Tas Akinak, Peluang Usaha Berbasis Ekonomi Kreatif di RoteNdao

Pagi ini ibu Itje Lutu, asal Nembrala, Pulau Rote memulai aktifitasnya; mengambil jarum rajut serta bola tali dari daun pohon gewang dan merajut helai benang tali untuk menjadi beragam tas dan pernak-pernik lainnya. Jemari tangannya yang telah keriput, masih lincah menari, mengaitkan helai demi helai tali benang dan merangkainya menjadi sebuah tas rajutan.

Benang tali ini dibuatnya sendiri dari lembaran janur daun pohon gewang atau “tulapolo” hingga tipis. Lembaran-lembaran tipis ini kemudian digulung dengan menggunakan kedua telapak tangan untuk menjadikannya tali benang. Proses menggulung lembaran janur menjadi tali benang ini disebut dengan istilah “tatali-tali”.

Setelah menjadi tali benang atau “akinak” ini kemudian digulung menjadi sebuah bola gulungan yang disebut “laleke tali”. Kemudian barulah dirajut menjadi menjadi sebuah tas gantung, tutup galon air mineral, topi, sarung botol dan maaih banyak lainnya.

Sebuah tas rajutan berukuran kecil, dijual dengan harga Rp.125 ribu. Tas yang seukuran sebuah buku bacaan dihargai dengan harga Rp.150 ribu. Sementara tas yang berukuran besar dan dapat menggantikan tas plastik belanjaan dihargai Rp.300 ribu.

Setiap tas yang dikerjakan selalu memiliki bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Tas karya ibu ini sudah sampai ke manca negara, tidak sedikit warga negara asing yang membelinya sebagai oleh-oleh bagi sanak dan saudara mereka.

Untuk meningkatkan daya saing usaha kerajinan tas daun gewang, diperlukan dukungan pengembangan desain yang lebih modern dan bervariasi. Pengrajin juga perlu diperkenalkan dengan metode pemasaran online untuk memperluas jangkauan pasar mereka.

Saya pribadi berkomitmen mendorong perkembangan usaha berbasis ekonomi kreatif di Rote.

#RoteTrip2019 #RoteAkinak #RoteKreatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *