Kamis (3/9) berbagai kota di Indonesia melaporkan capaian angka tertinggi orang yang terinfeksi Covid19. Rekor kasus baru di Indonesia mencapai angka 3.622 kasus, sementara di Jakarta saja ada penambahan 1.359 kasus baru.

Makin tinggi data orang yang terinfeksi covid19, menunjukkan terbatasnya kemampuan negara dalam mengelola pandemi. Situasi ini tentu saja ditunjang sikap dan perilaku tidak disiplinnya warga negara terkait protokol kesehatan.

Bahwa negara dan warganya gagap covid19 adalah fakta ekopol karena sedari awal kasus Covid19 muncul di China, para elit negeri ini sudah abai dan meremehkan kemampuan covid menghajar siapa pun tanpa ampun.

Makin tinggi angka warga yang terinfeksi covid19, menunjukkan betapa lemahnya negara menghadapi pandemi,

Sejak diterapkannya kebijakan kenormalan baru atau New Normal, sikap abai masyarakat makin menjadi. Di sudut-sudut Jakarta misalnya, di jalan-jalan tampak masyarakat beraktifitas seperti biasa saja, sudah ramai dan tampak seperti keadaan normal sebelum pandemi terjadi. Masyarakat sudah tidak begitu takut dengan covid ini. Social Distancing tidak dipatuhi dengan baik. Nongkrong dan berkumpul, jadi sepertinya sudah bisa hidup berdampingan dengan covid.
Kalau mau ya tegas, berlakukan PSBB lagi.

Apalagi dengan temuan adanya mutasi virus lokal baru seperti yang terjadi di Surabaya.

Corona yang bermutasi sudah lama diumumkan di China. Asumsinya, jika ada varian lokal baru, maka mau tidak mau harus ada varian lokal vaksin anti-covid19 atau cukup hanya dengan satu jenis vaksin saja?.

Para ahli bio-molekuler Rusia, China, AS dan negara-negara maju lainnya tengah berlomba meneliti dan menemukan vaksin anti-covid. Entah bagaimana dengan para pakar di Indonesia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *