestro seni, mulai dari seni tari, seni vokal dan musik Jawa, kostum, hingga seni instalasi yang digarap para perupa seperti Agus Suwage, S. Teddy D., Hendro Suseno, Titarubi, Sunaryo dan Entang Wiharso. Adegan demi adegan dalam film ini disampaikan dalam bentuk pesan yang sarat simbol dan makna. Dari ini kita akan memahami bahwa signifikasi karya-karya instalasi ini pada tataran pesan simbolik telah mengedepankan figur-figur retorik yang diiringi dengan tembang dan lagu Jawa, layaknya pentas opera yang ada di Eropa.

Selain itu, pada tahun 2006 film Opera Jawa karya Garin Nugroho mengundang sejumlah perdebatan dan kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Adalah Arya Weda, Koordinator Angkatan Muda Hindu di Bali, melakukan beberapa demonstrasi menentang pemutaran film “Opera Jawa” di Bali dan secara nasional. Menurut Arya Weda, adegan Siti (Sinta) meninggalkan Setio (Rama) sang suami, untuk memenuhi hastratnya bertemu dengan Ludiro (Rahwana) dalam film “Opera Jawa” sangat bertentangan dengan garis besar cerita Ramayana, dimana Sinta tidak meninggalkan Rama, tetapi Sinta diculik oleh Rahwana. Bagi Arya Weda, Ramayana bukan saja merupakan kitab sastra atau cerita dongeng, tapi Ramayana merupakan kitab tentang ajaran Dharma dan Adharma, yakni ajaran tentang kebaikan akan menang melawan keburukan.

Terkait dengan uraian sebelumnya, maka bagaimana representasi perempuan dalam film Opera Jawa menyiratkan bahwa perempuan adalah lambang kesuburan atau kemakmuran dalam keluarga, dan kekuatan perempuan tampak lewat kesetiaan mereka terhadap suami, mengurus dan mengatur rumah. Film Opera Jawa ini apakah semakin mengukuhkan dominasi maskulin atau mematahkan dominasi maskulin dalam sistem patriarki masyarakat Jawa dan bagaimana representasi perempuan terhadap dominasi maskulin dalam masyarakat Jawa.

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, kisah film Opera Jawa mengambil inspirasi dari epos Ramayana, khususnya pada kisah “penculikan Sinta”. Dalam Opera Jawa ini, Garin hanya mengambil kisah saat Sinta diculik dan dibebaskan dari penyanderaan. Garin tidak menggunakan nama-nama tokoh Rama – Sinta akan tetapi menggantinya dengan nama Jawa, Rama diganti dengan Setio yang diperankan maestro tari Martinus Miroto, Sinta diganti dengan Siti yang diperankan Artika Sari Dewi dan Rahwana diganti dengan Ludiro yang diperankan oleh maestro tari Eko Supriyanto.

Dalam film Opera Jawa ini, Siti adalah seorang penari yang dipersunting oleh pengusaha tembikar bernama Setio. Kehidupan perkawinan mereka berjalan langgeng, hingga suatu saat situasi bisnis tembikarnya semakin sulit, Siti mulai merasa dijauhi suaminya. Sementara anak pengusaha kaya, Ludiro yang sejak dulu menyukai Siti mulai mencoba merayunya di saat sang suami sedang tidak berada di rumah.

Kesibukan Setio dalam berbisnis tembikar membuat Siti kerap kesepian, sementara di balik setiap lubang, mengintip hasrat Ludiro yang diam-diam menginginkan Siti. Berbeda dengan kisah Ramayana, dimana Sinta diculik oleh Rahwana dan prajurit Alengka. Dalam kisah Opera Jawa Garin Nugroho justru menampilkan Siti yang diam-diam menyimpan hasratnya sendiri, dan terombang-ambing antara pemenuhan hasratnya seksualnya dan memenuhi janji setia kepada suami.

Siti yang merasa kesepian atas kesibukan Setio, akhirnya memutuskan pergi dari rumah untuk memenuhi hasratnya bertemu dengan Ludiro untuk kemudian menerima hasrat Ludiro. Setiba di istana Ludiro, Siti yang semula berhasrat pada godaan teman kecilnya itu dihantui rasa bersalah dan kemudian Ia pun pergi meninggalkan Ludiro untuk kembali ke istana suaminya. Ludiro yang frustasi karena cintanya ditolak berbenturan dengan ego Setio yang merasa harga dirinya dicabik-cabik.

Film “Opera Jawa’ ini menampilkan nuansa Jawa yang begitu kental dalam setting, ilustrasi musik, serta dialog-dialog yang menggunakan bahasa Jawa tinggi (Kromo Inggil). Penggunaan dialog Jawa menjadi masalah tersendiri, karena sulit untuk dinikmati. Opera Jawa penuh dengan simbol-simbol visual yang kuat namun tidak sulit untuk kita cerna. Misalnya adegan asmara antara Siti dan Setio di kamar tidur, pada waktu sang suami menutup wajahnya dengan kaos, Ludiro yang merayu Siti di ruang penuh “lilin” maupun di rumahnya (adegan kain merah), Ludiro yang ingin kembali ke rahim ibunya, serta adegan Setio membunuh Siti.

Akting Artika lebih berhasil menampilkan sosok Siti, ketimbang Miroto sebagai Setio. Pasalnya, setiap kali Miroto melakukan gerak tari, kelemahan ekspresi akting pun terlupakan. Sebagai Setio, Miroto tampak begitu tidak punya rasa percaya diri. Begitu lemah dan tidak ‘mewakili’ tokoh Rama sama sekali. Mungkin itulah Rama “modern” yang ingin ditampilkan Garin Nugroho. Sosok lelaki Jawa yang boleh-boleh saja tampil tegar di mata umum tapi sebenarnya sangat tergantung pada istrinya dan tidak pernah bisa mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.

Mayat-mayat bergelantungan tidak tampak vulgar ketimbang properti yang menyerupai mayat manusia namun pesan yang disampaikan tetap jelas. Kebiadaban di sekitar kita. Begitu pula kepala-kepala yang bertebaran. Kain merah yang menjulur ke seantero desa. Kobaran api cemburu yang begitu membara sehingga Setio tega membunuh Siti untuk kemudian dibedah dan diambil hatinya.

Perempuan Jawa dalam Masyarakat Patrilinial

Seperti judulnya, film Opera Jawa, mengambil lokasi pengambilan gambar dilakukan di Pulau Jawa. Adat istiadat Jawa yang patrilinial lebih mengkondisikan perempuan berada di bawah kontrol atau dominasi kaum laki-laki. Menurut Bourdieu (2010) kekuatan tatanan maskulin terletak pada fakta bahwa tatanan itu hadir dengan justifikasi. Visi androsentris diwajibkan sebagai netral dan tidak perlu disebutkan dalam diskursus yang memang dibuat untuk melegitimasinya. Tatanan sosial berfungsi seperti sebuah mesin yang sangat besar dan berkecenderungan meratifikasi dominasi maskulin yang mendasarinya; tatanan itu adalah pembagian kerja secara seksual, yaitu sebuah distribusi yang sangat ketat tentang aktifitas aktifitas yang dibagi-bagi pada masing-masing seks, yaitu tentang, yatu sebuah distribusi yang sangat ketat tentang tempat kerja, jam kerja dan alat alat kerja mereka.

Bagi Erich Fromm, hubungan antara kaum lelaki dan kaum perempuan sebagai hubungan antara kelompok yang menang dan yang kalah. (Erich Fromm, 2011; 144). Sedangkan feminis radikal-libertarian Gayle Rubin dalam Putnam Tong (2010) mengatakan bahwa seks/gender adalah suatu rangkaian pengaturan, yang digunakan oleh masyarakat untuk metransformasi seksualitas biologis menjadi produk kegiatan manusia.

Dalam masyarakat patrialkal, menggunakan fakta tertentu mengenai fisiologi perempuan dan laki-laki sebagai dasar untuk membangun serangkaian identitas dan perilaku “maskulin” dan “feminin” yang berlaku untuk memberdayakan laki-laki dan melemahkan perempuan. Di Jawa, seorang laki-laki bangsawan berhak memiliki lebih dari satu istri. Istri sah disebut “permaisuri” sementara istri-istri lainnya disebut selir atau garwo ampil. Demikian juga dalam bidang pendidikan, lelaki bangsawan Jawa lebih mendapatkan kesempatan daripada kaum perempuan bangsawan Jawa.

Saskia Weiringa (2010) menyebutkan bahwa di Jawa, kaum perempuan bangsawan Jawa agaknya menjadi pihak yang paling dibatasi di Indonesia. Kebebasan bergerak perempuan tani Jawa umunya dipandang cukup luas (Geerts 1961; Vreede de Stuers 1960). Kaum perempuan priyayi tidak punya hak atas kesempatan pendidikan yang kian luas seperti yang dinikmati kaum laki-laki dari kelas yang sama, hampir tidak punya akses tehadap kehidupan umum dan dirugikan terkait hubungan perkawinan yang tidak setara. Keadaan itu tersirat dari tudingan surat-surat Kartini tentang “sangkar emas” dilakukan kurang seabad setelah perang Jawa

“…kini ketahuilah sampai dimana girang hati, rasa hina, rasa malu ku, aku telah dipertunangkan dengan Bupati Rembang, seorang duda dengan enam anak dan tiga istri. Aku tak perlu banyak bercerita lagi kepadamu bukan? Kamu sudah cukup mengetahui diriku, biarlah menjadi penghiburan bagimu, dengan alsasan aku menghormati laki-laki. Agaknya nasib telah mendudukan diriku di sisinya..” (Surat Kartini 14 Juli 1903, Kartini 1987; 208) (Weringa 2010; 114)

Sementara M. Romyan Fauzan (2013) dalam bukunya yang berjudul “Perempuan dalam Bingkai Budaya Visual” menuliskan hasil wawancaranya dengan salah seorang seniman perempuan asal Solo bernama Syudu Nugrahawati;

“… Syudu Nugrahawati, seorang seniman perempuan Solo yang saya ajak berbincang mencoba membicarakan tentang filososi perempuan jawa beserta tugasnya. Perempuan jaman dulu di Jawa hanya mempunyai tiga tugas dalam rumah tangga, masak, macak dan manak. Masak itu untuk urusan dapur. Macak itu dandan untuk suami atau berhias, dan Manak itu melahirkan keturunan. Jika dikomparasi dengan keadaan sekarang, perempuan Jawa sudah tidak tahu bagaimana cara memasak, dandan iya, tetapi belum tentu untuk suami. Perlu membuka wawasan dan bersinggungan dengan teknologi selama perempuan itu tahu dimana batas-batas keperempuanannya. Karena jika tidak, lepas dari batas, keluar kontrol, kemungkinan untuk menginjak harga diri laki-laki sangat besar karena perempuan lebih banyak bermain di ego. Di jaman dulu tidak diperbolehkan menambah wawasan dikarenakan kekhawatiran adanya kaum laki-laki yang diinjak harga dirinya….’ (Fauzan 2013; 26-27)

Setio dan Ludiro, Penaklukan Lelaki atas Perempuan Jawa      

Kesibukan Setio dalam berbisnis tembikar membuat Siti kerap kesepian, Berbeda dengan kisah Ramayana, dimana Sinta diculik oleh Rahwana dan prajurit Alengka. Dalam film Opera Jawa Garin Nugroho justru menampilkan Siti yang diam-diam menyimpan hasratnya sendiri, dan terombang-ambing antara pemenuhan hasratnya seksualnya dan memenuhi janji setia kepada suami. Kesibukan Setio yang berujung pada rasa kesepian yang dirasakan Siti, menurut Bourdieu merupakan efek dari dominasi maskulin karena menempatkan perempuan dalam satu keadaan ketidakpastian jasmaniah, atau membuat perempuan berada dalam situasi kebergantungang simbolik.

Dominasi maskulin ini menjadikan perempuan sebagai barang-barang simbolik. Keberadaan (esse) dari perempuan adalah suatu keberadaan yang dilihat (percipi). Pertama-tama perempuan itu ada karena pandangan orang lain dan untuk pandangan orang lain, yaitu sebagai benda-benda yang menerima, menarik dan yang tersedia. Orang mengharap bahwa kalau bisa perempuan itu bersifat “feminin”, yaitu murah senyum, simpati, penuh perhatian, tunduk dan tidak banyak bicara, bisa mengendalikan diri, bahkan kalau bisa tidak pernah terlihat. (Bourdieu 2010; 94)

Siti yang kesepian kemudian berhasrat menemui Ludiro untuk mengusir rasa sepinya atas kesibukkan Setio. Dalam memenuhi tuntutan hasrat Siti ini oleh Bourdieu dijelaskan sebagai heternomi, yang adalah prinsip dari beberapa disposisi, seperti misalnya keinginan untuk menarik perhatian atau keinginan untuk menyenangkan orang, yang kadang disebut kegenitan. Atau heteronomi itu adalah kecenderungan alami untuk mengharap banyak dari cinta, yaitu satu-satunya hal yang sanggup menghadirkan perasaan dibenarkan tentang kekhususan-kekhususan yang paling tidak penting dari keberadaannya, terutama kekhususan-kekhususan yang paling tidak penting dari tubuhnya.(Bourdieu 2010; 94).

Opera Jawa kaki
Sementara Siti dalam posisi berbaring, kaki Ludiro berada di wajah Sitti

Ketika Siti tiba di rumah Ludiro, apa yang dialaminya dan dirasakannya saat itu berbeda dan tidak seperti hasrat yang dirasakan sebelumnya, itu sebabnya Siti memutuskan meninggalkan Ludiro dan segera kembali ke rumah untuk berada bersama-sama lagi dengan Setio sang suami. Dalam adegan ini, Garin Nugroho menampilkan Ludiro yang merasa puas atas kehadiran Siti dengan meletakkan telapak kaki Ludiro di wajah Siti sebagai tanda penaklukan. Merasa tidak ingin ditaklukkan Ludiro, Siti pun bergegas bangun dan pergi meninggalkan Ludiro yang merasa patah hati.

Dari sudut pandang Etno-arkeologi, masyarakat Jawa, bagian kepala manusia atau sirah adalah simbol dari kewibawaan dan kemuliaan seseorang, itu sebabnya dalam masyarakat Jawa di masa Mataram Hindu-Budha, arca-arca para raja, permasuri serta dewa Hindu dan Budha yang ada di beberapa candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur selalu disimbolkan dengan lingkaran cahaya yang berada di sekeliling kepala, yang disebut dengan istilah siras prabha atau cahaya kemuliaan dan kewibawaan.

Ken Dedes / wikipedia
Ken Dedes / wikipedia

Misalnya Siras prabha pada Arca Ken Dedes, permaisuri Tunggul Ametung yang kemudian menjadi permaisuri Ken Arok, pasca kudeta yang dilakukan Ken Arok atas Tunggul Ametung. Pada Arca Ken Dedes ini, siras prabha dipahat dalam bentuk garis melengkung di belakang kepala arca Ken Dedes. Ikonografi pada arca seperti ini umumnya berasal dari masa abad ke-8 masehi.

prasasti tarumanegara / wikipedia
ukiran sepasang telapak kaki pada prasasti dari masa Kerajaan Tarumanegara / wikipedia

Sementara kaki, adalah lambang kekuasaan atau penaklukan oleh sang penguasa, yang dalam hal ini adalah laki-laki. Tinggalan arkeologis mengenai kaki sebagai simbol kekuasaan atau penaklukan seseorang dapat dilihat pada beberapa prasasti abad ke-4 Masehi dari masa Kerajaan Tarumanegara Raja Purnawarman di Jawa Barat. Bourdieu (2010), menjelaskan soal penaklukan laki-laki atas perempuan juga terjadi di lingkungan masyarakat Euro-Amerika.

Bourdieu menyebutkan bahwa anak-anak perempuan dan anak-anak laki-laki memiliki titik-titik pandang yang berbeda tentang relasi percintaan. Relasi percintaan itu paling sering dipikirkan oleh laki-laki dalam logika penaklukan, karena tindakan seksual itu sendiri dipikirkan oleh laki-laki sebagai bentuk dominasi, suatu bentuk “kepemilikan”. Dari sanalah muncul perbedaan antara harapan-harapan yang mungkin dimiliki oleh laki-laki dan perempuan dalam hal seksualitas, dan dari situ juga muncul kesalahpahaman, terkait interpretasi-interpretasi buruk atas “sinyal-sinyal”yang kadang ambigu atau bersifat menipu dari kesalahpahaman-kesalahpahaman itu (Bourdieu 2010; 28).

Siti yang kesepian dan kemudian pergi dari rumah Setio untuk menemui Ludiro, dan kemudian Siti pergi dari Ludiro untuk kembali ke rumahnya, menurut Bourdieu sebagai pengondisian perempuan memang dikondisikan untuk selalu menyingkir dan diam. Oleh karena itu, mereka tidak bisa menggunakan suatu kekuatan kecuali dengan dengan mengembalikan kepada si kuat, kekuatan si kuat itu, atau dengan rela menyingkir. Jadi bagaimanapun, perempuan hanya bisa mengingkari kekuasaanya yang tidak bisa digunakannya kecuali dengan mengusahakannya (dalam keunggulan yang abu-abu).

Laki-laki maupun perempuan sudah membentuk struktur-struktur historis tatanan maskulin dalam bentuk beberapa skema tak sadar yang mengatur presepsi dan apresiasi kita. Memikirkan dominasi maskulin, beresiko pada menggunakan pola pikir yang merupakan produk dari dominasi itu sendiri. Kita tidak bisa berharap keluar dari lingkaran itu, kecuali jika kita menemukan suatu strategi praktis untuk melakukan obyektifikasi atas subyek. (Bourdieu 2010; 7).

Bourdieu meyakini bahwa cinta adalah satu-satunya bentuk dominasi lain yang dapat diterima. Cinta dianggap sebagai hal yang tidak mengancam dalam bentuk yang bahagia maupun yang sengsara. Bourdieu juga melanjutkan tentang adanya mitos-mitos tentang kekuatan jahat perempuan yang dapat membalikkan hubungan dominasi antara laki-laki dan perempuan dalam konteks cinta. Pembalikan ini sekaligus mendukung androsentris.(Bourdieu 2010: 152)

Setio yang merindu  mengambil tanah liat dan kemudian membentuk "perempuan" sebagai istrinya yang sesuai kriterianya
Setio yang merindu, mengambil tanah liat dan kemudian membentuk “perempuan” sebagai istrinya yang sesuai kriterianya

Sementara rasa sepi Setio akibat ditinggal pergi Siti dari istananya, tentu saja membuat Setio sebagai suami merasa marah dan kehilangan. Ia pun kemudian mengambil segumpal tanah liat dan kemudian mulai “menciptakan” sosok Siti yang sesuai dengan kehendak hati Setio. Adegan ini seolah menampilkan bahwa lelaki Jawa ibarat Tuhan yang menciptakan manusia dari tanah liat.

Adegan ini menunjukkan bahwa perempuan Jawa seolah tidak punya kuasa dan sama seperti gumpalan tanah liat yang dibentuk oleh lelaki, sesuai dengan kehendak lelaki itu. Menurut Tong, di dalam pandangan feminis radikal, patriarki eksis sebagai bentuk sosial yang hampir bersifat universal, karena lelaki dapat menghimpun sumber kekuatan yang sangat mendasar, kekuatan fisik untuk menegakkan kontrol. Lelaki menciptakan dan mempertahankan patriarki tidak hanya karean mereka mempunyai sumber daya untuk berbuat demikian, tetapi karena mereka mempunyai kepentingan nyata dalam menjadikan wanita sebagai pelayan yang selalu mengalah. Dalam satu hal wanita adalah alat yang paling efektif untuk memuaskan keinginan seksual laki-laki. Selain itu tubuh mereka adalah esensial untuk memproduksi.

Media dalam hal ini film merupakan sumber utama dalam produksi yang menghadirkan ideologi dominan atas relasi-relasi patriarkal. Laki-laki dalam media massa sering kali ditampilkan sebagai pihak yang dominan, aktif, dan berwenang. Sementara itu, perempuan direpresentasikan sebagai sosok yang pasif, patuh, dan meluruhkan keinginan mereka demi tegaknya keinginan laki-laki (Gamble 2004: 134).

Marshall Clark dalam Ariel Heryanto (2012) menyebutkan bahwa ada sejumlah faktor yang mungkin memengaruhi munculnya perhatian yang lebih besar terhadap maskulinitas dalam wacana gender di Indonesia hari ini. Termasuk tanggapan menyerang dan merendahkan peningkatan kesetaraan perempuan di bidang sosial dan ekonomi; perasaan ketidakberdayaan maskulin menghadapi kecenderungan ekonomi global seperti halnya krisis ekonomi Asia, tarik ulur persoalan bangsa, gender dan maskulinitas yang hegemonik pasca-Orde Baru.(Heryanto 2012: 55)

‘Ancaman’ yang melekat di tubuh feminin tidak selalu merupakan hasil pengembangan baru. Berbeda di jaman kolonial, di mana perempuan dipandang sebagai mitra perjuangan revolusioner, rezim militer Soeharto ‘dibangun diatas kuasa berlebih maskulin yang terobsesi dengan kontrol dan kepasrahan perempuan’ (Weringa 2003: 72). Sejak masa Orde Baru dan masih berlangsung hingga kini, perempuan hanya berada di dalam areal domestik dan tidak dipandang sebagai mitra perjuangan revolusioner dalam membangun bangsa.

Dalam Feminis Radikal sistem patriarki yang ditandai dengan kuasa, dominasi, hierarki dan kompetisi sebaiknya dicabut secara total dari akar hingga ujung pangkalnya. Hal ini berarti bahwa struktur hukum dan politis, lembaga sosial dan kultural juga harus bersih dari patriarki (Tong 2010: 3).

Menurut Tong, aliran feminis radikal-libertarian berkeyakinan bahwa laki-laki dituntut untuk menunjukkan karakteristik maskulin, dan perempuan dituntut untuk menunjukkan karakteristik feminin. Kedua tuntutan ini dapat menimbulkan kerugian pada keduanya. Oleh karenanya, setiap orang dibebaskan untuk menjadi androgin. Setiap orang berhak memiliki dan menunjukkan karakter maskulin dan feminin. Dengan membebaskan setiap orang untuk mengeksplorasi kedua sisi feminin dan maskulin ini maka seseorang dapat merasakan dirinya yang utuh dari kedua dimensi tersebut. Oleh karenanya, setiap orang berhak untuk mengembangkan dimensi feminin dan maskulinnya dengan mengambil kebaikan-kebaikan dari masing-masing dimensi tersebut sesuai dengan refleksi diri yang dikehendakinya (Tong 2010: 73).

 

Daftar Pustaka

Barthes, Roland
. 1994. Elemen-elemen Semiologi, Yogyakarta; Jalasutra.
Bourdieu, Pierre. 2010. Dominasi Maskulin, Yogyakarta; Jalasutra
Gamble, Sarah. 2004. Pengantar Memahami Feminisme dan Postfeminisme: Dilengkapi Glosarium Tokoh dan Istilah dari A sampai Z, Yogyakarta; Jalasutra
Fromm, Erich. 2011. Cinta, Seksualitas dan Matriarki, Kajian Komprehensif Tentang Gender, Yogyakarta, Jalasutra
Heryanto, Ariel (ed.). 2012. Budaya Populer di Indonesia, Mencairnya Identitas Pasca-Orde Baru (terj.) Yoyakarta; Jalasutra.
Tong, Rosemarie Putnam. 2010. Feminist Thought: Pengantar Paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis, Yogyakarta; Jalasutra
Fauzan, M. Romyan. 2013. Perempuan dalam Bingkai Budaya Visual, Yogyakarta, penerbit Garudawacha
Saskia E. Wieringa. 2010. Penghancuran Gerakan Perempuan; Politik Seksual di Indonesia Pascakejatuhan PKI. Yogyakarta; Galangpress

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *