Imbalan Materi Bagi Narasumber, Bentuk Suap Mediakah?

Oleh: Gentry Amalo

Setiap peliputan selalu membutuhkan data yang akan diolah menjadi berita. Tidak jarang dalam pengumpulan data berita tersebut, media, melalui jurnalisnya kerap memberikan imbalan material berupa uang atau barang kepada informan dan narasumber agar memberikan data atau keterangan yang diketahuinya.

Perilaku seperti ini, secara moral kerap berbenturan dengan pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik. Dimana dalam paragraf terakhir dari pembukaan Kode Etik Jurnalistik, disebutkan dengan tegas bahwa “…Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme…. ”

Dalam mewujudkan tujuan mulia tersebut, dalam Pasal 2 Kode Etik Jurnalistik disebutkan bahwa “..Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik…” Adapun tafsir dari pasal dua tersebut sudah cukup jelas, bahwa yang dimaksud dengan “cara-cara yang profesional” adalah: (1). Menunjukkan identitas diri kepada narasumber; (2).Menghormati hak privasi; (3).Tidak menyuap; (4.) Menghasilkan berita yang faktual dan jelas sumbernya; (5).Rekayasa pengambilan dan pemuatan atau penyiaran gambar, foto, suara dilengkapi dengan keterangan tentang sumber dan ditampilkan secara berimbang; (6). Menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara; (7). Tidak melakukan plagiat, termasuk menyatakan hasil liputan wartawan lain sebagai karya sendiri; (8). Penggunaan cara-cara tertentu dapat dipertimbangkan untuk peliputan berita investigasi bagi kepentingan publik.

Point ketiga dari sepuluh point atas tafsir “cara-cara profesional” tersebut di atas sudah cukup jelas dan tegas, yakni “Tidak Menyuap” atau melakukan penyuapan atau memberikan imbalan dalam bentuk apapun kepada narasumber. Hal ini bertujuan agar produk jurnalistik yang dihasilkan tidak bias dan melenceng dari kepentingan publik, serta melemahkan integritasnya sebagai penyampai informasi yang menjunjung tinggi kebenaran.

Dalam mencari dan mengumpulkan data, dan melakukan verifikasi data, jurnalis media cetak dan radio dapat melakukannya melalui sambungan telepon. Namun berbeda bagi stasiun televisi, sebuah sambungan telepon interaktif dari studio kepada narasumber belumlah cukup.

Di dalam manajemen redaksi sebuah stasiun televisi, ada dua departemen yang memiliki tugas dan tanggungjawab terpisah, pertama adalah News Departement, yang bertugas memproduksi berita setiap harinya dan yang kedua adalah Current Affair Department, yang bertanggungjawab dalam memproduksi program magazine atau berita feature.

Stasiun televisi berita seperti tvOne ataupun MetroTV misalnya kerap menghadirkan ke studio beberapa narasumber dari daerah terpencil atau daerah konflik yang dianggap mewakili komunitasnya untuk diwawancarai demi menunjang kebutuhan program siaran berita. Dalam hal ini adalah sesuatu yang wajar jika News Departement di sebuah stasiun televisi dalam proses menghadirkan narasumber yang kompetensi dan keterwakilannya tidak diragukan tersebut, menyediakan fasilitas berupa akomodasi dan transportasi yang sewajarnya dan tidak berlebihan kepada narasumber yang bersangkutan. Namun jika dukungan fasilitas akomodasi dan transportasi itu berlebihan maka patut diduga telah terjadi proses menyuap narasumber. Misalnya, jika si narasumber diberikan fasilitas mewah demi sebuah wawancara ekslusif, dengan diinapkan di apartemen mewah atau hotel bintang 5 di Jakarta, serta diberi uang saku yang berlebihan dan diberi fasilitas-fasilitas lainnya yang tidak ada hubungannya dengan isi atau konten wawancara yang dibutuhkan.

Berbeda halnya dengan Current Affair Departement yang kerap melakukan liputan panjang dengan metode jurnalisme investigasi ke berbagai daerah di Indonesia. Current Affair biasanya jarang memberikan uang kepada narasumber, tetapi lebih cenderung memberikan barang yang merupakan cinderamata perusahaan yang dananya diambil dari dana promosi perusahaan tersebut. Adapun cinderamata ini berupa gelas, mug, jaket, topi kaos, pulpen atau buku notes yang ada logo stasiun televisi tersebut. Narasumber yang bersangkutan hanya diberikan salah satu dari barang-barang tersebut sebagai kenang-kenangan. Sementara pengadaan barang-barang cindera mata tersebut biasanya sudah masuk dalam anggaran promosi perusahaan media yang bersangkutan.

 ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *