Loko Sosonga, Cara Orang Nusak Termanu Menikmati Tembakau

Loko sosonga, terdiri dari dua suku kata Loko yang berarti “rokok” dan sosonga yang berarti janur dari pohon lontar.

Daun lontar muda di pa’a atau diserut hingga tipis. Lembaran tipis ini kemudian di- lunu atau digulung membungkus tembakau, yang di Jawa disebut lintingan.

Gulungan daun lontar ini kemudian diikat (kalfu’un) dengan menggunakan seutas tali dari daun lontar. Dan jadilah sudah loko sosonga siap diisap.

Jika tidak ada daun lontar, maka masyarakat Rote biasa menggunakan kulit jagung mirip dengan rokok klobot di Jawa. Di Rote, merokok dengan kulit jagung kering ini disebut poti mokdo pelanggonak. Biasanya yang digunakan untuk aktiftas merokok adalah kulit jagung lapisan ketiga, yang lebih muda dan lentur untuk digulung.

Di masa lalu, warga di Nusak Termanu, Pulau Rote menanam tembakau di pekarangan dan kebun rumah yang dekat dengan mata air. Agar tidak layu, maka setiap pagi dan sore, tanaman tembakau wajib disiram.

Di Rote, masa menanam tembakau dimulai dari bulan Maret, April dan Mei, Setelah tiga bulan. Daun yang dipetik pun adalah daun yang telah menguning. Daun kemudian digulung dan diiris dengan menggunakan papan kayu yang disebut aisesali atau papan iris. Papan iris ini bukan seperti papan iris pada umumnya dan memang dibuat khusus untuk merajang daun tembakau, dimana pada bagian tengahnya dilubangi. Adapun lubang ini fungsinya untuk memasukkan gulungan daun tembakau agar lebih mudah diiris.

#RoteHeritage #RoteTrip2019 #RoteSmoke #LokoSosonga #NusakTermanu #RoteIsland

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *