Tentang Marschal dan Tiang Bendera di Perbatasan Negeri

Adalah Yohanis “Joni” Gama Marschal Lau, bocah kelas VII SMP Silawan yang viral di dunia maya selama 17 Agustusan ini. Bgitulah anak-anak, selalu spontan, mengejutkan bahkan mungkin mengkhawatirkan banyak orang. Bukan mau unjuk kebolehannya memanjat tiang bendera saat upacara 17-an kemarin, atau unjuk heroisme dan nasionalisme kebangsaan yang ia miliki.

Namun bocah ini hanya punya rasa kepedulian yang tinggi untuk menolong sesama tanpa mengenal umur. Baik itu menolong anggota paskibra yang sedang kebingungan karena tali benderanya tidak bekerja seperti yang diinginkan, menolong panitia upacara atas keteledoran tidak melakukan double check pada alat/perangkat upacara sebelum upacar dilaksanakan, serta menyelamatkan muka pejabat setempat dari sorotan media lokal maupun nasional karena insiden tiang bendera, serta masih banyak lagi.

Ibarat pertunjukan teater, apa pun yang terjadi the show must go on, spontanitas dan inisiatif si bocah asal Dusun Halimuti Desa Silawan Kec.Tatim, Belu, NTT, ini tentu saja diluar skenario sang sutradara upacara pengibaran Sang Merah Putih harus berjalan dengan sukses. Entah apa jadinya jika si bocah tidak melakukan aksi spontannya memanjat tiang bendera.

Banyak yang memuji aksinya ini, namun tidak sedikit juga yang mencibir karena pertimbangan faktor keselamatan. Reaksi pro dan kontra warga dunia maya ini pun tidak salah dan tidak juga benar karena semua sudut pandang sudah tentu ada alasannya.

Bersyukur spontanitas si Joni Marschal ini tidak berujung pada petaka karena tiang bendera tidak dirancang untuk dipanjat tanpa alat bantu. Aksi spontan ini berujung pada saweran beasiswa dari PLN dan juga organisasi relawan Jokowi, serta pengacara Hotman Paris.

Bagaimana pun juga, bocah ini telah memberikan pelajaran berharga tentang praktek nasionalisme, praktek atas rasa cinta tanah air dan bangsa. Semua dilakukan secara spontan, sederhana dan tanpa basa basi busuk sarat kepentingan seperti yang kerap dilakukan para elit politisi di Jakarta.
Obrigado Barak Marschal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *