Apa masalah kebebasan pers kita dekade ini? Salah satunya adalah ketidakpahaman Menteri Kominfo RI, dan jajaran di bawahnya tentang tugas pokok pers itu sendiri.

Baik menteri dan jajaran di bawahnya tidak memahami kerja dan posisi pers dalam ranah politik. Elit kementrian ini, pada februari 2021 lalu mengeluarkan daftar nama media yang dituding berpihak pada pemberontak Papua Merdeka. Ada pun daftar ini kemudian disebarluaskan media dan salah satunya adalah media sinarpantura.com.

Jika daftar edaran ini benar adanya dan bukan disinformasi yang sengaja dilontarkan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan atas peran media di Papua. Maka ada beberapa nama media yang masuk dalam daftar merah kementrian Kominfo, adalah: suarapapua.com (yang dikelola Mepa Arnold Belau), tabloid jubi.co.id (yang dikelola Bung Victor Mambor), voaindonesia.com, gatra.com, bbc.com dan masih banyak lainnya.

Tudingan secara sembarangan ini, tentu saja jauh dari semangat demokrasi dan juga kebebasan pers. Menteri kominfo seharusnya paham bahwa pers adalah salah satu dari empat pilar demokrasi. Pers juga tidak boleh berpihak pada pihak-pihak yang sedang berkonflik seperti yang saat ini terjadi di Papua, antara TNI-Polri vs TPNPB, KNPB, OPM.

Dengan memosisikan media-media tersebut diatas sebagai media pendukung OPM, ditambah lagi stempel “teroris” yang diberikan pemerintah RI pasca gugurnya Kabinda Papua Brigjen Danny N, pekan lalu semakin menyudutkan posisi media-media yang netral dan bekerja secara profesional berdasarkan Kode Etik Jurnalistik menjadi media-media pendukung kelompok teroris.

Kominfo seharusnya tidak melalukan pemosisian media seperti ini, jika kementrian kominfo memahami tugas fungsi atau tugas pokok media itu sendiri.

Saran saya untuk Menteri Kominfo, bacalah buku “9 Elemen Journalist” karya Bill Kovach, agar anda paham apa itu media dan agar jajaran anda tidak mengeluarkan edaran sembarangan.

Pendek kata pada tanggal 3 Mei ini, saya mengucapkan “Selamat Hari Kebebasan Pers se-Dunia”, khususnya untuk media dan jurnalis yang masih setia berjalan pada rel Kode Etik Jurnalistik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *