Malam ini, hampir setiap 20 menit hingga 1 jam, suara sirine ambulan terdengar di udara. Saya ada di depan UGD salah satu rumah sakit di Semarang, ada kenalan yang sore tadi meninggal setelah beberapa hari dirawat karena covid19.

Sejak semalam, kondisinya kritis dan alat bantu pernafasan pun harus antri. Mau pindah ke rumah sakit lain? Tidak mungkin karena situasinya sama karena membludaknya pasien. Mungkin akibat paparan virus mutasi “Delta” yang konon diduga berasal dari India. Virus Delta yang marak di Kudus sejak dua pekan lalu, bisa jadi sudah menyebar ke Semarang, warga yang lengah dengan prokes pun tidak sedikit yang terpapar.

Baru saja ambulan salah satu partai merapat ke gerbang UGD, dokter jaga pun keluar, menyatakan tidak ada tempat dan ruang lagi.

Petugas ambulan medis bersikukuh agar dokter mau menerima pasien non-covid yang mereka bawa. “.. tolonglah, kami sudah ke RST (rumah sakit tentara), sudah ke Karyadi dan disini masa ditolak juga,” ujar petugas medis berompi hitam tanpa APD. Orangnya bertubuh kecil, tapi suaranya terdengar keras dan jelas. Saya maklum, mungkin karena dia dan timnya sudah lelah membawa pasien dari satu UGD ke UGD lainnya.

Dokter jaga dengan santun tetap menolak, menyarankan dibawa ke RS Elisabeth, sembari memberi tawaran atau jika tetap memaksa silahkan pasien tetap ada di dalam ambulan, dan ambulan harus stand-by di depan UGD. Karena UGD sendiri sudah kewalahan menangani pasien.

Dua meter di depan saya ada lelaki, bertubuh tinggi, berkaos hitam, kerabat pasien, menyatakan dirinya baru saja datang dari RS Elisabeth, dan disana pun penuh, makanya ia membawa kerabatnya ke rumah sakit ini, beruntung masih ada satu tempat lagi. Rupanya, ia kerabat pasien terakhir yang bisa diterima UGD RSU William Booth, milik Yayasan Pelayanan Kesehatan Bala Keselamatan, yang juga dikenal sebagai rumah sakit mata tertua di Semarang.

Ambulan partai ini pun menutup pintu belakang, perempuan keluarga pasien pun bergegas masuk ke dalam mobil kecil itu, melalui pintu samping, diikuti petugas medis berompi hitam tadi. Sopir memutar mobil, menghidupkan sirine dan kembali memacu ambulan entah kemana..

Hormat saya untuk semua tenaga medis, dokter, perawat, petugas medis di ambulan, pasien dan para keluarganya. Semoga para petugas medis dimana pun berada selalu dikuatkan dan disehatkan jiwa raganya, agar tetap dapat melayani rakyat walau dalam kondisi yang terbatas.

Saya mengajak seluruh elemen rakyat untuk selalu menjadi prokes sebagai siasat perang melawan covid19. Nomor satu adalah terapkan prokes dalam kehidupan sehari-hari dan nomor dua jangan pernah lengah dan menganggap remeh prokes di saat pandemi seperti sekarang ini.

Dengan catatan ini pula, saya ingin mengajak pemerintah dan para penentu kebijakan publik lainnya di berbagai posisi agar secepatnya “set back” belajar mengantisipasi sebuah persoalan. Jangan pernah sombong dan meremehkan persoalan, sekecil apapun persoalan itu. Doa qunut seperti yang pernah disampaikan Wapres RI saat awal pendemi saja tidak cukup, lantunan doa harus disertai dengan disiplin diri. Dengan mengantisipasi maka kita semua dapat meminimalisir persoalan-persoalan yang akan terjadi.

#IndonesiaCovid19 #IndonesiaCovid2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *