Kata “Guru” diserap dari bahasa Sansekerta, yang secara etimilogi terdiri dari 2 suku kata “Gu” dan “Ru”. Kata “Gu” berarti “kegelapan” dan kata “Ru” artinya “menghilangkan”, yang jika diterjemahkan secara bebas dapat diartikan sebagai “seseorang yang menuntun kita berjalan dari kegelapan menuju pada cahaya terang”. Menuntun dari ketidaktahuan menuju pengetahuan.

Di India, seorang “guru” dianggap memiliki kemampuan yang lebih daripada manusia lainnya. Di masa Kerajaan Mataram Islam di Jawa, kata “Guru” kemudian diakronimkan menjadi seseorang yang “diguGu lan ditiRu”, yang jika diterjemahkan secara bebas berarti “sosok yang perilakunya dihormati,dianggap, didengar dan ditiru”.

Di satu sisi secara moralitas, definisi Guru sangatlah berat. Mengingat ia harus menjadi seseorang yang dianggap, dihormati dan didengar orang lain untuk kemudian ia dapat menuntun orang lain berjalan dari kegelapan (ketidaktahuan) menuju cahaya terang (pengetahuan). Artinya seorang guru adalah seorang yang memiliki pengetahuan menuju kebajikan hidup, agar manusia yang dituntunnya menjadi lebih sempurna dalam menjalani kehidupannya.

Sementara di sisi lain, guru adalah manusia biasa, sama seperti manusia lainnya yang menjalani kehidupannya dengan beberapa kebutuhan biologis, seperti makan, minum dan seks. Karena masih manusia biasa tidak jarang seorang guru tidak memahami arti kata “guru” itu sendiri.

Selama hidupnya, Yesus disebut guru, banyak hal yang IA ajarkan dan menjadi teladan bagi kita semua. Itu sebabnya murid-murid Yesus kemudian menulis hal-hal bijak dalam ayat “Roh itu penurut tapi daging lemah”. Di ayat yang lain ada juga kalimat “jangan menghakimi, karena ukuran yang kau pakai akan juga diukurkan kepadamu”.

Dalam arti sempit guru adalah profesi. Tapi dalam arti luas guru bukan hanya sekedar julukan profesi bagi para pendidik dan pengajar. Sering kita tidak sadar bahwa setiap manusia adalah guru bagi manusia lainnya. Orang Tua memberikan teladan kepada anaknya, tokoh adat memberikan tuntunan kepada warga adatnya, tokoh masyarakat memberikan tuntunan kepada warganya. Semua orang adalah guru bagi orang lain.

Pertanyaannya, siapkah kita semua menerima penghakiman dan perundungan yang dilakukan manusia lainnya?, mari bercermin karena setiap penghakiman yang kita berikan untuk manusia lainnya akan juga diberlakukan kepada kita. Mari serahkan semua itu pada sistem dan regulasi yang mengaturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *