ZONAJAKARTA.com – Kapal selam asal Prancis diketahui menjelajahi China Selatan Laut China Selatan sebelum KRI Nanggala-402 dinyatakan menghilang pada Rabu, 21 April 2021.

Prancis dengan bangganya mengumumkan bahwa kapal selam miliknya berhasil kembali dengan selamat usai menjelajahi China Selatan Laut China Selatan yang saat itu tengah mengalami konflik.

Seperti yang diketahui, baru-baru ini Filipina digegerkan dengan kedatangan kapal-kapal milik China yang menduduki perairan China Selatan Laut China Selatan

Menurut Filipina, China telah melanggar hak maritim yang telah diputuskan oleh pengadilan internasional mengenai klaimnya terhadap wilayah China Selatan Laut China Selatan.

Filipina, bersama Brunei, Malaysia, Taiwan, dan Vietnam diketahui telah menentang klaim China tersebut berpuluh-puluh tahun.

Namun, tampaknya China tak dapat menerima kenyataan itu karena kini, Negeri Tirai Bambu itu kembali mengklaim 90% wilayah China Selatan Laut China Selatan dan membuat negara-negara Asia Tenggara khawatir

Persoalan ini tak luput dari perhatian Amerika Serikat sebagai negara adi daya di dunia ini. Amerika Serikat yang merupakan “sekutu” dari negara Jepang, Malaysia, Korea Selatan, Australia, dan India pun tak tinggal diam.

Negara pimpinan Joe Biden itu menegaskan bahwa ia akan menjaga keamanan dan stabilitas kawasan Indo-Pasifik, termasuk kepada China Selatan Laut China Selatan.

Prancis yang “berteman” dengan AS pun mengikuti langkah AS dengan mengirimkan kapal perang ke China Selatan Laut ChinaSelatan.

Momentum ini rupanya dimanfaatkan Prancis untuk mengeluarkan kapal selam canggihnya dan ikut menjelajahi China Selatan Laut China Selatan.

Prancis melakukan “unjuk kekuatan” di tengah ketegangan konflik China Selatan Laut ChinaSelatan dengan melakukan misi ke LCS menggunakan kapal selam dengan serangan nuklir yang bernama SNA Emeraude.

Dilansir Zonajakarta.com dari akun instagram @banjarnahor, Joshua Banjarnahor, yakni seorang Analisis Pencarian dan Pertolongan Tim SAR Nasional, misi kapal selam SNA Emeraude dilakukan selama 7 bulan dan dilakukan dengan diam-diam.

Misi dilakukan selama 7 bulan dan kapten kapal selam Prancis Antoine Delaveu mengatakan bahwa kapal selamnya berhasil beroperasi sebagian tanpa terdeteksi semua dilakukan dengan diam-diam,” kata Joshua Banjarnahor.

Hal ini juga dilaporkan oleh Naval News yang mengatakan dua kapal selam Prancis berlayar ke Filipina melalui China Selatan Laut ChinaSelatan dengan melintas melalui Selat Sunda.

The “Marianne” mission took the two vessels to the Philippine Sea via the South China Sea, Australia, and the U.S. base on Guam Island where the two ships carried out a crew change,” sebagaimana yang telah dikutip Zonajakarta.com dari keterangan tertulis di Naval News.

Joshua Banjarnahor menambahkan bahwa Kapten Kapal SNA Emeraude pun mengatakan bahwa kapal selamnya telah muncul ke permukaan, dimana sebelumnya bergerak melalui Selat Sunda antara Jawa dan Sumatera. Dia juga mengatakan bahwa misi kapal selam Prancis ini adalah misi diam-diam.

Itu yang kita ketahui, melalui siaran pers Menteri Pertahanan Prancis, Florence Parly lalu yang tidak diketahui masyarakat umum pastinya lebih banyak lagi karena ini adalah silent mission,” jelasnya.

Fakta ini pun memupuk banyak kemungkinan yang terasa ganjil, sebab tak lama dari berita tersebut diketahui publik, KRI Nanggala-402 dinyatakan putus kontak usai baru saja meminta izin menyelam di Perairan Utara Laut Bali.

Dan setelah Emeraude menyatakan berhasil menjalankan misinya, lalu muncul berita KAPAL SELAM TNI AL HILANG KONTAK DI PERAIRAN BALI,” terang Joshua.

Tidak hanya itu Master of Defens Kementerian Pertahanan tersebut pun mengungkapkan pendapatnya bahwa pertahanan Republik Indonesia masih sangat lemah.

Hal ini bisa dilihat dari keberhasilan Prancis melintasi wilayah Selat Sunda secara diam-diam dan tak dapat terdeteksi oleh negara kita Indonesia.

Saat udah tau kapal selam Emeraude masuk perairan Indonesia, dalam hati saya bicara, betapa lemahnya sistem pertahanan keamanan negara kita Indonesia. Jika kapal selam Prancis itu melakukan sabotase atau penyerangan pada obyek vital negara kita, habis sudahlah kita!” ungkapnya.

Indonesia, negara kita yang merupakan Negara Maritim ini memang memiliki posisi letak yang sangat strategis.

Perairan Indonesia yang menjadi lintasan banyak kapal dari berbagai negara itu diketahui memang merampungkan banyak keuntungan.

Belum lagi, perairan Indonesia yang luas juga memiliki sumber daya alam yang sangat amat banyak dan berharga.

Ditambah pula, negara adi daya di dunia ini mulai menunjukkan banyak kekuatannya dan beradu satu sama lain.

Kita harus tau posisi wilayah kelautan Indonesia itu sangat strategis, terlebih pada saat mulainya Perang Cuan 2020 antara China+ supporternya versus Amerika dan jaringannya,” pungkas Joshua Banjarnahor. (ZJ)

Membaca berita di atas benar-benar mengganggu nalar berpikir. Bagi saya berita di atas tadi adalah contoh (maaf) “berita sampah”, dimana media online mengutip seseorang yang katanya “pengamat”. Entah sedang mencari sensasi dalam musibah tragedi KRI Nanggala 402, atau pengetahuan dari pengamat dan wartawan penulis berita ini memang dangkal dan tidak paham apa yang mereka sampaikan dan tulis.

Sedikitnya ada tiga hal yang ingin saya sampaikan terkait berita ini:

PERTAMA, Selat Sunda adalah bagian dari ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia), dimana kapal-kapal internasional baik itu kapal niaga, kapal wisata mau pun kapal perang (permukaan dan selam) wajib melewati Selat Sunda, sesuai titik koordinat yang telah ditentukan dan diatur oleh Hukum Laut Internasional. Indonesia memiliki setidaknya 3 ALKI yang kerap dilalui oleh kapal-kapal niaga dan militer Internasional.

KEDUA, Jika kapal selam beroperasi diam-diam, itu adalah hal yang wajar, karena kapal selam adalah bagian dari senjata strategis dan semua pergerakannya selalu bersifat rahasia di semua negara di dunia. Nyaris tidak ada kapal selam militer yang beroperasi secara terbuka, kecuali jika ada kegiatan latihan bersama antar angkatan laut negara sahabat.

KETIGA, ini persoalan dalam KEBIJAKAN MEDIA (sidang redaksi), dimana dalam berita tersebut seolah-olah terjadinya musibah tragedi KRI Nanggala 402 dikait-kaitkan dengan kehadiran kapal selam Prancis di Selat Sunda, yang beroperasi secara diam-diam. Dalam hemat saya, ini sangat fatal karena wartawan dan editor berita memasukan opini pribadinya ke dalam berita. Padahal sama sekali TIDAK ADA BUKTI rekam jejak kehadiran kapal selam Prancis di lokasi musibah KRI Nanggala 402 yang terjadi di laut utara Bali pada 21 April 2021 kemarin. Apalagi letak geografis Selat Sunda dan laut utara Bali berjarak lebih dari 250 mil laut.

Dalam konteks politik internasional pun berita sampah seperti ini tentu sangat mengganggu kenyamanan hubungan diplomatik Indonesia – Prancis yang saat ini sangat baik. Apalagi Indonesia dalam hal ini Kementrian Pertahanan yang digawangi Prabowo Subianto sedang menjajaki pembelian alutsista produksi Prancis, baik itu pesawat tempur dan juga kapal selam untuk memperkuat arsenal TNI AU dan TNI AL.

https://zonajakarta.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-181825119/sebelum-kri-nanggala-402-menghilang-kapal-selam-prancis-diketahui-menjelajahi-selat-sunda-secara-diam-diam?page=3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *